YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Dalam menjalani kehidupan, lebih-lebih di organisasi, niscaya dihadapkan pada batu penarung masalah. “Dan kesadaran akan masalah ia harus selalu hidup,” kata Haedar Nashir. Tetapi, tekannya, jangan membalik keadaan.
“Jangan pernah kita abai terhadap masalah, tetapi jangan mendramatisasi dan hidup terus dan mencari masalah, masalah dan masalah,” tutur Haedar, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Menurut Haedar, kesadaran akan hal tersebut mesti dibangun. “Kita sebagai orang dalam, kesadaran itu harus menjadi panggilan untuk apa? Berbuat,” ucapnya, Jumat (2/10) saat Ta’aruf PP Nasyiatul Aisyiyah 2026-2030 di SM Tower Malioboro Yogyakarta.
Hasil usaha yang dilakukan bertungkus lumus dengan output yang sesuai dengahn harapan, mesti dilakukan upaya untuk meningkatkan jauh lebih baik lagi.
“Yang jadi masalah kelemahan dan kekurangan kita perbaiki, perbaiki dan kita perbaiki. Bila perlu ada yang kita amputasi,” ujar Haedar.
Sekalipun hal seperti itu dalam hidup tidak akan lepas dari dera masalah dan kesulitan yang niscaya harus dihadapi, bersamaan dengan itu perlu ada pelumasnya agar tumpukan masalah itu dihdapi lebih jernih dan bijak-bestari. Di sinilah pentingnya pendekatan irfani (menyangkut rasa) dilakukan.
“Saya yakin dimensi irfani itu akan juga memberi kontribusi pada proses pemajuan gerakan kita. Di situ akan ada doa ketika kita resah ada masalah dan kita merasa berat dengan beban yang kita tanggung, lalu kita pasrah kepada Allah, bahwa kami ini berjalan menggerakkan ‘Aisyiyah, Muhammadiyah, NA, dan seterusnya itu kan fi sabilillah (berjalan di jalan Allah),” tekannya.
Karena itu, ketika menghadapi sederet masalah yang membelenggu, terlebih dalam kehidupan berorganisasi yang niscaya tidak lepas dari berbagai persoalan, penting untuk belajar berpasrah kepada Allah setelah segala ikhtiar dilakukan dengan sungguh-sungguh.
“Maka, Insyaallah Muhammadiyah, ‘Aisyiyah terjaga oleh Allah,” tegas Haedar sekali lagi. (Cris)

