Ramadhan, Tarling, dan Strategi Muhammadiyah Menyentuh Desa
M. Saifudin, Wakil Ketua PCM Weru & Pengasuh Pesantren Muhammadiyah Sangen
Setiap Ramadhan tiba, denyut kegiatan itu terasa kembali di Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo. Bukan sekadar gema azan dan lampu masjid yang lebih terang, tetapi gerak bersama dan guyup yang terorganisir. Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Weru kembali menggelar tarawih keliling (tarling) sebanyak tiga kali selama Ramadhan. Pesertanya dibagi menjadi enam kelompok, masing-masing terdiri dari unsur PCM dan unsur ranting, lalu menyebar ke titik-titik yang telah ditentukan.
Tarling bukan sekadar kegiatan formalitas. Tarling adalah cara Muhammadiyah mendekat, duduk bersama warga, shalat bersama, mendengar, serta berbagi cerita dan gagasan. Dari ifthar jama’i yang dengan berbagai sajian nikmat, hingga tarawih berjamaah yang syahdu. Materi yang disampaikan pun sederhana namun penting untuk diulang-ulang, Ramadhan sebagai bulan Al-Qur’an, pentingnya menghidupkan amal, serta kesadaran bahwa kesempatan beribadah tidak selalu berulang. Ringkas, tetapi cukup untuk menggugah.
Kegiatan ini sejalan dengan visi yang disampaikan Ketua PCM Weru, Bapak H. Sumardi, S.Pd, “Mewujudkan Muhammadiyah cabang Weru yang berkualitas, berintegritas, dan berdampak positif bagi masyarakat. Hal ini dilakukan melalui penguatan dakwah, pendidikan, pelayanan sosial, serta pembangunan komunitas yang sejahtera dan berdaya saing.”
Dengan kegiatan semacam ini, tarling menemukan maknanya. Bukan sekadar agenda rutinitas Ramadhan, melainkan bagian dari strategi dakwah, mendekatkan persyarikatan kepada masyarakat. Dalam setiap kunjungan, diselipkan sosialisasi program-program cabang. Misalnya, kajian Ahad pagi di Gedung Dakwah Muhammadiyah Weru yang biasa dihadiri sekitar 3.500 jamaah, kajian rutin tematik dan HPT setiap malam Sabtu, pengajian di ranting-ranting seperti Masjid Sangen ranting Krajan, serta gerakan sosial seperti Kokam pada kegiatan kemasyarakatan.
Kokam juga tanggap darurat kebencanaan 24 jam siap sedia melayani masyarakat, baik banjir, kebakaran, maupun gangguan binatang. Selain itu, penguatan ekonomi umat hingga geliat media oleh Majelis Pustaka turut menjadi bagian dari pendekatan ini.
Perkembangan giat persyarikatan ini selaras dengan perkembangan AUM dan AUA. Di lingkungan PCM dan PCA Weru telah berkembang amal usaha yang cukup luas: 22 BA, 10 MI, 1 MTs, 2 SMP, 2 pesantren, 1 MA, 1 SMA, 1 SMK, dan 1 BMT. Tentu bukan angka untuk dibanggakan, melainkan indikator bahwa dakwah tidak berhenti pada ceramah. Dakwah menjelma menjadi sekolah, pesantren, lembaga keuangan, dan pelayanan nyata bagi masyarakat.
Perkembangan di tingkat ranting pun menggembirakan. Ada yang kini memiliki BMT ranting Karangtengah sebagai penguat ekonomi jamaah. Ranting Grogol menghadirkan ambulans layanan masyarakat. Ranting Karangwuni mengoptimalkan Lazismu dan mentasarufkan setiap bulan secara rutin bagi warga yang tidak mampu. Ranting Jatingarang berinovasi dengan menerima sedekah rosok, yang hasilnya disalurkan untuk warga kurang mampu dan anak yatim. Ranting Krajan bersama Ponpes Modern Muhammadiyah Sangen juga sedang proses pengadaan mobil layanan umat. Ranting lainnya berfastabiqul khairat dengan berbagai kegiatan kemasyarakatan.
Semua ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah bekerja dengan pendekatan membumi. Dakwah bil-lisan tetap berjalan di masjid dan mushola, tetapi dakwah bil-hal, dakwah melalui tindakan, justru menjadi wajah yang paling terasa di masyarakat.
Sejalan dengan tujuan persyarikatan Muhammadiyah, yaitu ”menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.” Tujuan itu bukan impian yang mengawang-awang. Upaya tersebut diterjemahkan melalui pendidikan yang mencerdaskan, dakwah yang mencerahkan, layanan sosial yang terasa nyata, dan pemberdayaan ekonomi yang mendorong kemandirian.
Tarling Ramadhan hanyalah satu fragmen dari mozaik besar itu. Namun kita banyak belajar bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari panggung besar atau kegiatan fenomenal. Terkadang itu tumbuh dari kebersamaan dalam ifthor, dari saf yang rapat dalam tarawih, dari obrolan ringan selepas witir.
Ramadhan adalah momentum yang memberi energi ruhani. Sedangkan Muhammadiyah memberi arah kemana bergerak. Ketika keduanya bertemu, maka akan melahirkan gerakan yang perlahan membentuk peradaban. Tidak sedikit peradaban hebat bermula dari kehidupan di desa. Jangan lelah, jangan berhenti, berfastabiqul khairat.

