Madrasah di Tepi Sawah

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
60
Ilustrasi

Ilustrasi

Madrasah di Tepi Sawah

Oleh: Babay Parid Wazdi, Kader Muhammadiyah, Aktifis IPM 1988 - 1991

Kambing kami pernah lepas di tengah pelajaran mengaji. Tali tambatan di halaman madrasah putus, dan seekor kambing kecil berlari ke pematang sawah. Aku berdiri, keluar kelas, mengejarnya, lalu kembali duduk bersila, membuka Iqra’, seolah tak terjadi apa-apa. Tak ada teguran. Tak ada amarah. Di madrasah kami, hidup dan pelajaran berjalan berdampingan, tanpa sekat yang kaku.

Madrasah itu berdiri di tepi hamparan sawah yang hijau, sejauh mata memandang. Sawah-sawah itu seperti permadani Tuhan yang digelar tanpa ujung. Di pematangnya tumbuh rumput subur makanan kambing kami, sekaligus arena bermain anak-anak. Jika lonceng sepeda ontel Pak Ustad terdengar berdenting dari kejauhan, kami bergegas masuk kelas, berhenti dari main bola, lompat tali, atau kejar-kejaran. Sekolah bukan tempat beban, melainkan perpanjangan dari kehidupan sehari-hari: bebas, riuh, dan penuh tawa.

Bangunan madrasah kami sederhana. Sebagian jendelanya rusak, bangku-bangkunya seadanya. Papan tulis hanya papan triplek yang dicat hitam, warnanya telah lama memudar. Tapi justru di ruang sederhana itulah pelajaran-pelajaran paling berharga dalam hidupku ditanamkan.

Guru kami bernama Ustad Sanusi, dibantu istrinya, Ibu Sarah. Kadang anak sulung mereka ikut mengajar, kami memanggilnya Mang Enjen. Mereka datang ke madrasah dengan sepeda ontel. Jarak rumah Pak Ustad ke sekolah sekitar sepuluh kilometer, sementara kami hanya satu kilometer. Tak pernah sekali pun aku mendengar keluhan dari beliau. Sepeda itu tetap dikayuh, hujan atau panas, seolah mengajar adalah bagian dari ibadah yang tak perlu diributkan.

Madrasah itu didirikan sekitar tahun 1970-an. Ketika aku berkunjung kembali tiga tahun lalu, hampir tak ada yang berubah. Tiang-tiangnya masih sama. Ruang kelasnya masih sama. Seolah waktu enggan menyentuh tempat itu atau justru nilai-nilai di dalamnya terlalu kuat untuk lapuk.

Di madrasah tepi sawah itu kami belajar mengaji, membaca dan menulis Al-Qur’an, bacaan salat, doa-doa, dasar-dasar bahasa Arab, dan tafsir sederhana. Semua diajarkan tanpa tekanan. Jam pelajaran hanya satu setengah hingga tiga jam. Selebihnya, kami bermain, menggembala kambing, atau berlarian di sawah. Jika kambing lepas, kami boleh keluar kelas untuk mengejarnya. Sekolah menyesuaikan diri dengan kehidupan, bukan sebaliknya.

Tak ada mata pelajaran antikorupsi di sana. Tak ada modul etika. Yang ada hanya pelajaran kecil yang diulang setiap hari. Ketika ada makanan, kami diminta berbagi. Ketika lapar, kami diingatkan satu kalimat sederhana: “Berhentilah makan sebelum kenyang.” Kalimat itu tinggal lama di kepalaku lebih lama daripada hafalan doa mana pun.

Kami hidup mandiri. Jika lapar, kami membakar ubi di halaman madrasah, menikmatinya bersama. Lauknya kadang belalang bakar yang kami tangkap di sawah, atau ikan betik, ikan sepat, udang kecil yang kami pancing. Sesekali kami menangkap burung puyuh atau burung bondol. Semua dibagi. Tak ada yang merasa paling berhak.

Pelajaran tentang tidak rakus, tidak tamak, dan hidup secukupnya ditanamkan tanpa ceramah panjang. Korupsi kata yang baru kukenal bertahun-tahun kemudian di sana sudah dicegah dengan cara paling sederhana: tahu batas. Tahu kapan harus berhenti.

