Berani Memimpin, Berani Dinilai

Suara Muhammadiyah

21 September 2026

137
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Berani Memimpin, Berani Dinilai; Menata Diri dalam Amanah Kepemimpinan Persyarikatan

Oleh: Muthiah Umar, Wakil Ketua PWA Jawa Barat

Ada kalanya kita perlu berhenti sejenak dari kesibukan organisasi, lalu bertanya kepada diri sendiri: Untuk apa sesungguhnya kita menerima amanah kepemimpinan?

Pertanyaan ini sederhana, tetapi penting. Sebab dalam Persyarikatan Muhammadiyah, kepemimpinan bukan sekadar posisi struktural. Ia adalah amanah, pelayanan, dan bagian dari pengabdian kepada Allah Subhanahu wata’alaa.

Karena itu, menjadi pimpinan Muhammadiyah sesungguhnya bukan hanya tentang bagaimana kita memimpin orang lain, tetapi juga tentang bagaimana kita telah menjaga kepemimpinan diri sendiri.

Al-Qur'an memberikan pesan yang sangat jelas: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58)

Ayat ini mengingatkan bahwa amanah harus diberikan kepada orang yang tepat dan dijalankan dengan keadilan.

Dalam kehidupan Persyarikatan, amanah itu dapat berupa jabatan sebagai pimpinan, anggota majelis, pengelola amal usaha, atau berbagai bentuk tanggung jawab organisasi lainnya. Semuanya bukan milik pribadi. Ada kepercayaan Persyarikatan yang melekat di dalamnya.

Karena itu, alih-alih mengejar kesempatan untuk menjadi pimpinan, bahkan ketika menerima amanah, semestinya yang pertama tumbuh bukan kebanggaan karena mendapatkan jabatan, melainkan kesadaran: apa yang harus saya pertanggungjawabkan?

Jabatan akan selesai. Periode kepemimpinan akan berakhir. Tetapi pertanggungjawaban atas amanah tidak berhenti bersama berakhirnya masa jabatan.

Baik Saja Tidak Cukup

Islam memberikan ukuran yang menarik tentang orang yang layak diberi amanah. 

“Sesungguhnya sebaik-baik orang yang engkau pekerjakan adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (QS. Al-Qashash ayat 26)

Ada dua kata penting dalam ayat ini: al-qawiy dan al-amin. Al-qawiy dapat dimaknai sebagai kekuatan, kemampuan, kompetensi, dan kecakapan dalam menjalankan tugas. Sedangkan al-amin menunjuk pada amanah, integritas, kejujuran, dan dapat dipercaya.

Keduanya harus berjalan bersama. Pemimpin yang amanah tetapi tidak memiliki kemampuan yang memadai dapat kesulitan membawa organisasi mencapai tujuan. Sebaliknya, pemimpin yang sangat cakap tetapi tidak amanah dapat menggunakan kemampuan dan kewenangannya untuk kepentingan yang keliru.

Maka, menjadi pemimpin yang baik tidak cukup hanya dengan memiliki niat baik. Diperlukan pula kemampuan yang baik dan kemauan untuk terus belajar. Karena di Persyarikatan Muhammadiyah, menempatkan amanah, tanggung jawab, keteladanan, dan kemampuan membaca masa depan sebagai bagian penting dari tata kelola kepemimpinan Persyarikatan.

Bersediakah Kita Dinilai?

Di sinilah persoalan yang sering kali tidak mudah. Kita senang memberikan penilaian kepada orang lain. Kita mudah mengatakan bahwa suatu program tidak berhasil, seorang pimpinan kurang aktif, organisasi tidak berkembang, atau seseorang tidak mampu menjalankan tugasnya.

Tetapi, apakah kita juga bersedia ketika diri kita dinilai? Evaluasi terhadap pimpinan bukanlah penghinaan terhadap pemimpin. Evaluasi adalah bagian dari menjaga amanah. Seorang pemimpin yang baik semestinya tidak alergi terhadap evaluasi. 

