YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Bagi kaum beriman, tauhid menjadi landasan hidup yang amat penting dan tidak dapat dipisahkan dari setiap langkah, pergerakan, hingga perjuangan untuk menciptakan peradaban yang unggul dan berkemajuan. Tauhid atau yang akrab disebut iman sejatinya menjadi dinamo bagi seorang Muslim untuk beramal, dan dari amal itu lahir peradaban gemilang seperti yang pernah kita baca atau dengar melalui sejarah masa lalu.
Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu'ti dalam panel kelima Pengajian Ramadan 1447 H Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan bahwa bertauhid secara murni berarti mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Atau dalam versi lain sebagaimana pernah diutarakan Nurcholis Madjid atau Cak Nur, tidak ada Tuhan selain Tuhan.
Tidak cukup sampai disitu, Mu'ti pun menarik dimensi tauhid ke dalam takaran yang lebih praktis. Tidak terbatas hanya pada ibadah mahdhoh. Oleh karena itu, Muhammadiyah yang hadir lebih dari 100 tahun telah mentransformasikan tauhid pada semangat untuk mengikis kesenjangan sosial, mencerdaskan dan meningkatkan kesejahteraan umat, membangun layanan kesehatan yang mudah diakses dan dijangkau oleh siapa saja, dan lain sebagainya.
"Maka tidak heran jika tauhid yang dijalankan oleh Muhammadiyah ini menumbuhkan sikap egaliter dan menciptakan masyarakat yang egaliterian," ujarnya di Dormitory UMY (22/2).
Tauhid menurut pandangan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI itu juga menumbuhkan jiwa merdeka. Kembali ke zaman Rasulullah, tauhid menjadi kekuatan pembebasan yang luar biasa. Mendorong manusia untuk naik kelas dan menghilangkan segala bentuk perbudakan. Dalam konteks ini, metafora yang dapat disajikan adalah sebagai digambarkan dalam Al-Qur'an sebagai sajaroh thoyyibah. "Pohon yang indah, akarnya kokoh dan cabang serta rantingnya menjulang ke langit. Dan yang tak kalah penting menghasilkan buah yang setiap waktu berbuah dengan izin Allah," Mu'ti mencontohkan.
"Ini merupakan iman yang tumbuh dalam perilaku dan dalam akhlak yang memberikan kebaikan kepada orang lain," tegasnya.
Mu'ti menambah, tauhid yang murni harus mampu teraktualisasi ke dalam amal sholeh. Lebih jauh lagi, tidak hanya teraktualisasi, tapi juga mencapai dimensi konkretisasi dan objektivikasi. Memaknai hal ini, Kunto Wijoyo sering menyampaikan kritiknya kepada umat Islam yang masih terjebak pada ferbalisme, dan melupakan aksi konkritnya untuk membangun peradaban. Mu'ti pun dalam kesempatan tersebut kembali mendorong warga Persyarikatan untuk melakukan transformasi keimanan untuk menyebarkan kebaikan dan kemajuan peradaban.
"Tauhid itu harus bisa mentransformasikan warga Muhammadiyah yang penuh dengan etos, transparansi, akuntabilitas, dan kualitas," tutupnya. (diko)

