Darul Arqam Madya IMM Sleman, Tekankan Kader Militan dan Pionir Masyarakat

Foto Istimewa
Foto Istimewa

BANTUL, Suara Muhammadiyah - Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman, Harjaka, secara resmi membuka Darul Arqam Madya (DAM) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sleman, di Tabligh Institute, Patriot Bangsa, Ngebel, Tamantirto, Kasihan, Bantul, Rabu (28/10).

Harjaka berharap kader IMM tidak hanya menjadi kader, tetapi kader yang militan dan menjadi pionir di tengah masyarakat.

“Kader yang tidak hanya kader, tetapi kader yang militan,” ujar Harjaka.

Untuk itu, ia mengajak peserta memahami sifat pokok Muhammadiyah, yakni jam'iyah, syirkah, dan harakah. Pada sifat pertama, jam'iyah, Harjaka menegaskan bahwa Muhammadiyah harus bersatu dan tidak bergerak sendiri-sendiri.

“Harus kompak. Kalau tidak kompak, hancur,” tegasnya.

Ia menjelaskan, sifat jam'iyah menuntut organisasi menjalankan prinsip KISS, yakni koordinasi, interaksi, sinkronisasi, dan sosialisasi. Menurutnya, tanpa koordinasi gerak organisasi tidak akan berjalan dengan baik. 

Dalam interaksi pasti muncul beragam usulan, tetapi semuanya bertujuan baik, sehingga perlu disinkronkan terlebih dahulu sebelum disosialisasikan. Sementara itu, pada sifat kedua, yakni syirkah, Harjaka menyebut Muhammadiyah sebagai gerakan yang berpegang pada syariat dan mengarah pada Islam yang murni.

Adapun sifat ketiga, harakah, merupakan gerakan amar makruf nahi munkar yang mengedepankan pendidikan dan kesehatan serta, pada masa kini, ekonomi.

“Gerakan amar makruf nahi munkar dan juga gerakan yang betul-betul mengedepankan pendidikan, kesehatan, dan sekarang ini ekonomi harus kita galakkan,” jelasnya.

Di antara ketiganya, Harjaka menempatkan pendidikan sebagai yang utama. Karena itu, ia berpesan agar kader IMM memiliki pendidikan yang jelas dan tidak setengah-setengah.

Sisi lain, Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Fathurrahman Kamal mengatakan, kesalehan kader Muhammadiyah tidak cukup berhenti pada ibadah pribadi dan kepedulian sosial, tetapi perlu bertransformasi menjadi kesalehan peradaban.

Fathurrahman membuka pemaparannya dengan menguraikan makna umat. Menurutnya, kata umat memiliki akar yang berkaitan dengan kata amanah, aman, imam, sekaligus makmum. Ia juga mengingatkan bahwa dalam Al-Qur'an, Nabi Ibrahim disebut sebagai satu umat karena kualifikasi yang dimilikinya.

"IMM ini penting sebagai sebuah gerakan kolektif, tetapi satu orang itu bisa merepresentasikan satu komunitas yang besar manakala kualifikasinya masuk," ujar Fathurrahman.

Ia menjelaskan, kata umat juga mengandung makna mengarahkan diri pada tujuan. Karena itu, kader IMM perlu memiliki orientasi dan imajinasi tentang masa depan bangsa.

"Anak IMM itu punya suatu imajinasi masa depan. Mau ke mana Indonesia ini dibawa?" tuturnya.

Dalam pemaparannya, Fathurrahman merujuk pada gagasan Majid Irsan al-Kilani tentang kualifikasi umat serta faktor yang membuat umat jatuh dan sakit. Ia menegaskan bahwa predikat khaira ummah bukan sesuatu yang melekat dengan sendirinya, melainkan membutuhkan pembuktian dalam sejarah.

"Umat itu dibentuk. Umat itu tidak diterima begitu saja," tegasnya.

Menurutnya, umat perlu dididik, disusun, diorganisasikan, dan diarahkan, sebagaimana Muhammadiyah yang didirikan melalui perjuangan yang berat. Fathurrahman kemudian menekankan peran Muhammadiyah sebagai saksi peradaban. (Alam)