Pertanyaan yang penting disampaikan secara berkala pada diri seorang pemimpin adalah: Apakah program yang saya jalankan benar-benar bermanfaat? Apakah keputusan saya sesuai dengan kepentingan Persyarikatan? Apakah saya mampu bekerja bersama orang lain? Apakah saya mendengarkan sebelum mengambil keputusan? Apakah saya telah menggunakan kewenangan secara bertanggung jawab? Apakah setelah saya memimpin, organisasi menjadi lebih baik daripada sebelumnya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan untuk menjatuhkan diri, melainkan untuk menjaga diri dari buruknya masa hisab kelak.

Setiap pemimpin membutuhkan cermin. Cermin itu dapat berupa evaluasi kinerja, laporan organisasi, musyawarah, pengawasan, kritik dari kolega, masukan dari kader, bahkan teguran dari orang yang kita pimpin.

Dalam Islam, manusia tidak diperintahkan untuk merasa selalu benar. Karena itu, kritik yang disampaikan dengan niat memperbaiki bukanlah ancaman terhadap kepemimpinan. Ia dapat menjadi bentuk nasihah dan amar ma'ruf nahi munkar secara internal.

Yang perlu dijaga adalah caranya. Menilai pemimpin harus dilakukan dengan adil, bukan dengan kebencian. Allah mengingatkan: “Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma'idah: 8)

Maka evaluasi kepemimpinan harus berbicara tentang fakta, kinerja, perilaku dan dampak, bukan tentang gosip, prasangka atau kelemahan pribadi yang tidak berkaitan dengan amanah. Kita tidak perlu mencari-cari kesalahan seseorang untuk membuktikan bahwa ia tidak layak menjadi pemimpin. Cukup lihat bagaimana amanah itu dijalankan.

Barangkali setiap pimpinan Muhammadiyah perlu memiliki semacam "rapor pribadi" yang sederhana. Bukan hanya rapor administrasi organisasi, tetapi rapor untuk diri sendiri. Periksa sikap amanah kita. Apakah saya sungguh-sungguh menjalankan tugas yang dipercayakan kepada saya?

Tidak perlu berbangga dengan tugas jabatan yang diberikan, sebelum kita mengenali kompetensi diri. Apakah saya memiliki kemampuan yang cukup untuk jabatan ini? Jika belum, apakah saya mau belajar dan meningkatkan kemampuan? Atau saat saya tahu ada pimpinan yang lebih kompeten dari saya, maka saya harus ikhlas menyerahkan tugas itu padanya. 

Periksa integritas kita. Apakah pikiran dan perkataan saya sejalan dengan tindakan saya?
Apakah saya berani mengambil tanggung jawab atas keputusan yang saya buat?
Apakah perilaku saya layak menjadi contoh bagi kader dan warga Persyarikatan?
Apakah saya mampu membangun kolaborasi atau justru menciptakan jarak, sekat, dan ketegangan? Apakah saya hanya menyelesaikan persoalan hari ini, atau juga menyiapkan Persyarikatan untuk masa depan? Apakah pekerjaan dan penggunaan sumber daya yang berada dalam tanggung jawab saya dapat dijelaskan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan?

Pertanyaan-pertanyaan itu sederhana. Namun jika dijawab dengan jujur, mungkin kita akan menemukan banyak hal yang harus diperbaiki.

Pemimpin bukan manusia yang sempurna. Pemimpin juga bisa salah mengambil keputusan. Bisa terlambat membaca perubahan. Bisa kurang mendengar. Bisa salah memilih prioritas. Bahkan bisa merasa sudah bekerja keras, sementara hasilnya belum memberikan kemajuan yang berarti.

Yang penting bukan apakah kita pernah salah. Yang penting adalah apakah kita mau mengakui, memperbaiki, dan belajar dari kesalahan tersebut. Di sinilah pentingnya kerendahan hati.

Kepemimpinan yang sehat tidak dibangun dari keinginan untuk selalu terlihat benar. Ia dibangun dari keberanian untuk mengakui kekeliruannya, menyadari pentingnya untuk terus belajar, menyadari pentingnya lebih banyak mendengarkan, mengakui bahwa saya membutuhkan orang lain, juga menyadari bahwa saya harus memperbaiki cara saya memimpin. Sikap semacam ini bukan kelemahan. Justru di situlah kekuatan hakiki seorang pemimpin.

