Produk UMKM: Sedikit Untung, Volume Besar, Tetap Mulia

Suara Muhammadiyah

5 October 2026

160
UMKM

UMKM

Produk UMKM: Sedikit Untung, Volume Besar, Tetap Mulia

Oleh: Hafidz Sirojudin, Ketua LP-UMKM PWM Jawa Tengah

Produk kita ingin laku, tapi kita kadang lupa bahwa sebuah produk –barang dan jasa– untuk laku itu ada harganya. Orang Jawa bilang dengan jujur: Ono Rego, Ono Rupo. Ada harga, ada rupa. Kalau ingin rupa yang cantik, jangan menawar dengan mental yang bakhil, pelit, tidak jujur.

Sekarang ini banyak produk UMKM yang jatuh. Bukan karena tidak laku, tapi karena ikut perang harga atau “bakar uang” yang kemproh, serampangan. Dijual murah biar laku, tapi kualitas produk dikurangi. Bahan baku diganti atau dikurangi, proses produksi dipotong dan packaging asal jadi.

Memang tidak mudah mengambil keputusan disaat harga packaging –terutama berbahan plastik– naik tinggi akibat gangguan rantai pasok BBM dan bahan baku plastik di Selat Hormus akibat perang Iran melawan Israel dan Amerika. Bagaimanapun perang menimbulkan korban banyak orang, ketidaknyamanan keadaan, menganggu perekonomian global dan nasional.

Rego bagi UMKM bukan sekedar Rupiah, tetapi ada “harga” lain yang harus dibayar, yaitu:

Pertama, Harga Waktu.

Waktu yang telah terlewati tidak akan pernah bisa kembali. Kehilangan waktu berarti kehilangan peluang dan kesempatan untuk belajar meriset produk dan pasar guna perbaikan kualitas. Kita kehilangan kesempatan mendengarkan keluhan pelanggan tentang produk yang dibutuhkan. Bukankah Tuhan telah bersumpah “Demi Waktu” untuk mengingatkan makna pentingnya waktu bagi produktivitas.

Kedua, Harga Bahan Baku.

Demi menggapai omzet yang tinggi seringkali kita abai atau lalai dengan kejujuran dan fairness dalam bisnis. Ukuran dan kualitas dikurangi asalkan harga masih tetap, walaupun konsumen dibohongi. Konsumen dan kualitas produk adalah key performance indicator yang jujur atas produk yang kita jual.

Ketiga, Harga Ilmu dan Amal.

Kita belajar branding, membuat foto dan video untuk konten promosi. Kita belajar menarasikan produk karena kita tahu tanpa narasi produk akan mati sunyi. Namun kita pun harus ingat bahwa “produk yang baik akan bersuara lebih keras daripada kata-kata promosi”. 

Di era media sosial digital, banyak pelanggan yang memviralkan kualitas produk dan layanan yang kita jual. Kekecewaan seorang pelanggan terhadap suatu produk dan layanan dapat meruntuhkan pemasaran. Betapapun, ajaran ilmu amaliyah dan amal ilmiyah bagi pelaku UMKM tetap menjadi nilai yang selalu dipegang.

Keempat, Harga Integritas yang Berkelanjutan.

Kita harus menjaga rasa produk makanan minuman yang dijual meski harga bahan baku naik. Lebih baik melakukan diversifikasi produk daripada mengurangi atau merubah komposisi bahan baku sebuah produk yang telah mendapatkan “brand loyalty”. Istiqomah atau konsistensi adalah integritas yang menjamin keberlanjutan (sustainable) sebuah bisnis.

Murah, Berkualitas dan Tidak Murahan

Murah dan mahal itu soal persepsi, perbandingan harga dan daya beli masyarakat. Tolong lihat dan amati lingkungan sekitar. Bisa jadi yang menjual produk murah dan murahan laku ramai. Tetapi hanya bertahan dalam waktu singkat. Sehari, sepekan, sebulan, setelah itu sepi pembeli. Karena pada akhirnya, konsumen bisa menjadi pelanggan untuk membeli produk yang bermutu.

Sebagai pelaku UMKM kita boleh menjual murah, asalkan produk yang dijual tidak “koden” (kualitas rendah). Kita harus terus menerus menjual produk yang berkualitas, sesuai standar yang berlaku dan dipahami secara umum. Produk yang dijual murahan, membuat konsumen “kapok” dan tidak kembali. Lebih parah lagi jika mereka mengunggah ke media sosial. Bisa rontok produk kita di pasaran.

Berdagang bukan soal murahan, namun soal keberkahan yang berkelanjutan. Konsumen hari ini tidak bodoh, mereka membeli “rupo”. Rupo itu bukan hanya bentuk dan harga produk, Rupo adalah cerita, narasi, nilai, kualitas, kejujuran, dan keberkahan di balik produk. Maka jangan takut soal harga. Takutlah jika produk kita tidak punya rupa, karena kita tidak berani menghargai ihtiar, keringat, ilmu, keterampilan dan waktu yang telah dilalui secara itqan dan ihsan.

