Tiga Tokoh Muhammadiyah, Tiga Jejak Pengabdian untuk Membangun Indonesia
SLEMAN, Suara Muhammadiyah – Muhammadiyah telah banyak melahirkan pelbagai tokoh-tokoh besar di republik ini. Bahan kebesaran tokoh itu diapresiasi dedikasinya oleh negara, sehingga diangkat menjadi seorang pahlawan nasional.
Dalam pada itu, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Agus Taufiqurrahman menyebut salah satunya Soekarno. Selain menjabat sebagai Presiden Indonesia yang pertama, ternyata Soekarno tercatat pernah masuk dalam jajaran pengurus Muhammadiyah.
“Soekarno pernah dibuang ke Bengkulu. Di Bengkulu itulah Soekarno menjadi pengurus Muhammadiyah Bagian Pendidikan dan Pengajaran (kini Majelis Pendidikan Dasar Menengah Dan Pendidikan Nonformal),” ungkap Agus.
Menceritakan Istri Soekarno, Fatmawati, Agus sebut sebagai sosok yang menjahit bendera Merah Putih. Selain itu, ternyata juga merupakan putri dari Hassan Din, pengurus (pimpinan) organisasi Muhammadiyah cabang Bengkulu.
“Jadi, memang Insinyur Soekarno bukan hanya sekadar orang yang pernah bersekolah atau melewati gedung PKO Muhammadiyah. Beliau memang tercatat dalam surat keputusan sebagai pimpinan Muhammadiyah,” terangnya.
Tokoh berikutnya, Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka). Ulama, sastrawan, dan penulis kondang ini dikenal lewat mahakarya yang monumental, yakni “Tafsir Al-Azhar”, di mana tafsir ini disusun lengkap 30 juz ketika berada dalam penjara era pemerintahan Orde Lama.
“Kalau ingin membaca kitab Tafsir Al-Azhar, bahasanya sangat menarik karena beliau adalah seorang sastrawan,” beber Agus, Ahad (8/11) dalam Semarak Milad Muhammadiyah ke-114 Pengajian Akbar Hari Bermuhammadiyah PDM Sleman di PCM Berbah di Lapangan Bercak Jogotirto, Bulu, Jogotirto, Berbah, Sleman.
Lebih dari itu, Buya Hamka juga merupakan tokoh Muhammadiyah yang sangat dihormati oleh Presiden Soekarno. Juga, sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang pertama.
“Buya Hamka juga pernah ditugaskan Muhammadiyah untuk ikut membesarkan Muhammadiyah di Makassar,” jelasnya.
Karena itu, dahulu dikenal ungkapan bahwa Muhammadiyah lahir di Yogyakarta, berkembang di Padang, dan besar di Makassar. “Salah satu tokoh yang berperan dalam perkembangan tersebut adalah Buya Hamka,” singkap Agus.
Dan, tokoh berikutnya, Ki Bagus Hadikusumo. Dalam rekaman sejarahnya, beliau merupakan tokoh BPUPKI yang berperan strategis dalam proses kemerdekaan dan perumusan dasar negara Pancasila.
“Ki Bagus menjadi salah satu tokoh penentu yang didengarkan oleh anggota tim ketika itu,” katanya. Termasuk, menjabat sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 1944-1953.
“Kalau para pendahulu kita telah berkiprah menjaga dan membangun bangsa, bahkan ikut mendirikan bangsa ini, maka Muhammadiyah harus terus hadir dengan Islam untuk mencerahkan bangsa,” tegas Agus. (Cris)