Tidak Sekadar Indah, Busana Menjadi Medium Komunikasi Identitas dan Nilai

Suara Muhammadiyah

22 May 2026

239

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Dekan Fakultas Sosial dan Humaniora (FSH) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Dr Irianti Usman MA menegaskan bahwa busana tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap penampilan. Namun, lebih daripada itu, busana sejatinya menjadi sarana komunikasi yang menunjukkan identitas dan nilai seseorang.

Hal tersebut disampaikannya saat memberikan sambutan dalam pameran Kain & Kebaya IBU #3 yang digelar Prodi Kriya Tekstil & Fashion bekerja sama dengan Yayasan Batik Jawa Barat dan Pusat Studi Wastra Nusantara UM Bandung pada Rabu (20/05/2026).

Pameran tersebut dihadirkan sebagai ruang penghormatan bagi jejak budaya, ingatan, dan kasih perempuan Nusantara yang terpatri melalui kain dan kebaya. Dalam kesempatan itu, Irianti menyinggung sebuah konten di media sosial milik selebritas Okky Asokawati yang menurutnya menyampaikan pesan menarik tentang makna penampilan.

“Saya melihat konten Okky Asokawati di media sosial dengan busananya yang sangat bagus. Namun, bagi saya, ini bukan soal busananya, melainkan apa yang dia katakan. Dia mengatakan, ketika seseorang berpakaian indah, tampil indah, dan berada di lingkungan yang indah, sejatinya dia sedang berkomunikasi kepada semua orang tentang siapa dirinya,” ujar Irianti.

Menurutnya, apa yang dikenakan seseorang pada dasarnya menjadi representasi diri sekaligus pesan yang disampaikan kepada orang lain. “Ketika kita berpakaian seperti apa yang kita kenakan saat ini, sejatinya kita sedang mengatakan, ‘Saya orangnya seperti ini, lho’,” katanya.

Irianti juga menyoroti anggapan bahwa seni, kriya, tekstil, dan fashion merupakan bidang yang bebas nilai (value free). Irianti menilai pandangan tersebut kurang tepat karena seni justru dapat menjadi media untuk menampilkan nilai dan keyakinan yang dianut seseorang.

“Kalau ada yang mengatakan bahwa ilmu seni, kriya, tekstil, dan fashion itu value free, menurut saya itu kurang tepat. Kenapa? Karena melalui seni, justru kita juga bisa menunjukkan siapa Tuhan kita. Tuhan kita yang Maha Indah dan menyukai keindahan,” tegasnya.

Irianti juga mengingat buku karya Profesor Nanang Rizali yang mengupas tentang napas Islam dan batik Indonesia. Karya tersebut sangat bagus. Irianti pun melihat bahwa seni bukan ilmu yang berdiri sendiri, melainkan terbentuk dari perpaduan berbagai disiplin seperti kimia, fisika, matematika, teknologi, dan bidang ilmu lainnya.

Oleh karena itu, Irianti mengapresiasi pameran Kain & Kebaya IBU #3 yang dinilainya memperlihatkan pentingnya kolaborasi lintas ilmu. “Hari ini saya bangga dan mengapresiasi acara ini yang mampu menampilkan karya-karya seni luar biasa. Ini hasil kolaborasi dosen dari fakultas dan program studi lain. Ini juga menunjukkan bahwa ilmu harus saling terintegrasi, tidak bisa berjalan sendiri-sendiri,” pungkasnya.*(FA)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

Internasionalisasi Bahasa Indonesia Jadi Prioritas MAKASSAR, Suara Muhammadiyah — Universita....

Suara Muhammadiyah

20 March 2025

Berita

BANYUWANGI. Suara Muhammadiyah – Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Banyuwangi bersama Perkumpulan....

Suara Muhammadiyah

22 February 2024

Berita

CIREBON, Suara Muhammadiyah — Pekerja Migran Indonesia (PMI) masih menghadapi berbagai tantang....

Suara Muhammadiyah

9 December 2023

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Sebagai Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Hilman ....

Suara Muhammadiyah

30 June 2026

Berita

LAMTIM, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Cabang Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Pekalongan mengadakan ....

Suara Muhammadiyah

11 July 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah