Menemukan Makna Diri di Bulan Ramadhan

Suara Muhammadiyah

2 March 2026

638
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Menemukan Makna Diri di Bulan Ramadhan

Oleh: Dr. Amalia Irfani, M.Si

Ramadhan bulan suci penuh kebaikan, mengajarkan kita sebagai hamba Allah yang beriman tentang arti berbagi dan mengasihi sesama. Berbagi kebahagiaan kepada saudara, keluarga, tetangga, dan kaum muslimin dengan apa yang kita miliki.

Tidak hanya berupa materi saja, ilmu yang bermanfaat juga menjadi salah satu amaliyah yang mendatangkan banyak pahala, dengan syarat dilakukan karena Allah (ikhlash) dan sesuai tuntunan syariat.

Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan melipatgandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (QS. Al Hadid : 18).

Rasulullah SAW pun mempertegas bahwa berbagi kebahagiaan seperti bersedekah kepada saudara yang membutuhkan adalah bentuk menjaga diri kita dengan harta yang telah Allah anugerahkan. "Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti Allah akan menambahkan kewibawaannya.” (HR.Muslim, no.2588)

Tentu, walau hanya dua syarat bukan berarti mudah bagi seorang hamba untuk melakukan kebaikan, karena harus melawan hawa nafsu. Melakukan ibadah harus terus dipaksa, saat lelah dan malas mendominasi hati, sejatinya kita sedang berjuang mendidik jiwa agar taat kepada Allah untuk melawan rasa malas, ego yang tidak pernah habis-habisnya.

Setan memang akan selalu membisikkan manusia untuk menjauhi perbuatan yang Allah perintahkan mulai dari kekufuran hingga menyibukkan manusia dengan perkara tidak bermanfaat (sia-sia) agar meninggalkan amalan yang lebih utama.

Memaksakan diri Berbuat Kebaikan

Karena sangat besar pahala yang akan Allah berikan kepada hambaNya yang istiqamah melakukan perbuatan baik, maka sangat sulit pula bagi manusia untuk meneguhkan hati untuk tidak terperdaya bisikan setan yang terkutuk. Faktanya, kita selalu punya seribu alasan bahkan lebih saat dihadapkan pilihan untuk segera melakukan atau menunda perbuatan yang bernilai ibadah. Rendahnya motivasi intrinsik dalam diri membuat ibadah menjadi berat dilakukan, tidak bermakna dan hambar.

Setidaknya ada dua penyebab atau faktor yang membuat kita sebagai hamba sulit, malas seringnya menunda melakukan kebaikan dengan alasan yang tidak dibuat-buat sebagai pembenaran diri. Pertama faktor internal, yakni melemahnya iman, karena sering melakukan dosa sehingga mengeraskan hati dan lebih mencintai dunia.

Fase ini akan melalaikan, kadang manusia lebih fokus pada aktifitas keseharian dan tanggung jawab pekerjaan tetapi tanpa sadar melalaikan kewajiban sebagai hamba Allah. Misalnya, fokus menuntaskan kewajiban pekerjaan (workaholic), dengan rapat, mengejar target, atau lembur namun sering mengabaikan waktu shalat tepat waktu.

Atau contoh yang jamak dialami oleh lintas generasi sekarang sejak gadget menjadi teman hidup, yakni scrolling media sosial tanpa tujuan, menghabiskan banyak waktu di TikTok, Instagram, Facebook atau YouTube. Kemudian terjebak dalam binge watching (menonton marathon) serial hingga larut malam sehingga melewatkan waktu bermanfaat dengan keluarga, dan akhir keseringan pula telat shalat subuh.

Kedua, kurangnya pemahaman ilmu agama (karena enggan belajar dan bertanya), pengaruh lingkungan sosial atau teman yang buruk, juga menjadi sebab banyak diantara kita lalai. Rasulullah SAW berujar, "amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus dilakukan meskipun sedikit.” (HR. Bukhari no. 6464 dan Muslim no. 2818).

Ini menandakan konsisten dalam berbuat kebaikan tidaklah sesederhana yang terlihat. Namun tidak pula sulit jika kita ikhlash sebagai hamba Allah mau terus berusaha mendekatkan diri padaNya. Ali bin Abi Thalib memberikan nasehat, bahwa dunia bukanlah tempat tinggal abadi, melainkan tempat ujian, senda gurau, dan perjalanan menuju akhirat, perbuatan baik akan Allah hisab dan haramnya adalah azab.

Semoga ramadhan yang sedang kita jalani tidak berlalu begitu saja. Tetapi momentum istimewa untuk bermuhasabah, lebih dekat kepada Allah SWT.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Haji dan Zakat: Dua Wajah Kesalehan Umat Oleh: Ijang Faisal, Kepala LPPM Universitas Muhammadiyah B....

Suara Muhammadiyah

12 May 2026

Wawasan

Bung Hatta: Sepatu Bally yang Menginspirasi Anti Korupsi Oleh: Babay Parid Wazdi, Kader Muhammadiy....

Suara Muhammadiyah

26 December 2025

Wawasan

Manifestasi Pengalaman Agama Oleh: Prof Dr Syamsul Anwar, MA Manifestasi pengalaman agama ada yang....

Suara Muhammadiyah

14 June 2024

Wawasan

Dakwah Kreatif Berbasis AI: Amunisi Baru Pelajar Muslim di Era Digital Oleh: Muhammad Althaf Haida....

Suara Muhammadiyah

10 June 2026

Wawasan

Baju Lebaran, Simbol Kesucian atau Ritual Konsumsi Tahunan? Oleh: Ratna Arunika, Anggota LLHPB &nda....

Suara Muhammadiyah

17 March 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah