TANGERANG, Suara Muhammadiyah — Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kiai Haji M. Saad Ibrahim mendorong perguruan tinggi Muhammadiyah untuk terus mengembangkan pendidikan yang memadukan kedalaman agama dengan penguasaan sains dan teknologi. Menurutnya, perpaduan tersebut merupakan bagian penting dari karakter pendidikan Muhammadiyah dalam menghadapi perubahan zaman.
Pesan tersebut disampaikan Kiai Saad dalam sambutan dan amanat pada pelantikan Rektor Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) Dr. Warsito, Jumat (25/9/2026).
Dalam kesempatan itu, Kiai Saad terlebih dahulu menyampaikan apresiasi kepada almarhum Dr. Desri Arwen, rektor sebelumnya, atas pengabdian dan capaian yang telah ditorehkan selama memimpin UMT. Ia juga mendoakan agar almarhum mendapatkan ampunan dan rahmat Allah SWT serta keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.
Kepada Dr. Warsito, Kiai Saad menyampaikan ucapan selamat sekaligus doa agar amanah kepemimpinan tersebut dapat dijalankan dengan baik. Ia menilai kepemimpinan pada hakikatnya merupakan ikhtiar untuk meneruskan misi kenabian, yakni menjaga eksistensi agama sekaligus mengelola urusan kehidupan dunia. “Dalam kepemimpinan itu ada dua hal, yaitu menjaga eksistensi agama dan mengendalikan, mengurus, serta mengatur urusan duniawi,” tuturnya.
Karena itu, menurut Kiai Saad, kepemimpinan perguruan tinggi Muhammadiyah tidak cukup hanya mempertahankan tradisi dan capaian yang telah ada. Kepemimpinan juga harus mampu membaca perubahan, mengambil pelajaran dari masa lalu, sekaligus menciptakan pembaruan yang lebih baik. Ia mengapresiasi gagasan Dr. Warsito yang dinilainya berupaya meneruskan capaian periode sebelumnya sekaligus membawa UMT menuju perkembangan baru.
“Bukan sekadar meneruskan hal-hal yang baik dan capaian-capaian yang luar biasa dari periode sebelumnya, tetapi juga mengkreasikan dan membuat yang lebih bagus ke depan,” katanya.
Kiai Saad kemudian mengutip pandangan Robert Hefner dari Boston University yang pernah menjadi pembicara dalam Pengajian Ramadhan Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Menurutnya, Muhammadiyah memiliki kekuatan karena mampu memadukan dimensi agama dan sains dalam pendidikan.
Ia menilai gagasan tersebut dapat dilihat sejak masa KH Ahmad Dahlan. Pendiri Muhammadiyah itu tidak hanya memiliki penguasaan terhadap Al-Qur'an, hadis, dan ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga memberikan perhatian terhadap ilmu pengetahuan umum.
Kiai Saad mencontohkan pendidikan yang dikembangkan KH Ahmad Dahlan pada masa awal Muhammadiyah. Selain pelajaran agama seperti Al-Qur'an, hadis, dan fikih, pendidikan tersebut juga mengenalkan ilmu hitung dan ilmu bumi yang dalam konteks sekarang dapat dipahami sebagai matematika dan geografi. “Maknanya, beliau sebagai representasi dari ungkapan tadi, memadukan antara agama dan sains. Itu betul-betul real,” ujarnya.
Menurut Kiai Saad, pola tersebut perlu terus dikembangkan pada seluruh jenjang pendidikan Muhammadiyah, termasuk perguruan tinggi. Pendidikan tinggi Muhammadiyah harus mampu melahirkan lulusan yang memiliki kedalaman spiritual sekaligus kompetensi keilmuan untuk menjawab persoalan kehidupan.
Ia juga mengapresiasi gagasan pengembangan UMT yang disampaikan dalam rangkaian pelantikan. Dari sejumlah program studi yang dimiliki UMT, terdapat program studi yang telah mencapai predikat unggul. Kiai Saad mendorong agar capaian tersebut terus ditingkatkan.
Ia bahkan menyampaikan gagasan agar target peningkatan mutu tidak berhenti pada capaian internal kampus. Menurutnya, UMT juga dapat mengambil peran membantu perguruan tinggi Muhammadiyah lain yang masih membutuhkan penguatan. “Prestasi hebat ialah kalau kita bersama-sama memikirkan universitas sendiri, sekaligus juga memikirkan universitas-universitas yang lain, khususnya tetangga kita,” katanya.
Kiai Saad menegaskan, Muhammadiyah tidak menginginkan hanya sebagian kecil perguruan tingginya yang berkembang. Sebaliknya, kemajuan perlu diupayakan secara bersama-sama sehingga ekosistem pendidikan Muhammadiyah semakin kuat. “Kita tidak ingin satu dua saja yang baik. Kita ingin semuanya baik,” ujarnya.
Dalam amanatnya, Kiai Saad juga menyoroti tantangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam dunia pendidikan tinggi. Menurutnya, perkembangan AI menuntut perguruan tinggi untuk mengevaluasi kembali metode pembelajaran dan pengukuran kemampuan mahasiswa.
Ia menyinggung tantangan penggunaan AI dalam penulisan karya ilmiah, mulai dari skripsi, tesis, hingga disertasi. Menurutnya, perguruan tinggi perlu memikirkan model evaluasi yang mampu menguji kemampuan berpikir dan pemahaman mahasiswa secara langsung. “Tantangan kita terutama berkaitan dengan artificial intelligence, khususnya terkait dengan karya tulis, mulai dari skripsi, tesis, hingga disertasi,” jelasnya.
Menurut Kiai Saad, perkembangan teknologi juga memungkinkan perubahan cara perguruan tinggi menyediakan pendidikan. Pembelajaran tidak selalu harus bergantung pada gedung dan ruang kelas fisik. Perkembangan pendidikan daring dan Universitas Siber Muhammadiyah, menurutnya, menunjukkan bahwa pendidikan tinggi dapat berkembang melalui ekosistem digital.
Karena itu, perguruan tinggi Muhammadiyah dituntut tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memahami, mengembangkan, dan mengendalikan teknologi untuk kepentingan pendidikan serta kemaslahatan manusia.
Kiai Saad menutup amanatnya dengan mengajak sivitas akademika UMT menjadikan kepemimpinan dan pengembangan perguruan tinggi sebagai bagian dari ikhtiar menghadirkan kemanfaatan yang lebih luas.
Ia berharap kepemimpinan Dr. Warsito mampu melanjutkan capaian yang telah dibangun sebelumnya sekaligus melahirkan berbagai inovasi baru bagi UMT, Muhammadiyah, dan masyarakat. “Semoga Allah memberikan pertolongan. Insyaallah kesuksesan dan kemenangan itu sudah sangat dekat,” pungkasnya.

