Mencari Malaikat di Muhammadiyah

13 Pimpinan Pusat Muhammadiyah
13 Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Mencari Malaikat di Muhammadiyah

Oleh: Achmad Hilal Madjdi

Muhammadiyah bukanlah perkumpulan malaikat yang suci dari cela dan dosa, melainkan persyarikatan manusia yang berjuang menegakkan nilai-nilai keislaman di tengah dinamika kehidupan. Mengharapkan pimpinan, kader, maupun pengelola Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) bersikap sempurna bagaikan makhluk langit adalah ilusi yang membahayakan. Dalam realitas keorganisasian, manusia memiliki kerentanan harga diri, dorongan ego, dan kecenderungan rasa bangga diri (takabbur) yang jika tidak dikendalikan dapat merusak iklim kepemimpinan kolektif-kolegial, mencederai tata kelola AUM, dan mengikis kesucian niat beribadah. Artikel ini mengkritisi hakikat kemanusiaan kader Muhammadiyah melalui pendekatan teologis, ideologis, dan etika profetik demi mewujudkan masyarakat Islam yang utama, adil, dan makmur.

Sering kali dalam dinamika persyarikatan, baik warga internal maupun masyarakat luas terjebak dalam ekspektasi yang eksesif. Muhammadiyah sebagai gerakan Islam besar yang modern dan memiliki ribuan Amal Usaha (AUM) di bidang pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial, acap kali dipersepsikan sebagai entitas yang dihuni oleh sosok-sosok tanpa cela. Ketika terjadi benturan perselisihan antar-pimpinan, ketidakadilan tata kelola di AUM, atau perilaku oknum kader yang bersikap arogan dan enggan dikritik, kekecewaan mendalam meruak. Muncul pertanyaan bernada gugatan: 'Mengapa di organisasi sebesar Muhammadiyah masih ada perilaku demikian?'

Gugatan tersebut bersumber dari kekeliruan mendasar dalam memahami hakikat organisasi. Mencari 'malaikat' di Muhammadiyah adalah ikhtiar yang keliru sejak dalam pikiran. Malaikat adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang diciptakan tanpa hawa nafsu, selalu taat, dan tidak pernah melanggar perintah-Nya (QS. At-Tahrim: 6). Sebaliknya, Muhammadiyah adalah wadah tempat berhimpunnya manusia biasa, makhluk yang dibekali akal sekaligus potensi hawa nafsu, tempatnya lupa dan bersalah (al-insanu mahallun nisyan wal khata'). Pengakuan jujur atas ketidaksempurnaan insani ini bukanlah apologi atas kelemahan, melainkan pijakan rasional untuk membangun sistem pencegahan, pengawasan, dan perbaikan berkesinambungan (tajdid). 

Di era disrupsi digital yang dipenuhi budaya pencitraan (flexing), dorongan untuk tampil sempurna dan dipuji (sum'ah) semakin menguat. Kader dan pimpinan organisasi tidak imun dari godaan ini. Ketika nilai kesholehan tergeser menjadi komoditas visual demi validasi publik di media sosial, kecenderungan narsistik dan pamer keagamaan (spiritual narcissism) mulai menggerogoti ketulusan ber-Muhammadiyah. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk membongkar ilusi malaikat dan melihat kader Muhammadiyah dalam realitas kemanusiaannya yang utuh.

Antara Kesucian dan Kerentanan 

Secara teologis, Al-Qur'an menggambarkan struktur kejiwaan manusia yang sangat dinamis. Manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya (fi ahsani taqwim), namun memiliki potensi untuk merosot ke tempat yang serendah-rendahnya (asfala safilin) jika gagal mengendalikan hawa nafsunya (QS. At-Tin: 4-5). Berbeda dengan malaikat yang memiliki sifat konstan dalam ketaatan, manusia mengalami pasang surut iman (al-imanu yazidu wa yanqus). Keberadaan kecenderungan merasa diri agung, haus akan sanjungan, serta tumpulnya empati sosial merupakan bentuk penyakit batin yang timbul saat dorongan ego manusia menguasai kesadaran spiritualnya.

Dalam kajian psikologi dan keagamaan, kecenderungan mengagungkan diri secara berlebihan sering kali bersumber dari kerentanan harga diri (vulnerable self-esteem). Individu yang di dalam batinnya merasa rapuh, cemas, atau kurang percaya diri, secara tak sadar membangun mekanisme pertahanan diri berupa sikap superioritas palsu (false self). Dalam konteks organisasi keagamaan, pertahanan ego ini bermetamorfosis menjadi perilaku merasa paling berjasa, paling berhak mengatur, dan paling benar sendiri (self-righteousness).

Penelitian ilmiah mengenai dinamika kepribadian menunjukkan korelasi signifikan antara kerentanan harga diri (vulnerable self-esteem) dengan timbulnya gejala keangkuhan diri. Ketika seseorang tidak memiliki fondasi penerimaan diri yang kokoh dan keikhlasan yang tulus, ia akan sangat bergantung pada penilaian eksternal. Di lingkungan Persyarikatan dan AUM, fenomena ini muncul dalam bentuk kader atau pimpinan yang sangat haus akan jabatan, haus akan pengakuan atas karya-karyanya, serta sangat reaktif dan marah apabila mendapatkan kritik.

