Di Tengah Keredupan, Kader Nasyiatul Aisyiyah Harus Memimpin Kebangkitan Dakwah Ekonomi

Suara Muhammadiyah

6 August 2026

257
Dr Agung Danarto, MAg. Foto: Cris

Dr Agung Danarto, MAg. Foto: Cris

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah - Harus diakui bersama, Muhammadiyah benar-benar organisasi gigantik. Bidang yang digarapnya mencakup seluruh lini kehidupan. Pendidikan, salah satunya.

"Kita boleh berbangga, pendidikan di Muhammadiyah, termasuk perguruan tinggi--bukan hanya kekayaan--ormas Islam di dunia yang paling banyak memiliki perguruan tinggi," beber Agung Danarto.

Kebanggaan itu sungguh sangat laik diekspresikan. Lebih-lebih, perguruan tinggi Muhammadiyah telah memiliki fakultas kedokteran.

"Sekarang sudah 23 fakultas kedokteran yang dimiliki oleh Muhammadiyah. Luar biasa pendidikannya," ungkap Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu.

Demikian juga pada bidang kesehatan, tak pelak menunjukkan hal mengagumkan dan membanggakan. Rumah sakit dan klinik, jumlahnya berceceran di pelbagai wilayah. 

"Rumah sakit kita sudah memiliki 130 rumah sakit. Nah, kalau tambah klinik, ada 350-an lebih," ujarnya.

Tetapi, yang paling ironi, bidang ekonomi nyaris tidak tersentuh. Dakwahnya tampak remang-remang dan temaram.

"Kalau dalam aspek ekonomi, baru membangkitkan kesadaran kembali," katanya saat membuka Tanwir ke-3 Nasyiatul Aisyiyah di Puri Nalendra Ballroom Hotel Lor In Syariah, Adi Sucipto, Surakarta, Jawa Tengah, Kamis (6/8).

Dalam pada itu, Agung meminta agar Nasyiatul Aisyiyah harus mengambil peran nyata untuk mengimplementasikannya. Sebab, itu merupakan embrio dakwah Muhammadiyah pada awal-awal berdirinya.

"Dulu kesadaran itu sudah ada, bahkan Muhammadiyah itu lahir di kalangan para saudagar, para juragan baik itu yang di Kauman, Kotagede atau mungkin di Pekajangan, Solo, Laweyan, Surabaya dan lain-lain sebagainya," singkap Agung.

Tapi, realita saat ini menampakkan hal yang jauh panggang dari api. "Saat ini jumlah pengusaha di Muhammadiyah semakin lama semakin sedikit," bongkarnya.

Sementara, kala itu, "Semuanya adalah sentra-sentra saudagar. begal. Sentra-sentra pengusaha," ucapnya.

Fakta timpang dengan keadaan masa lampau itulah kemudian mendorong agar kader-kader Nasyiatul Aisyiyah untuk bergumul menggarap bidang dakwah ekonomi.

"Saya kira Nasyatul Aisyah harus betul-betul mempersiapkan dalam hal ini yaitu menjadikan pilar ekonomi sebagai pilar utama, Ini sesuatu hal yang luar biasa tidak mudah," ulasnya.

Jelaslah hal itu tidak bisa tidak. Musababnya apa? Tuntutan dan panggilan zaman hari ini menghendaki demikian.

"Kesadaran ini harus kemudian dibangkitkan lagi, dibangun kembali," pinta Agung. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

KUDUS, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU) terus memperkuat mimbar akad....

Suara Muhammadiyah

22 February 2025

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah kota Makassar bakal menggelar kegia....

Suara Muhammadiyah

11 April 2025

Berita

PEKALONGAN, Suara Muhammadiyah — Program Studi Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas M....

Suara Muhammadiyah

2 December 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Bertempat di pendopo SMK Negeri 4 Yogyakarta, yang beralamat di Jl.....

Suara Muhammadiyah

26 November 2023

Berita

KUANSING, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah dan Aisyiyah Kabupaten Kuantan Sing....

Suara Muhammadiyah

13 September 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah