Mahasantri Berkemajuan, Kader Arsitek Peradaban

Foto Istimewa
Foto Istimewa

Dalam Pengajian Online dan Launching Website ASLAMA, Direktur Ma'had Al Imam Malik UMP memaparkan tujuh pilar worldview Islam sebagai penangkal enam ancaman eksistensial era global.

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah – Mahasantri di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah-'Aisyiyah (PTMA) diminta tidak berhenti pada penguasaan ilmu, tetapi juga memiliki cara pandang Islam (worldview) yang kokoh agar tidak larut dalam arus sekularisasi, disrupsi digital, dan krisis global. Pesan itu disampaikan H. Muhammad Asdi Nurkholis, S.Pd.I., B.Ed., M.Pd. dalam Pengajian Online sekaligus Launching Website ASLAMA, Sabtu (31/10/2026), bertema "Menjadi Mahasantri Berkemajuan: Membangun Worldview Islam untuk Menghadapi Tantangan Global".

Kegiatan yang digelar Pengurus Asosiasi Pengelola Asrama (ASLAMA) PTMA bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Banyumas, Jawa Tengah, itu berlangsung secara daring melalui Zoom mulai pukul 08.30 WIB, dengan 280 peserta asrama, pesantren mahasiswa, dan ma’had Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) seluruh Indonesia bergabung di ruang Zoom, di antaranya pengelola, mudir dan penghuni asrama serta ma'had, seperti Asrama KH Abu Dardiri, Asrama UMP, dan Ma'had Al-Birr.

Sambutan disampaikan Ketua Asosiasi Pengelola Asrama PTMA Dra. Muamarah, M.Hum., Ph.D., dan Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK) UMP Drs. Ikhsan Mujahid, M.Si. Kegiatan dipandu Irfatul Hidayah, M.Ag., MA., Kepala Asrama Unisa Yogyakarta. Asdi hadir sebagai narasumber dalam kapasitasnya sebagai Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) UMP sekaligus Direktur Ma'had Al Imam Malik UMP.

Asdi menempatkan mahasantri sebagai mahasiswa yang sekaligus menjalani pendidikan ma'had. Di satu sisi mereka mewarisi khazanah keilmuan Islam, di sisi lain mereka belajar disiplin ilmu modern. Pada irisan keduanya, mahasantri menjadi jembatan hidup antara kedalaman turats dan ketajaman sains modern.

Posisi itu, katanya, selaras dengan Islam Berkemajuan yang dirumuskan Muhammadiyah: Islam sebagai pencerahan dan kemajuan peradaban yang berakar pada tauhid dan berorientasi pada rahmat bagi semesta (Muhammadiyah, 2010; 2022).

Dalam paparannya, Asdi menegaskan bahwa kewajiban menuntut ilmu bukan gagasan pinggiran, melainkan mandat ilahi yang berakar pada Al-Qur'an. Ia merujuk lima ayat beserta penjelasan para mufasir:

QS Al-'Alaq: 1 – tauhid sebagai awal. Perintah membaca disertai menyebut nama Tuhan, sehingga ilmu tidak pernah lepas dari poros ketuhanan. Al-Jazairi dalam Aysar al-Tafasir mengaitkannya dengan karunia Allah yang mengajarkan manusia apa yang belum diketahuinya, antara lain lewat tulisan.

QS Al-Mujadilah: 11 – derajat yang mengangkat manusia. Iman dan ilmu adalah pasangan yang tak terpisahkan. Menurut Ibnu Sa'di dalam Taysir al-Karim, Allah meninggikan derajat ahli ilmu dan iman sesuai keistimewaan yang Dia berikan kepada mereka.

QS At-Taubah: 122 – tanggung jawab sosial. Tafaqquh fid-din (memperdalam agama) dilakukan untuk kembali dan mencerahkan kaumnya. Ibnu 'Asyur dalam At-Tahrir wa at-Tanwir mencatat bahwa setiap bimbingan kepada kebaikan memuat peringatan dari lawannya.

QS Al-Baqarah: 143 – keseimbangan moderat. Umat pertengahan (wasath) menjadi saksi yang adil dan seimbang. Al-Qurthubi dalam Al-Jami' memaknai wasath sebagai keadilan, yakni yang terbaik di antara berbagai perkara.

QS Ar-Ra'd: 11 dan HR Muslim 2699 – agen perubahan. Perubahan nasib kaum dimulai dari diri sendiri, dan pencarian ilmu adalah jalan pintas menuju surga. Asy-Syinqithi dalam Adhwa' al-Bayan menjelaskan bahwa Allah tidak mengubah nikmat dan kesehatan suatu kaum hingga mereka mengubah ketaatan mereka.

Asdi menegaskan kembali bahwa dalam memetakan enam ancaman eksistensial yang dihadapi generasi muda Muslim pada era global:

Sekularisasi. Relativisme nilai membuat iman direduksi menjadi sekadar satu opsi gaya hidup di antara banyak pilihan (al-Attas; Taylor, 2007).

Disrupsi digital dan AI. Era pasca-kebenaran, ketika hoaks dan berita palsu menyebar jauh lebih cepat daripada fakta objektif (Vosoughi dkk., 2018).

Krisis iklim. Pemanasan global akibat eksploitasi oleh aktivitas manusia yang melupakan peran kekhalifahan (IPCC AR6, 2023).