Itqan adalah sikap dalam melakukan setiap pekerjaan atau amalan secara sungguh-sungguh, disiplin, cermat, teliti, terencana, terukur, teratur, istiqomah, berkelanjutan dan tidak asal-asalan demi mendapatkan produk yang terbaik dan sempurna. Ihsan adalah berbuat kebaikan secara maksimal meski tidak ketahuan pelanggan, karena kita yakin Allah Maha Mengetahui dan Maha Teliti atas segala perbuatan yang kita lakukan dalam menghasilkan sebuah produk. 

Ingat, Tuhan tidak melihat murah mahalnya produk, tetapi Allah melihat amanah dan kejujuran kita dalam menjaga kualitas dan mutu produk yang dihasilkan. Sebagaimana Rasulullah Saw. pernah bersabda, "Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mencintai hamba-hambanya yang jika bekerja, ia menyelesaikannya dengan ihsan”.

Produk yang baik itu jujur, tidak menipu komposisi dan berkualitas, konsisten dan berkelanjutan. Produk yang baik itu memiliki packaging yang bagus, karena produsen menghormati konsumen. Produk yang baik mesti disertai pelayanan yang bagus, prima dan tidak serampangan. Sebab pada hakekatnya pembeli adalah manusia titipan Tuhan sebagai wasilah rejeki kita.

Persyarikatan mengajarkan berkemajuan. Berkemajuan itu bukan soal banting harga sampai rugi, atau biar tekor asal kesohor. Berkemajuan itu berani menjaga mutu, berani menghasilkan produk yang baik, produk yang halal, produk yang sesuai standar kualitas dan berani berkata: “Produk ini karya kami, sebuah harga yang pantas atas hasil kerja keras, kerja cerdas dan kejujuran". UMKM Muhammadiyah itu Madrasah Amanah, bukan sekedar lapak, warung, toko atau omzet produk dengan skala usaha tertentu.

Kita sering mengabaikan volume bisnis. Produk yang baik dan bermutu, meski untungnya sedikit, jika volumenya besar maka hasilnya tetaplah besar. Tetapi volume yang besar tidaklah datang dari mimpi. Volume besar datang dari skala industri. Jangan takut untung sedikit, takutlah jika produk kita tidak dibeli banyak orang karena produknya tidak bermutu.

Bagaimana caranya agar kita mampu memasuki skala industri.

Pertama, Manfaatkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Dengan Iptek proses produksi menjadi lebih efisien, lebih cepat dan standar produk terjaga. Iptek membantu kita mendapatkan data konsumen dan pelanggan dengan rapi, market share produk sejenis dan data untuk kepentingan analisa marketing.

Kedua, Sumberdaya Insani yang Unggul.

Kita membutuhkan tim produksi yang terampil, jujur dan mau bertumbuh. Produk yang baik dan hebat dihasilkan oleh tangan-tangan yang baik dan hebat. Industri membutuhkan super-team, bukan superman atau super-woman. 

Ketiga, Jejaring yang Luas.

Masuklah ke ekosistem bisnis dan ekonomi. Jangan berhenti untuk mengembangkan pasar dan mudah puas berhasil menjual sebuah produk di depan rumah, namun juga jangan serakah. Tetaplah fokus dengan produk dan layanan yang kita miliki (lex specialis). Kita bisa manfaatkan jaringan persyarikatan dan komunitas sosial bisnis yang kita ikuti. Agar terasah kewirausahaan kita sebagai sosioteo-preneurship. 

Keempat, Modal Sebagai Pelengkap.

Jika produk kita berkualitas dan laku di pasaran, maka akan banyak lembaga keuangan yang menawarkan tambahan modal. Mengundang banyak pemodal untuk bergabung melakukan kerja sama atau waralaba. Jangan terjebak dengan “kesusu gedhe, kesusu sugih” (tergesa-gesa besar atau tergesa-gesa kaya). Untuk menjadi besar dan kaya, pelaku UMKM harus lebih dahulu memantaskan diri.

Pada akhirnya, kita dapat menjadi pelaku UMKM yang Jujur, Makmur dan Bahagia dengan selalu mengingat ajaran “Ono Rego Ono Rupo. Ono Mutu Ono Volume. Ono Itqan lan Ihsan, Ono Barokah”. Keberkahan rejeki berada pada luasnya manfaat (benefit) dan nilai tambah (value added), bukan sekedar keuntungan (profit) semata. Produk yang baik akan dicari, bukan hanya dibeli. Sebab rejeki bukan sekedar berada di angka-angka.

Tegalmulyo, 4 Oktober 2026


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Muchamad Arifin, Mahasiswa S3 Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang Bagi masyarakat adat ....

Suara Muhammadiyah

27 December 2025

Wawasan

Tragedi Ballpoin: Cermin Retak Sistem Pendidikan Dasar Kita Oleh: Syahnanto Noerdin*) Surat perpis....

Suara Muhammadiyah

7 February 2026

Wawasan

Agama dan Sains: Mitra Abadi, Bukan Musuh! Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universi....

Suara Muhammadiyah

24 November 2025

Wawasan

Politik Inklusif Bagi Perempuan Oleh: Sakinah Fitrianti Politik inklusif hadir sebagai upaya mew....

Suara Muhammadiyah

10 October 2024

Wawasan

Indonesia Emas 2045 Dimulai dari Desa Oleh: Kuswaji Dwi Priyono, Ketua Majlis Pemberdayaan Masyarak....

Suara Muhammadiyah

4 August 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah