Tanwir Muhammadiyah dan Gagasan Sekolah Kesenian di Kota Palu
Tanwir Muhammadiyah dan Gagasan Sekolah Kesenian di Kota Palu
Oleh: Rahmat Balaroa (Kepala SMA Muhammadiyah Qursains Wonogiri)
November 2026, Kota Palu resmi menjadi tuan rumah perhelatan Tanwir Muhammadiyah. Agenda tanwir, sebagaimana yang kita ketahui adalah forum Muhammadiyah secara nasional yang membawa agenda krusial untuk merumuskan arah pembaruan peradaban bangsa. Satu hal yang menarik dari tanwir kali ini, yaitu pemilihan daun kelor sebagai ikon utama logo resmi Tanwir. Kelor merupakan gambaran hidup masyarakat Kaili, yang tumbuh subur di Palu menyimpan filosofi yang teramat dalam. Sebagaimana yang ditegaskan Prof. Haedar Nashir, bahwa daun kelor melambangkan kesederhanaan dan ketangguhan hidup di segala cuaca, keluasan wawasan dan jelajah pergerakan, serta sumber manfaat dan kesejahteraan bagi masyarakat.
Sebagai kader yang tumbuh besar di Kota Palu, penetapan kota Palu sebagai tuan rumah perhelatan besar ini saya kira adalah pilihan yang tepat, sebagai momentum memperluas dakwah kesenian, kebudayaan sekaligus pendidikan Muhammadiyah. Sebab, akan ada banyak hal yang sekiranya perlu mendapatkan perhatian terutama pada bidang pendidikan, kesenian, dan kebudayaan. Kota Palu, hari ini tengah dihadapkan dengan krisis kebudayaan lokal sehingga semangat filosofis daun kelor ini menemukan relevansi, yakni ancaman terputusnya transmisi bahasa dan kebudayaan Kaili kepada generasi muda. Di titik inilah, gagasan pendirian SMA Seni Muhammadiyah terutama di Kota Palu perlu menjadi perhatian.
Sinyal bahaya terhadap kebudayaan Kaili bukan lagi rekaan, melainkan fakta yang tidak lagi ditemukan celahnya untuk dibantah. Riset sosiolinguistik menunjukkan porsi penutur harian bahasa Kaili di Palu merosot hingga tinggal 45 persen. Peneliti asal Amerika Serikat, Donna Evans, jauh-jauh hari telah menyuarakan ancaman kepunahan bahasa Kaili di Lembah Palu. Studi terbaru Syamsuddin dkk. (2025) di Tawaeli mengungkap fakta pahit bahwa generasi muda enggan bertutur bahasa daerah karena terkepung stigma sosial dan tekanan sebaya. Berbahasa ibu kerap dipersepsikan "kurang gaul" atau Kuper.
Kondisi itu diperparah oleh materi pembelajaran muatan lokal di sekolah yang cenderung kaku dan monolitik. Di sisi lain, riset Nasim Taha (2015) mengindikasikan bahwa benteng pertahanan kebudayaan Kaili selama ini hampir seluruhnya bertumpu pada napas swadaya para seniman lokal melalui sanggar dan karya independen. Perjuangan sunyi ini membutuhkan pelembagaan melalui jalur pendidikan formal terstruktur. Pada saat bersamaan, terdapat realitas pragmatis yang tentu perlu dijawab persyarikatan. Ada unit sekolah menengah milik Muhammadiyah di Palu yang kini berjuang keras menghadapi krisis peminat dan nyaris kehilangan siswa.
Membiarkan fasilitas tersebut terbengkalai tentu merugikan. Mengubah arah dan merancang ulang (re-branding) sekolah menjadi Sekolah Seni Muhammadiyah menurut hemat saya adalah tawaran solusi rasional dan terukur. Seperti halnya daun kelor yang tangguh tumbuh di mana saja, re-branding ini memberikan daya tahan dan daya pikat baru bagi aset persyarikatan. Inisiatif re-branding ini memiliki rasionalitas keberlanjutan yang sangat kuat karena disokong oleh pilar-pilar kekuatan utama Muhammadiyah. Dengan mengelola belasan ribu sekolah serta lebih dari 160 Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) di seluruh Indonesia, Muhammadiyah memiliki keahlian tata kelola dan legalitas pendidikan yang sangat matang. Kemandirian finansial berbasis dana persyarikatan, wakaf, dan badan usaha milik organisasi memberi survival rate jauh lebih tinggi dibandingkan sekolah swasta independen biasa. Terlebih lagi, rekam jejak brand trust Muhammadiyah memberikan kepercayaan instan bagi orang tua murid di Sulawesi Tengah terkait pembinaan karakter, moral, dan disiplin siswa.
Jejaring akademik PTMA terdekat maupun pusat dapat dikolaborasikan untuk penguatan kurikulum humaniora dan komunikasi. Lembaga Seni Budaya (LSB) Muhammadiyah pun telah siap memayungi pendayagunaan budaya lokal. Untuk merespon keterbatasan guru seni spesialis berlatar belakang kader, seperti etnomusikologi atau seni tari, skema rekrutmen terbuka dari Perguruan Tinggi Seni (ISI/ISBI) serta kolaborasi praktisi lokal Palu dapat digabungkan dengan tenaga pendidik reguler persyarikatan.
Di sebagian kalangan, gagasan mendirikan sekolah seni di bawah naungan organisasi Islam kerap memicu pertanyaan mengenai cara Muhammadiyah memandang seni. Dalam dokumen pimpinan dan putusan Tarjih, seni tidak pernah dipandang sebagai barang haram atau sekadar hiburan periferal yang melalaikan. Seni memiliki karakteristik yang sangat khas dalam paradigma Seni Berkemajuan. Seni diakui sebagai tajalli keindahan Illahi yang mengekspresikan fitrah manusia dalam mengagungkan nilai-nilai Jamal (keindahan) dan Kamal (kesempurnaan) ciptaan Allah.
Berbeda dengan doktrin Barat art for art's sake yang bebas nilai, seni dalam Muhammadiyah terikat secara etis dan kultural, bersifat edukatif, fungsional, serta menjadi sarana amar ma'ruf nahi munkar. Seni diekspresikan untuk mengangkat martabat kemanusiaan, menyuarakan keadilan sosial, dan memulihkan jiwa (catharsis). Seni tradisi seperti tarian Kaili, musik Kakula, dan sastra lisan diakui sebagai kekayaan kultural yang disucikan dari takhayul, lalu diangkat nilai estetikanya sebagai media dakwah mencerahkan.
Pilihan bentuk pendidikan menengah ini didasarkan pada orientasi pembentukan manusia utuh (insan kamil). Pendidikan nasional kita kerap terjebak pada orientasi kognitif-instrumental yang mencetak tenaga kerja mekanis seraya mengabaikan apa yang disebut Ki Hajar Dewantara sebagai Olah Rasa. Filsuf Aristoteles dalam Poetics mengingatkan bahwa seni adalah sarana catharsis (penyucian emosi) dan pembentuk ethos (karakter moral). Bagi masyarakat Palu, seni adalah media pemulihan jiwa dari trauma sejarah dan bencana alam. Pilihan jenjang pendidikan menengah ini memastikan siswa tidak hanya dibekali keterampilan praktis, melainkan wawasan teoretis, sains, keislaman, dan filsafat kebudayaan yang mendalam. Sekolah ini disiapkan melahirkan art scholars, pemikir, kurator, kritikus, dan pencipta karya yang siap membawa kekayaan dialek dan tradisi Kaili ke panggung akademis global.
Integrasi kebudayaan lokal ini pun kian relevan jika disandingkan dengan industri kreatif digital modern. Pilihan keahlian seperti Desain Komunikasi Visual, animasi, film, dan audio production sangat selaras dengan kebutuhan dakwah digital persyarikatan dan peluang kerja masa depan. Sebagaimana falsafah daun kelor pada logo Tanwir, SMA Seni Muhammadiyah di Palu dirancang untuk melahirkan generasi yang tangguh menjaga identitasnya, memiliki keluasan wawasan untuk mengolah tradisi lokal secara inklusif, serta memberi manfaat nyata bagi kemakmuran kebudayaan daerah. Mendirikan atau merancang ulang sekolah ini bukan hanya soal menambah bangunan fisik, melainkan menghidupkan kembali aset persyarikatan dengan jiwa pencerahan.