Polarisasi. Maraknya Islamofobia dan ekstremisme yang mengoyak tenun sosial dan mengabaikan prinsip ta'aruf.

Materialisme. Tujuan ilmu direduksi: pendidikan dikejar demi status sosial dan akumulasi kapital sehingga memicu krisis makna.

Dikotomi ilmu. Keterbelahan epistemologis yang fatal antara "ilmu agama" dan "ilmu umum" (Kuntowijoyo, 2004).

Menurut Asdi, derasnya arus informasi dan sains modern bisa menghasilkan dua kemungkinan. Jika diserap tanpa worldview, ilmu terserap mentah dan identitas keislaman berhenti sebatas simbol dan ritual kosong. Jika melewati prisma worldview Islam, ilmu difilter, diintegrasikan, dan diarahkan untuk kemaslahatan nyata.

Ia menegaskan, tanpa worldview yang kokoh, seorang mahasantri hanya menjadi konsumen pasif dari peradaban lain, bukan arsitek peradabannya sendiri.

Mengikuti rumusan Syed Muhammad Naquib al-Attas (1995), Asdi mendefinisikan worldview Islam sebagai ru'yat al-Islam li al-wujud, yakni pandangan komprehensif Islam tentang hakikat realitas dan kebenaran semesta. Cakupannya meliputi tujuh unsur: konsep Tuhan (tauhid), hakikat wahyu sebagai otoritas kebenaran, alam semesta (kosmologi), kedudukan manusia (antropologi Islam), epistemologi ilmu, sistem nilai (aksiologi), dan orientasi akhirat (eskatologi).

Tujuh Pilar Worldview

Dari kerangka itu, Asdi menurunkan tujuh pilar yang ia bagi menjadi dua kelompok. Tiga pilar pertama merupakan fondasi teologis:

Tauhid sebagai poros. Seluruh denyut aktivitas akademik dan kehidupan adalah bentuk penghambaan mutlak kepada Allah. Tidak ada ruang netral yang bebas nilai.

Harmoni wahyu dan akal. Ayat qauliyah (teks suci) dan ayat kauniyah (hukum alam) berasal dari Sumber yang sama dan tidak akan pernah bertentangan.

Dialektika hamba dan khalifah. Manusia membawa martabat tinggi sekaligus memikul tanggung jawab berat untuk memakmurkan bumi, bukan mengeksploitasinya.

Empat pilar berikutnya berkaitan dengan penerapan akademik dan sosial:

Adab sebelum ilmu. Ta'dib adalah inti pendidikan sejati, yaitu kedisiplinan akal, jiwa, dan raga yang menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang hakiki (al-Attas, 1980).

Integrasi ilmu. Ilmu syar'i dan disiplin modern disatukan dalam satu arus tujuan penciptaan untuk meruntuhkan dinding dikotomi sekuler.

Wasathiyyah dan rahmatan lil 'alamin. Sikap moderat, adil, dan proaktif menebar kemaslahatan bagi seluruh entitas kehidupan.

Amal dan kontribusi. Puncak ilmu adalah tindakan nyata; ilmu hanya bernilai jika bermanfaat bagi kemanusiaan (HR Muslim 1631).

Asdi lalu memadukan ancaman dan pilar dalam sebuah matriks diagnostik. Setiap krisis global, menurutnya, memiliki jawaban pada pilar worldview tertentu.

Seluruh kerangka tersebut bermuara pada profil mahasantri yang ingin dibentuk. Asdi menggambarkannya sebagai pohon dengan enam dimensi kompetensi:

Spiritual sebagai fondasi seluruh dimensi lainnya.

Intelektual: kritis, analitis, kreatif, dan literat terhadap berbagai teks dan konteks.

Moral: bertumpu pada kejujuran, kerendahan hati, dan adab yang tinggi.

Sosial: empati sosial yang tinggi, kolaboratif, dan membawa semangat moderasi.

Global: penguasaan bahasa asing, kecakapan literasi digital, dan kepemimpinan visioner.

Ekologis: kesadaran penuh terhadap kelestarian lingkungan hidup.

Strategi Sistemik: Input, Katalisator, Output

Untuk mewujudkan profil itu, Asdi menawarkan strategi pembentukan karakter dalam tiga tahap. Pada tahap input, pembinaan bertumpu pada kurikulum worldview Islam, kajian teks klasik (turats), dan integrasi keilmuan lintas disiplin.

Tahap katalisator berupa proses ekosistem: budaya halaqah dan mentoring intensif, keteladanan langsung dari pendidik, serta tradisi baca-tulis tingkat tinggi dan debat ilmiah. Tahap output diukur melalui aksi dan aplikasi, yakni literasi digital berbasis tabayyun serta eksekusi proyek pengabdian masyarakat yang terukur dan berdampak luas.

Di bagian penutup, Asdi memakai metafora pohon. Akar yang kuat adalah tauhid, adab, dan tradisi keilmuan. Batang utamanya adalah worldview Islam. Sayap atau kanopinya yang lebar adalah sains, teknologi, dan kecakapan global.

Dengan gambaran itu, ia menyebut mahasantri berkemajuan sebagai perwujudan ulul albab era modern: berdiri kokoh di bumi tradisi, membentangkan sayap di langit inovasi, dan terus bergerak dalam harmoni berzikir, berpikir, dan berkarya. Kegiatan ini juga menandai peluncuran website ASLAMA sebagai wadah informasi dan kolaborasi pengelola asrama PTMA. (Supardi)