Ketika aku bekerja di bank puluhan tahun kemudian, godaan itu datang dalam bentuk yang berbeda. Bukan ubi bakar, melainkan amplop. Setiap kali itu terjadi, ingatanku selalu kembali ke madrasah di tepi sawah dan kalimat tentang kenyang. Dengan gaji yang cukup, menerima lebih berarti melampaui batas. Dan melampaui batas, sejak kecil kami diajarkan, adalah dosa.

Nilai kesederhanaan itu menemaniku hingga aku menduduki jabatan-jabatan puncak. Aku tak merasa perlu mobil mewah. Aku cukup menggunakan kendaraan dinas lama yang tersedia. Aku tak rewel soal sambutan atau fasilitas. Jabatan, bagiku, bukan alasan untuk mengubah cara hidup.

Madrasah itu juga mengajarkanku empati. Berbagi makanan melatih kepekaan. Mendengarkan teman yang kehilangan kambing melatih kesabaran. Nilai-nilai kecil itu tumbuh bersamaku hingga aku memimpin. Pintu ruang kerjaku tak pernah tertutup. Siapa pun boleh masuk dari office boy hingga kepala divisi. Semua penting, dengan perannya masing-masing. Kebersihan, kenyamanan, dan kelancaran kerja ditopang oleh tangan-tangan yang sering tak terlihat.

Sepulang magrib, kadang aku memanggil beberapa staf hanya untuk bertanya kabar keluarga mereka. Obrolan sederhana, tapi wajah-wajah itu berseri. Barangkali karena merasa dilihat sebagai manusia, bukan sekadar bawahan. Seperti dulu kami dilihat Pak Ustad anak-anak kampung dengan dunia kecil yang dihargai sepenuhnya.

Madrasah di tepi sawah itu juga mengajarkanku berbagi dalam arti paling konkret. Berbagi ubi, berbagi ikan, berbagi belalang bakar. Bertahun-tahun kemudian, aku mencoba membalasnya dengan cara yang kutahu: membantu guru-guru madrasah, menggaji mereka sebisaku. Aku bahkan menyusun gagasan dan formula agar negara memperhatikan jutaan guru madrasah. Gagasan itu sempat kusampaikan, meski belum sempat terwujud sepenuhnya.

Kini aku menulis dari Salemba.

Madrasah di tepi sawah itu masih berdiri, dengan papan tulis yang sama dan rumput yang tetap hijau. Aku hanya berharap, nilai-nilai kecil yang tumbuh di sana tentang berbagi, tentang cukup, tentang empati masih dicatat Tuhan, ketika keadilan manusia terasa jauh. Aku percaya, pertolongan Allah Swt itu selalu dekat.

Salemba, 9 Oktober 2025

Penulis adalah Direksi Bank DKI (2018 sd 2022) & Dirut Bank Sumut (2023 sd 2025). Esay ini di ketik ulang dari tulisan tangan ayahku yang berada di rutan Salemba & Esay ini bagian dari Manifesto Tawasul Sang Burung Pipit (The Bright Way to Freedom and Faith), salam Ahmad Raihan Hakim (Alumni SMA Muh 3 Jkt 2018)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Menara Gading yang Terlalu Tinggi Ketika Intelektual Menjauh dari Rakyat Oleh: Figur Ahmad Brillian....

Suara Muhammadiyah

30 April 2025

Wawasan

Kisah Yusuf as: Kritik Kepakaran dan Paceklik Masa Kini Oleh: Al-Faiz MR Tarman, M.Ag/Dosen Univers....

Suara Muhammadiyah

22 March 2025

Wawasan

Menara GKBI: Menyambut Hari Koperasi Nasional Oleh: Khafid Sirotudin, Ketua LP UMKM PWM Jateng Seb....

Suara Muhammadiyah

14 July 2025

Wawasan

Kurikulum Holistik: Pendidikan Masa Depan Berkelanjutan Rizal Arizaldy Ramly, Mahasiswa Univer....

Suara Muhammadiyah

13 December 2023

Wawasan

 Spirit Mengaji untuk Pencerahan Hati  Oleh: Mohammad Fakhrudin Ada fenomena sangat ....

Suara Muhammadiyah

30 March 2024