Cermin Teologis  

Al-Qur'an memberikan peringatan tegas mengenai bahaya kesombongan batin dan pembengkakan ego manusia. Dalam Surah Luqman ayat 18, Allah SWT berfirman: 'Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.' Dalam eksegesis monumental Tafsir Al-Manar karya Syaikh Muhammad Abduh dan Sayyid Muhammad Rasyid Ridha, frasa 'wa latusha''ir khaddaka lin-nas' dianalisis secara mendalam. Kata 'sa'ar' asalnya adalah penyakit yang menyerang leher unta sehingga lehernya terkulai memalingkan muka secara tidak wajar.  Al-Manar menjelaskan bahwa memalingkan muka merupakan simbol fisik dari sikap meremehkan orang lain, enggan mendengarkan pandangan sesama, serta merasa diri berada di derajat yang lebih tinggi. 

Perilaku ini adalah wujud nyata dari kesombongan batin (tazkiyah al-nafs al-khati'ah) yang sangat dilarang dalam Islam. Lebih lanjut, Tafsir Al-Manar menegaskan bahwa frasa 'wa la tamsyi fil-ardhi maraha' mengecam segala bentuk gaya hidup pamer, angkuh, dan mencari sensasi di tengah masyarakat. Dalam konteks modern, sikap ini bertransformasi menjadi narsisme sosial dan narsisme keagamaan, di mana simbol-simbol ibadah, gelar keagamaan, dan kontribusi organisasi dijadikan alat untuk membusungkan dada di hadapan publik.

Menghindari Fanatisme dan Penyucian Diri

Untuk membentengi diri dari penyakit kesombongan keagamaan, Muhammadiyah telah menetapkan fondasi pemikiran keagamaan yang rasional, moderat, dan berkeadaban. Muhammadiyah menegaskan identitasnya sebagai gerakan Islam Manhajji, bukan Islam Madzhabi atau gerakan tekstualis kaku. Islam Manhajji adalah pendekatan beragama yang mendasarkan pemahaman pada metodologi (manhaj) ijtihad yang sahih terhadap Al-Qur'an dan As-Sunnah, bukan pada taklid membuta kepada sosok atau pendapat fikih klasik semata.

Muhammadiyah sebagai gerakan yang rasional dan terorganisasi memiliki dokumen ideologis resmi yang mengatur etika pergaulan dan kepemimpinan kader, yakni Matan Kepribadian Muhammadiyah (rumusan Muqtamar ke-35 di Jakarta). Rumusan ini mengandung sepuluh sifat dasar yang harus dijiwai oleh setiap warga dan kader persyarikatan, yaitu berjuang menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam untuk mewujudkan masyarakat Islam yang utama, memurnikan amalan Islam berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan menggunakan akal pikiran yang sehat, memperluas pemahaman agama dan meningkatkan amalan dalam kehidupan kemasyarakatan, memelihara kebersihan lahir dan batin serta senantiasa bertakwa kepada Allah SWT, mengindahkan segala hukum, undang-undang, serta dasar dan falsafah negara yang sah; amar ma'ruf nahi munkar dalam segala lapangan serta menjadi contoh teladan yang baik, aktif dalam perkembangan masyarakat dengan maksud perbaikan dan pembangunan Islamiah, membantu pemerintah serta bekerja sama dengan golongan lain untuk kebaikan dan kemakmuran, bersifat lapang dada, luas pandangan, dengan memegang teguh ajaran Islam, bersifat adil, sanggup mengoreksi diri sendiri dan bersifat pemaaf.

Sepuluh prinsip di atas, khususnya poin mengenai 'lapang dada, luas pandangan, adil, dan sanggup mengoreksi diri sendiri', merupakan penawar langsung terhadap kecenderungan ego dan keangkuhan pribadi. Kader sejati Muhammadiyah dituntut untuk tidak picik, tidak reaktif terhadap masukan, dan berani mengakui kesalahan demi kemajuan bersama.

Meneguhkan Khittah Perjuangan Tanpa Ilusi Malaikat

Menyadari bahwa tidak ada 'malaikat' di Muhammadiyah, penyembuhan penyakit ego dan keangkuhan batin harus dilakukan melalui pendekatan Terapi Profetik berbasis penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Islam mengajarkan langkah-langkah spiritual yang konkrit untuk menundukkan ego, antara lain pembiasaan amalan tersembunyi (sirr) sebagai  resep paling efektif memutus rantai haus pemujaan. Salah satunya adalah membiasakan sedekah, sholat malam, dan bantuan sosial tanpa diketahui orang lain (sirr). Amalan yang tersembunyi dipastijan akan melatih batin untuk hanya mengharapkan ridho Allah SWT, membebaskan jiwa dari ketergantungan akan tepuk tangan manusia. Amalan sirr yang juga efektof adalah melatih Dzikir dan Kontemplasi Kematian. Dzikir yang khusyu' dan mengingat kematian (zikrul maut) menyadarkan manusia akan keterbatasan dan kehampaian materi serta jabatan duniawi.

Pada akhirnya, berhenti mencari 'malaikat' di Muhammadiyah adalah langkah awal menuju kematangan ber-Muhammadiyah. Mengetahui bahwa kita dan saudara-saudara seorganisasi kita adalah manusia biasa yang penuh kerentanan, membuat kita lebih bertoleransi, lebih rajin bersilaturahmi, dan lebih tergerak untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran (watawa shaubil haqqi watawa shaubis sabr).

Persyarikatan Muhammadiyah akan tetap kokoh, anggun, dan berkemajuan bukan karena dihuni oleh makhluk yang tidak pernah bersalah, melainkan karena memiliki sistem nilai yang kuat, tradisi musyawarah kolektif-kolegial yang sehat, serta kader-kader yang senantiasa mau berproses menundukkan egonya melalui tazkiyatun nafs. Mari kita rawat niat ber-Muhammadiyah ini agar tetap murni, bersih dari penyakit kesombongan batin, sehingga ikhtiar kolektif kita benar-benar mendatangkan keridhaan Allah SWT dan membawa rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil 'alamin).