Bukan Mencari yang Sempurna, tapi Belajar Memahami Bersama
Oleh : Ahmad Afwan Yazid, M.Pd, Wakil Kepala SD Muhammadiyah 4 Kota Malang, Ketua KKG ISMUBA SD/MI Kota Malang, Praktisi Pendidikan dan Parenting Keluarga
Pernikahan dalam Islam bukanlah sekadar pertemuan dua insan yang saling menyukai, melainkan sebuah ikatan suci, sebuah mitsaqan ghalidha (perjanjian yang sangat kuat) yang diikat di hadapan Allah SWT. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang sering kali mengukur keberhasilan hubungan dari hal-hal materialis dan kesenangan sesaat, Islam menawarkan konsepsi yang jauh lebih mulia dan melintasi batas waktu: membangun keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah yang melangkah bersama hingga ke surga.
Mencapai keabadian cinta hingga ke akhirat tidak terjadi secara kebetulan. Ia memerlukan komitmen dua jiwa yang rela saling bergandengan tangan, belajar untuk saling memahami, serta bersedia mengikis ego demi menggapai keridaan Sang Pencipta.
Allah SWT telah mendesain pernikahan sebagai sumber ketenangan batin (sakinah). Kedamaian ini tidak hadir dari rumah yang megah atau harta yang berlimpah, melainkan dari keterikatan jiwa yang dibangun atas dasar iman. Allah SWT berfirman:
وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepandanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir." (QS. Ar-Rum: 21)
Dalam ayat ini, kata sakinah menggambarkan kondisi hati yang tenang, bebas dari rasa cemas dan gelisah. Ketenteraman tersebut adalah pondasi utama. Ketika suami dan istri mampu menjadikan rumah mereka sebagai tempat perlindungan dari kerasnya dunia, di situlah mawaddah (cinta yang membara) dan rahmah (kasih sayang yang penuh kepedulian) tumbuh dengan subur.
Seni Saling Memahami dan Mengerti
Manusia diciptakan dengan latar belakang, karakter, dan pola pikir yang berbeda. Ketika dua individu disatukan dalam satu atap, perbedaan adalah hal yang tak terelakkan. Di sinilah letak ujian sesungguhnya dari sebuah pernikahan. Saling memahami bukan berarti menuntut pasangan untuk menjadi sempurna, melainkan belajar menerima kekurangannya dan merayakan kelebihannya.
Islam menggambarkan hubungan suami-istri dengan metafora yang sangat indah dalam Al-Qur'an:
هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ ۗ
"... Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka ..." (QS. Al-Baqarah: 187)
Pakaian memiliki beberapa fungsi utama: melindungi tubuh dari cuaca ekstrim, menutupi aurat atau celah, dan memperindah penampilan. Demikian pula hendaknya peran suami dan istri. Seorang suami yang baik adalah yang menjadi pelindung dan penutup aib istrinya. Begitu pula seorang istri, ia menjadi peneduh dan penjaga kehormatan suaminya. Ketika ada kekurangan pada pasangan, tugas kita bukanlah mengumbar atau menghakiminya, melainkan menutupinya dengan kelembutan.
Rasulullah SAW memberikan teladan nyata bagaimana beliau sangat memahami perasaan para istrinya. Beliau tidak pernah bersikap kasar atau memaksakan kehendak. Rasulullah SAW bersabda:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا
"Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik perilakunya terhadap istrinya." (HR. Tirmidzi)
Dalam perjalanan menapaki mahligai rumah tangga, ombak dan badai pasti akan datang menyapa. Masalah keuangan, perbedaan pendapat dalam mengasuh anak, hingga kejenuhan rutinitas harian adalah dinamika yang wajar. Namun, perbedaan utama antara keluarga biasa dan keluarga Rabbani terletak pada bagaimana mereka menyikapi konflik.
Keluarga yang berorientasi surga tidak menyelesaikan masalah dengan mencari siapa yang menang atau kalah. Mereka tidak saling membuktikan kesalahan, melainkan duduk bersama dengan prinsip tabayyun (berprasangka baik dan klarifikasi), musyawarah, dan saling memaafkan.
Bergandengan tangan dalam arti spiritual berarti suami dan istri saling menguatkan tatkala salah satu sedang merasa lelah atau goyah. Saat suami merasa berat menanggung beban nafkah, istri hadir memberikan senyuman dan kata-kata yang menenangkan. Saat istri merasa lelah mengurus rumah tangga dan anak-anak, suami hadir menyingsingkan lengan baju untuk membantu dan mendengarkan keluh kesahnya.
Menatap Arah yang Sama: VSI Menuju Surga
Cinta sejati tidak hanya saling menatap satu sama lain, tetapi bersama-sama menatap ke satu arah yang sama: surga Allah SWT. Pernikahan yang berhasil di dunia adalah pernikahan yang berlanjut hingga ke akhirat.
Allah SWT menggambarkan keindahan reuni keluarga di surga dalam firman-Nya:
جَنّٰتُ عَدْنٍ يَّدْخُلُوْنَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ اٰبَاۤىِٕهِمْ وَاَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيّٰتِهِمْ
"Yaitu surga-surga 'Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama orang-orang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya, dan anak cucunya ..." (QS. Ar-Ra'd: 23)
Untuk mencapai muara yang indah ini, suami dan istri harus menjadi mitra dalam ketaatan. Suami bertindak sebagai pemimpin yang membimbing dengan kasih sayang, sementara istri menjadi penguat yang mendampingi dengan keikhlasan. Mereka saling mengingatkan untuk shalat tepat waktu, saling mengajak berinfak, serta bersama-sama membimbing anak-anak menjadi generasi yang saleh dan salehah.
Rasulullah SAW pernah mendoakan pasangan suami istri yang saling membangunkan di malam hari untuk beribadah:
رَحِمَ اللَّهُ رَجُلاً قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ... وَرَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا...
"Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun di malam hari lalu shalat, kemudian membangunkan istrinya... Dan semoga Allah merahmati seorang perempuan yang bangun di malam hari lalu shalat, kemudian membangunkan suaminya..." (HR. Abu Dawud)
Pernikahan adalah perjalanan panjang yang menuntut kesabaran, keikhlasan, dan perjuangan tanpa henti. Ketika suami dan istri memilih untuk saling bergandengan tangan, bukan hanya jemari mereka yang bertaut, melainkan juga hati dan cita-cita mereka, maka setiap langkah kaki terasa lebih ringan.
Mari kita jadikan rumah tangga kita sebagai tempat bertumbuh, tempat di mana rasa saling memahami mengalahkan ego pribadi, dan tempat di mana cinta dipelihara demi satu tujuan mulia: melangkah bersama, bergandengan tangan, hingga kelak Allah kumpulkan kembali di surga-Nya yang abadi.

