Lazismu Pusat Hadirkan Buku Fikih Gen-Z, Menjembatani Pengetahuan Agama dan Realitas Anak Muda
SEMARANG, Suara Muhammadiyah - Dalam rangkaian Muhammadiyah Zakat Summit 2026, Lazismu Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama Gerakan Islam Cinta melaunching buku karya Ayi Yunus Rusyana berjudul "Fikih Gen-Z", Kamis (5/11) di Masjid at-Taqwa Kampus Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) Kedungmundu, Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah.
Wakil Rektor III Unimus Eny Wanaryati sangat senang dengan dilaunchingnya buku tersebut. "Judulnya sangat bagus," ucapnya singkat.
Buku ini, kata dia, mengandung banyak khazanah pengetahuan yang laik diselami oleh kalangan Gen-Z. Karena itu, ia mengajak untuk membacanya lebih lanjut.
"Alhamdulillah pagi hari ini pencerahan yang kita dapatkan, mudah-mudahan (buku ini) memberikan kenikmatan ilmu yang bisa memantau khazanah kehidupan kita dan bisa meningkatkan kualitas keimanan ketakwaan kita," tuturnya.
Sisi lain, Ketua Badan Pengurus Lazismu Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahmad Imam Mujaddid Rais menyebut, pembahasan mengenai topik Gen Z menjadi sangat penting.
Di era sekarang, ujarnya, ketika gadget sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, Gen Z semakin mudah berkonsultasi. M
"Mau bertanya apa pun bisa, betul? Meskipun kita menggunakan AI, kita tetap harus bertanya kepada ulama, alim, atau ustaz yang memahami latar belakang keilmuan dan hukum keagamaan," tuturnya.
Kenapa demikian? AI tetaplah mesin. Jawaban yang dihasilkan bergantung pada siapa yang menciptakan dan bagaimana sistem tersebut dibangun.
"Oleh karena itu, untuk pertanyaan-pertanyaan fikih, saya kira kehadiran buku ini sangat penting," bebernya.
Kehadiran buku karya Dewan Pengawas Syariah Lazismu Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini menjadi introduction untuk mengenalkan beberapa persoalan fikih, terutama topik-topik yang paling banyak dihadapi oleh Gen-Z.
"Dengan adanya buku Fikih Gen-Z ini, mudah-mudahan dapat menjadi panduan dalam menjalankan berbagai amal ibadah berdasarkan Al-Qur'an dan sunah Rasulullah SAW," katanya.
Lebih dari itu, Rais menambahkan, karakteristik Gen-Z kerap dipandang kalau Gen Z terkadang mendapatkan stigma negatif. Ada anggapan bahwa generasi ini cenderung individualistis dan asosial. Padahal, Gen Z termasuk generasi yang memiliki kepedulian tinggi terhadap persoalan kemanusiaan.
"Mereka mau berdonasi dan berbagi, meskipun kepedulian tersebut sering kali muncul ketika mereka dapat melihat secara langsung dampak atau kenyataan dari persoalan yang terjadi, jelasnya.
Rais berharap, buku ini bisa disebarluaskan kepada para Gen-Z, lebih khususnya lagi dibaca dan diejawantahkan ke dalam kehidupan.
"Mudah-mudahan buku ini juga menjadi pintu untuk memudahkan teman-teman agagr bersama-sama saling berbagi kepada sesama," tekannya. (Cris)