Ustadz Adi Hidayat Dorong Masjid sebagai Pusat Pemberdayaan Ekonomi Menuju Kesejahteraan Umat

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
808
Dr (HC) Adi Hidayat, Lc., MA., PhD. Foto: Cris

Dr (HC) Adi Hidayat, Lc., MA., PhD. Foto: Cris

BATU, Suara Muhammadiyah - Hampir sebagian besar umat Islam meletakkan fungsi masjid sebagai tempat shalat (peribadatan). Meskipun hal itu tidaklah keliru, tetapi cara pandang hal ihwal masjid harus ditinjau lebih luas.

Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ustadz Adi Hidayat menyampaikan hal tersebut dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Sabtu (25/10) di Kusuma Agrowisata Resort & Convention Batu-Malang, Jawa Timur.

"Secara antropologis dan sosiologis, masjid berfungsi sebagai pusat solusi: orang datang ke masjid bukan hanya untuk beribadah, tetapi juga untuk bertanya, berdiskusi, mendiskusikan persoalan sosial, politik, ekonomi, dan mencari jalan keluar," katanya.

Melongok pada kehidupan zaman Nabi Muhammad Saw, masjid sering menjadi pusat kegiatan ekonomi: tempat perdagangan, pusat distribusi, tempat berkumpulnya para pedagang. "Bahkan menjadi basis gerakan solidaritas kolektif," imbuhnya.

Dalam praktik, masjid idealnya melakukan hal-hal berikut secara simultan. Pertama, ruang spiritual, yaitu tempat shalat, pengajian, pembinaan ruhiyah. Kedua, ruang pendidikan, yakni madrasah, kelas-kelas keterampilan, kajian ilmu pengetahuan.

Ketiga, ruang sosial-ekonomi, koperasi, lembaga penunjang usaha, pasar lokal yang dikelola komunal. Keempat, ruang budaya, kegiatan kesenian yang sesuai syariat, pembentukan karakter.

"Sejarah Islam menunjukkan contoh konkret bagaimana ekonomi terorganisir di sekitar masjid. Nabi dan para sahabat menjadikan masjid sebagai titik pertemuan ekonomi: berdagang, kerja sama usaha, serta pembagian hasil secara adil," terangnya.

Konsep saling tolong (ta'awun) dan kerja sama (syirkah), sambung Ustadz Adi, menjadi landasan moral ekonomi. Ketika struktur ekonomi ini berjalan, masyarakat mengalami stabilitas: kebutuhan terpenuhi, kriminalitas menurun, ketahanan sosial meningkat.

Sebagai contoh praktis dari sejarah ditemukan pada masa awal Islam, di mana banyak aktivitas perdagangan dan usaha yang terpusat di sekitar masjid. Bahkan tokoh-tokoh ekonomi pertama muncul dari komunitas masjid. 

"Masjid tidak hanya mengurusi ibadah, tapi juga memfasilitasi akses ekonomi masyarakat," jelasnya.

Di situlah penegasan Ustadz Adi bahwa, Masjid sebagai titik fungsi ekonomi. Maknanya, semua kegiatan yang dikelola di masjid harus punya orientasi manfaat jangka panjang.

"Mari kita sedikit sentuh aspek praktik ekonomi: model koperasi, syirkah, dan bentuk usaha kolektif lain merupakan kelanjutan praktik Nabi yang menekankan kebersamaan ekonomi. Koperasi masjid dan unit usaha berbasis jamaah bisa menjadi motor pemberdayaan ekonomi lokal," timpalnya.

"Masjid harus menjadi pusat solusi: bila ada masalah keluarga, hukum, ekonomi, masjid harus menjadi tempat konsultasi dan penyelesaian," tutupnya. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

KEDAH, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara dan Universiti Utara Malaysia (U....

Suara Muhammadiyah

23 October 2025

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Hari Jumat sore 29 Maret 2024 menjelang buka puasa para Pimpinan Rant....

Suara Muhammadiyah

30 March 2024

Berita

LAMONGAN, Suara Muhammadiyah - Ramadhan adalah waktu di mana iman diuji bukan hanya di sajadah, teta....

Suara Muhammadiyah

20 February 2026

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah — Dalam semangat mempererat sinergi antara pemerintah daerah dan b....

Suara Muhammadiyah

20 June 2025

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Duta Literasi Manajemen Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung me....

Suara Muhammadiyah

11 June 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah