MUNAS 1 Abad Tarjih, Menengok Warisan Ijtihad Mas Mansur
YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA) menjadi tuan rumah Musyawarah Nasional (MUNAS) XXXIII Tarjih Muhammadiyah.
MUNAS akan berlangsung Kamis-Sabtu (5-7/11) dengan mengusung tema "Meneguhkan Akidah, Memperindah Akhlak, Menguatkan Ibadah dan Memberdayakan Umat untuk Peradaban Berkemajuan."
Kenapa Surabaya dipilih? Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ustadi Hamsah menyingkap, alasan Kota Pahlawan ditetapkan penyelenggaraan MUNAS XXXIII Tarjih Muhammadiyah karena dalam rangka memperingati atau napak tilas warisan Kiai Haji Mas Mansur.
"Yang merupakan putra asli Surabaya," ungkapnya.
Ustadi menyingkap itu saat konferensi pers MUNAS XXXIII Tarjih Muhammadiyah di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah Cik Ditiro Kota Yogyakarta, Senin (2/11).
Ditambahkan Ustadi, Mas Mansur sendiri merupakan tokoh Muhammadiyah yang sekaligus juga tokoh pergerakan nasional. "Mas Mansur adalah peletak dasar ijtihad kolektif," ujarnya.
Selain itu, Mas Mansur sendiri juga tercatat sebagai Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang pertama.
"Belau juga merupakan pahlawan nasional masuk dalam empat serangkai bersama Soekarno dan pahlawan-pahlawan yang lain," jelas Ustadi.
Secara lebih khusus, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyebut, Kota Surabaya, Jawa Timur sendiri menjadi embrionya dari pijakan awal lahirnya Majelis Tarjih dan Tajdid.
"Sehingga untuk 100 tahun MUNAS Tarjih ke-33 ini pilihannya adalah Kota Surabaya," terangnya.
Kehadiran MUNAS XXXIII Tarjih Muhammadiyah di Surabaya menjadi momentum untuk menengok warisan pemikiran Tarjih sekaligus juga membahas relevansinya dalam menghadapi persoalan-persoalan keagamaan dan kebangsaan kontemporer. (Cris)