Kepemimpinan Bukan Tentang Diri Kita

Muhammadiyah telah bertahan lebih dari satu abad bukan karena satu orang, satu generasi, atau satu kelompok pimpinan. Persyarikatan bertahan karena ada nilai, ideologi, amal usaha, kaderisasi, tradisi ilmu, dan kesediaan generasi demi generasi untuk melanjutkan perjuangan.

Karena itu, jangan sampai jabatan organisasi membuat kita berpikir bahwa Persyarikatan adalah milik kita. Kitalah yang menjadi milik perjuangan. Jabatan bukan tempat untuk membangun pengaruh pribadi. Jabatan adalah ruang untuk memperluas manfaat. Jabatan bukan tempat mencari penghormatan. Jabatan adalah kesempatan untuk memberikan pelayanan.

Jabatan bukan tentang berapa lama kita duduk di kursi kepemimpinan. Yang lebih penting adalah apa yang kita tinggalkan setelah kita tidak lagi duduk di sana. Pimpinan yang baik adalah orang yang meninggalkan sistem organisasi menjadi lebih kuat, kaderisasi berjalan dengan meritokrasi, amal usaha berkembang signifikan, kepercayaan warga pada persyarikatan meningkat. Pendeknya, pemimpin yang baik telah meninggalkan fondasi yang kuat untuk generasi berikutnya.

Pada akhirnya, kualitas Persyarikatan sangat bergantung pada kualitas manusia yang mengelolanya. Sistem yang baik membutuhkan manusia yang amanah. Program yang baik membutuhkan pemimpin yang bertanggung jawab. Organisasi yang besar membutuhkan orang-orang yang mampu bekerja bersama dengan respek dan perasaan bahagia.

Karena itu, sebelum meminta orang lain berubah, pemimpin harus lebih dahulu berubah. Sebelum mengevaluasi pimpinan lain, pemimpin mengevaluasi diri. Sebelum menuntut kader bekerja lebih baik, pemimpin harus memberikan keteladanan.

Dan bila merasa perlu mempertahankan jabatan, tanyalah hati nurani, seelain regulasi organisasi yang memungkinkan, apakah saya masih menjadi orang yang paling tepat untuk menjalankan amanah ini?

Pertanyaan terakhir mungkin terasa berat. Tetapi justru keberanian mengajukan pertanyaan itulah yang dapat menyelamatkan kita dari kecintaan berlebihan terhadap jabatan. Sebab pada akhirnya, yang akan dikenang bukanlah berapa lama kita menjadi pimpinan, tetapi seberapa besar kemanfaatan yang kita hadirkan bagi Persyarikatan, umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Maka, kepemimpinan yang melekat pada kita harus dibarengi dengan semangat menata diri, menata niat, menata kompetensi, menata integritas, menata cara bekerja, menata hubungan dengan sesama, dan menata kembali makna kepemimpinan sebagai sebuah amanah. Karena menjadi pemimpin di Persyarikatan Muhammadiyah bukan sekadar kehormatan untuk diterima, tetapi amanah untuk ditunaikan. Wallahu a’lam bishsshowwab.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Pendekatan Integratif Pemberantasan Judi Online Oleh: Dr. Edi Sugianto, M.Pd, Dosen AIK  UMJ d....

Suara Muhammadiyah

28 June 2024

Wawasan

Dakwah Tak Hanya di Mimbar, Muhammadiyah Bantul Serukan Rutin Jalan Sehat Penulis : Yudha Kurniawan....

Suara Muhammadiyah

26 December 2025

Wawasan

Menilai Kualitas Ketakwaan Selepas Ramadhan Oleh: Mohammad Fakhrudin, Warga Muhammadiyah Magelang ....

Suara Muhammadiyah

15 April 2024

Wawasan

Pancasila di Tengah Krisis Keteladanan Abd Rohim Ghazali, Senior Fellow Maarif Institute, Wakil Ket....

Suara Muhammadiyah

1 June 2026

Wawasan

Bulan Ramadhan: Media Membangun Karakter Mental Pemenang Sejati Oleh: Rumini Zulfikar (Gus Zul), Pe....

Suara Muhammadiyah

14 March 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah