SUKABUMI, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) bersama MAGMA menggelar Talkshow Edukasi Bekerja di Eropa: “Memahami Peluang, Mengenali Masalah, Menyiapkan Diri” di Auditorium UMMI dan secara daring pada Selasa (29/09/2026). Kegiatan ini diikuti mahasiswa, dosen, perwakilan organisasi otonom Muhammadiyah, serta siswa SMA/sederajat dari wilayah Kota dan Kabupaten Sukabumi.
Kegiatan menjadi ruang edukasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memperoleh informasi mengenai peluang bekerja di Eropa, termasuk Jerman, sekaligus memahami berbagai persyaratan, jalur penempatan, risiko, dan bentuk perlindungan bagi calon Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Talkshow menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Kombes Pol. Singgih Hermawan, S.I.K., M.A.P., Kepala Balai Pelayanan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Jawa Barat, Dr. Ujuh Juhana, M.H., Dosen UMMI, serta Dr. rer. nat. Pelita Octorina, alumni universitas di Jerman, Pengurus PCIM Jerman, sekaligus Dosen UMMI. Kegiatan juga melibatkan MAGMA serta mitra GIZ Indonesia & ASEAN, Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Jerman dan Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam penguatan edukasi mengenai migrasi aman.
Dalam sambutannya, Project Manager WP1 MAGMA Dr.phil. Retno Widyastuti, M.A. menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan merupakan proses rekrutmen tenaga kerja. Menurut Retno, kegiatan ini diarahkan untuk membantu peserta memahami pilihan dan menilai kesiapan diri sebelum mengambil keputusan untuk bekerja atau bermigrasi ke luar negeri.
“Migrasi itu tidak dimulai dari tiket pesawat saja, tapi dimulai dari informasi yang benar dan persiapan yang matang,” ujarnya.
Dr.phil. Retno Widyastuti, M.A. juga menjelaskan bahwa peserta diharapkan tidak hanya memperoleh informasi, tetapi mampu melakukan refleksi mengenai kesiapan diri dan menentukan langkah konkret yang perlu dilakukan setelah mengikuti kegiatan. Persiapan tersebut dapat berupa peningkatan kemampuan bahasa, kompetensi tertentu, maupun pencarian informasi mengenai negara tujuan dan jalur migrasi yang sesuai.
Retno menekankan bahwa tujuan utama kegiatan bukan mendorong semakin banyak orang untuk berangkat ke negara tertentu, melainkan memastikan keputusan mengenai migrasi dibuat berdasarkan informasi yang cukup, persiapan yang realistis, serta pemahaman terhadap peluang dan risiko.
Perwakilan Project Center for Migration and Development GIZ Indonesia & ASEAN, Dipl. Ing. Makhdonal Anwar, MA, menyampaikan bahwa edukasi mengenai migrasi aman menjadi bagian penting dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai jalur legal dan prosedural untuk bekerja di luar negeri.
GIZ Indonesia melalui Project Center for Migration and Development mendukung penguatan kapasitas berbagai pihak dalam pengelolaan migrasi tenaga kerja. Salah satunya melalui layanan konsultasi MOVE-ID Advisory Center yang memberikan informasi mengenai migrasi aman ke Jerman maupun negara tujuan lainnya.
Menurutnya, masyarakat perlu memahami jalur penempatan resmi agar dapat menghindari praktik-praktik tidak prosedural yang dapat merugikan calon pekerja migran.
Sementara itu, Rektor UMMI Prof. Dr. Reny Sukmawani, M.P. menyampaikan bahwa kesempatan bekerja dan memperoleh pengalaman di luar negeri menjadi salah satu cita-cita yang dimiliki generasi muda. Namun, keinginan tersebut perlu disertai pengetahuan dan keterampilan yang memadai.
“Bagaimana caranya agar kita bisa berkarya di luar negeri tetapi dengan aman. Yang paling penting bekalnya harus cukup, tentu saja bekal pengetahuan dan keterampilannya,” tuturnya.
Dia juga mengapresiasi kolaborasi UMMI, MAGMA, GIZ, dan berbagai pihak dalam menghadirkan edukasi mengenai peluang kerja di luar negeri. Menurut Reny, kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa dan siswa untuk memperoleh wawasan sebelum menentukan rencana karier internasional.
Dalam keynote speech, Kombes Pol. Singgih Hermawan, S.I.K., M.A.P., memaparkan kondisi Pekerja Migran Indonesia di Jawa Barat serta berbagai bentuk pelindungan yang tersedia. Jawa Barat menjadi salah satu wilayah dengan jumlah PMI yang besar, sehingga pemahaman mengenai prosedur penempatan dan perlindungan menjadi hal penting bagi calon PMI.
Materi juga menjelaskan bahwa perlindungan PMI mencakup tahap sebelum bekerja, selama bekerja, hingga setelah bekerja. Perlindungan tersebut antara lain mencakup pencegahan penempatan nonprosedural, layanan pengaduan, pemenuhan hak PMI, fasilitasi jaminan sosial atau asuransi, hingga layanan kepulangan.
Calon PMI juga perlu memenuhi sejumlah persyaratan, antara lain berusia minimal 18 tahun, memiliki kompetensi sesuai pekerjaan, memenuhi persyaratan kesehatan, terdaftar dalam jaminan sosial, serta memiliki dokumen administratif yang diperlukan.
Dalam pemaparannya, Kombes Pol. Singgih Hermawan, S.I.K., M.A.P. turut menjelaskan berbagai skema penempatan PMI, seperti Government to Government (G to G), Government to Private (G to P), Private to Private (P to P), skema mandiri, dan Untuk Kepentingan Perusahaan Sendiri (UKPS). Pemahaman terhadap skema tersebut penting agar calon pekerja dapat memilih jalur penempatan yang sesuai dan mendapatkan proses serta perlindungan yang jelas.
Jerman menjadi salah satu negara yang dibahas dalam kegiatan tersebut. Materi memaparkan peluang kerja bagi tenaga profesional Indonesia melalui kerja sama penempatan Indonesia–Jerman, termasuk bidang Registered Nurse, Nurse, Food & Beverage Manufacturing Industry, Hospitality, dan Facility Management.
Selain itu, peserta diperkenalkan dengan peluang Green Jobs yang berkembang seiring transisi menuju ekonomi hijau. Beberapa bidang yang disebutkan meliputi energi terbarukan, green construction, e-mobility, green manufacturing, electrical engineering, HVAC building technology, agriculture and horticulture, serta digital/environmental technology.
Khusus bidang keperawatan, materi juga membahas Program G to G Jerman untuk perawat, termasuk peluang bekerja di rumah sakit dan klinik, pengembangan karier sebagai Registered Nurse, serta pentingnya pemenuhan kompetensi dan sertifikasi profesi.

