YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta pada Kamis (05/02/2026). Sebanyak kurang lebih 800 peserta yang terdiri dari Kepala Sekolah, Guru, dan Karyawan SD Muhammadiyah se-Kota Yogyakarta berkumpul dalam acara Pengajian Akbar Songsong Ramadhan.
Acara yang diinisiasi oleh Badan Kerjasama (BKS) SD Muhammadiyah Kota Yogyakarta ini bertujuan untuk membekali para pendidik secara spiritual menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1447 H.
Ketua BKS SD Muhammadiyah Kota Yogyakarta, H. Saijan, S.Ag., M.S.I., dalam sambutannya menyampaikan bahwa ini merupakan pengajian kedua di tahun ajaran 2025-2026. Ia juga memberikan apresiasi atas capaian sekolah-sekolah Muhammadiyah.
"Selamat atas prestasi masing-masing sekolah yang luar biasa, di mana perolehan siswa baru melalui jalur inden SPMB sudah menunjukkan angka yang sangat signifikan," ujar H. Saijan.
Senada dengan hal tersebut, Ketua PDM Kota Yogyakarta, Drs. H. Akhid Widi Rahmanto, menekankan pentingnya pengajian tersebut sebagai sarana menguatkan ikatan batin antar sesama guru persyarikatan.
"Kegiatan ini sangat menarik untuk menjaga soliditas kita sebagai pejuang pendidikan Muhammadiyah," tuturnya.
Hadir sebagai pembicara utama, dr. H. Agus Taufiqurrohman, Sp.S., M.Kes., Ketua PP Muhammadiyah Bidang Pembinaan Kesehatan Umum, Kesejahteraan Sosial, dan Resiliensi Bencana. Mengawali tausiyahnya, Agus menyampaikan informasi terkini mengenai perkembangan dakwah internasional, termasuk operasional Muhammadiyah Australia College (MAC) yang kini menjadi sekolah favorit bagi diaspora internasional dengan tagline "Sekolah Akhlak, Sekolah Ihsan".
Selain itu, ia menekankan bahwa guru berada di posisi pertama dalam mata rantai keilmuan.
"Jadilah engkau orang berilmu, atau orang yang menuntut ilmu, atau orang yang mau mendengarkan ilmu, atau orang yang menyukai ilmu. Dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima (tidak berilmu, tidak belajar, tidak mendengar, tidak suka ilmu) maka kamu akan celaka," ujar dr. Agus mengutip hadis riwayat Baihaqi.
Agus juga mengingatkan bahwa profesi guru harus diniatkan sebagai ibadah. Meskipun secara finansial mungkin belum melampaui profesi lain, namun dalam urusan pahala, guru adalah "juaranya" karena setiap kebaikan yang diajarkan akan mengalirkan pahala jariyah, sebagaimana terdapat dalam hadis riwayat Imam Muslim.
Adapun, kaitannya dengan menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1447 H, selain menyinggung penetapan awal Ramadhan, Agus menjabarkan empat kategori ibadah yang dimuliakan Allah Swt. sebagai berikut,
Pertama, ibadah yang dimuliakan dan pahalanya berlipat; yaitu orang berhaji. Haji Mabrur: Ibadah yang balasannya adalah surga, dengan ciri pribadi yang suka berbagi, santun dalam tutur kata (liinulkalam), dan menebar kedamaian (afsussalam).
Kedua, ibadah berbasis tempat: shalat di Masjidil Haram dengan pahala 100.000 kali lipat dan Masjid Nabawi dengan pahala 1.000 kali lipat, serta Raudhah sebagai tempat mustajab doa.
Ketiga, ibadah berbasis waktu (tahajjud): dr. Agus yang juga seorang dokter spesialis saraf menjelaskan manfaat medis tahajjud. "Orang yang rajin tahajjud kortisolnya rendah dan kekebalan tubuhnya meningkat. Kuncinya adalah tidur cukup setelah Isya dan bijak menggunakan smartphone," tuturnya.
Keempat, ibadah Ramadhan: Bulan di mana pintu surga dibuka dan setan dibelenggu. Mengutip Prof. Quraish Shihab, Ramadhan memiliki dua makna besar: mengasah keimanan hingga menjadi pribadi muttaqin, serta membakar dosa-dosa melalui puasa dan qiyamul lail, hingga seorang Muslim kembali suci saat Idulfitri.
Menutup pengajian, Agus berpesan agar para guru tidak hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja saat berpuasa. Agus menekankan pentingnya menahan amarah karena secara medis, marah dapat memicu stroke dan jantung koroner.
"Ramadhan adalah momentum untuk mengasah hati menjadi pribadi muttaqin dan membakar dosa-dosa masa lalu hingga kita kembali fitrah," pungkasnya sembari mengajak jamaah memperbanyak dzikir Hasbunallah wani’mal wakil. (MA/D)

