YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Menjalankan kepemimpinan itu merupakan sebuah proses yang panjang. Demikian vital dan strategisnya kepemimpinan suatu kelompok sosial, termasuk Muhammadiyah.
“Kita dibentuk oleh pergemulan. Kita dibentuk oleh masalah. Kita dibentuk oleh keberhasilan. Kita dibentuk oleh benturan. Kita dibentuk oleh banyak relasi-relasi yang tidak selalu tunggal,” tegas Haedar Nashir.
Lewat kepemimpinan itu, kata Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut, ada semacam ruang untuk melatih diri tampil sebagai manusia arif-bijaksana (wisdom).
“Wisdom itu tidak ada di toko, tidak ada di mall, tidak ada di text book, bahkan mereka yang di dunia akademik jadi doktor, jadi profesor belum tentu bisa menumbuhkan wisdom,” bebernya.
Di situlah relevansi kehadiran Muhammadiyah, ‘Aisyiyah, dan berikut ortom seperti Nasyiatul Aisyiyah sebagai tempat untuk menumbuhkan wisdom. Demikian dikemukakan Haedar, Jumat (2/10) saat Ta’aruf PP Nasyiatul Aisyiyah periode 2026-2030 di SM Tower Malioboro Yogyakarta.
“Dan dalam konteks Islam wisdom (kearifan, al-hikmah) terhubung dengan Yang Maha Segalanya,” tuturnya.
Bagi Haedar, seseorang yang diberi al-hikmah selalu diberikan kebajikan terbaik. Dan kebajikan terbaik itu bisa diperoleh salah satunya lewat koridor kepemimpinan.
“Kebaikan terbaik produk dari al-hikmah itu kita peroleh dalam proses perjalanan panjang hidup kita, termasuk menjadi pemimpin,” ujar Haedar.
Dalam pengejawantahan kepemimpinan selain kearifan dan kebijaksanaan, pada saat yang sama diperlukan pula kematangan (maturity). “Kematangan tidak selalu berkorelasi dengan usia,” ucapnya. Dengan kata lain, regenerasi tidak selalu ekuivalen dengan usia.
“Ada orang yang sudah terlalu senior tapi tidak matang-matang dalam hidupnya. Ada juga yang sebenarnya usianya belum waktunya tapi sudah terlihat ada kematangan dalam dirinya,” katanya.
Haedar berpesan agar jangan pernah mengeluh dengan masalah yang didera. “Orang yang hebat adalah orang yang dia tegar mengadapi masalah biarpun hatinya, rasanya kelihatan remuk,” bebernya. Yang demikianlah itu merupakan pantulan dari seorang pemimpin.
“Dan selalu merasa bahwa ada sesuatu meaning (makna) yang kita peroleh. Saya yakin PP NA ini juga selama 4 tahun adalah tempat belajar untuk mencari dan memperoleh makna yang lebih baik,” jelas Pemimpin Redaksi Suara Muhammadiyah itu.
Dan di situlah Haedar mengajak untuk menumbuhkan persaudaraan, rasa kasih sayang, dan keakraban. Bahkan ketika di antara personal ditimpa masalah atau cobaan, niscaya tergerak hatinya untuk tolong menolong menemukan jalan keluarnya.
“Dan persaudaraan itu yang menghidupkan Muhammadiyah sebagai sistem kolektif-kolegial yang punya nilai. Sistem kolektif-kolegial tidak akan bisa hidup tanpa ada rasa persaudaraan yang hidup,” tegasnya sekali lagi.
Haedar berpesan agar jadikan Muhammadiyah, ‘Aisyiyah, Nasyiatul Aisyiyah, dan seluruh pergerakan di lingkungan Persyarikatan sebagai cita-cita luhur.
“Sebagai aktualisasi kita beribadah kepada Allah dan menjalankan fungsi kekhalifahan di muka bumi untuk memakmurkan alam semesta yang siapa tahu itu menjadi amal jariyah kita,” tandasnya. (Cris)

