Lazismu Tutup Rakernas 2027 dan MZS 2026, Target Rp1 Triliun Jadi Agenda Besar
SEMARANG, Suara Muhammadiyah - Muhammadiyah Zakat Summit (MZS) 2026 dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lazismu 2027 yang mengusung tema "Penguatan Tatakelola Lembaga yang Terintegrasi Menuju Filantropi Islam yang Berkelanjutan dan Berdampak" resmi ditutup.
Penutupan berlangsung Sabtu (7/11) di Radjawali Semarang Cultural Center, Sekayu, Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah dan dihadiri Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah Dodok Sartono.
Ketua Lazismu Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahmad Imam Mujadid Rais menyampaikan dua rangkaian akbar ini merupakan perwujudan dari inovasi atau tajdid baru dalam event yang diselenggarakan oleh Lazismu.
"Jadi biasanya kita menyelenggarakan event tahunan itu namanya Rapat Kerja Nasional. Dan itu sifatnya internal. Jadi kita mencoba menggabungkan itu," ujarnya.
Rais sebut, mata rantai dua acara ini cakupan acaranya meliputi Sekolah Amil, sertifikasi amil,simposium, bedah buku dan launching buku Fikih Gen-Z, dan forum tata kelola syariah zakat.
"Ini rangkaian yang luar biasa panjang. Dan kita bersyukur teman-teman Jawa Tengah seluruh panitia lokal bisa menunjukkan atau menciptakan satu event yang insyaallah memorable (berkesan)," ungkapnya.
Output dari deretan acara itu seperti Sertifikasi Amil, laik menjalankan tugas-tugas Amil, Simposium dapat memberikan suatu perspektif bagi Amil untuk menyusun program-program berbasis data.
"Forum tata kelola syariah memberikan panduan dalam aspek syariahnya. Kemudian bedah buku Gen-Z memenuhi untuk melakukan literasi zakat kepada Gen Z. Kemudian Rakernas, kita bicarakan berbagai program dan membuat target kerja satu triliun itu," jelas Rais.
Secara universal, Rakernas Lazismu 2027 ini keputusannya mencakup beberapa hal antara lain arah kebijakan Lazismu 2027, target penghimpunan, rencana kerja anggaran tahunan RKAT, kelembagaan, hukum kerja dan rekomendasi, masalah media massa, digitalisasi, masalah keuangan dan penghimpunan sampai orkestrasi penghimpunan yang terdistribusi.
"Semuanya kita fokuskan untuk memberikan dampak pada masyarakat dan orang-orang yang untuk mustahik dan amil. Jadi kalau kita mau berdampak ya kita harus menghimpun, bekerja keras," tegasnya.
Bersamaan dengan dipercayainya Lazismu oleh masyarakat, Rais meminta agar mempertahankan kepercayaan. "Kalau meraihnya mungkin bisa, tapi kalau mempertahankan ini yang perlu usaha kolektif. Maka kita berupaya sedapat mungkin menjaga kepercayaan itu dengan terus meningkatkan kapasitas diri kita," pintanya.
Lebih dari itu, Rais Rais menekankan pentingnya peningkatan profesionalisme amil, termasuk melalui sertifikasi dan pengembangan kapasitas secara berkelanjutan. Amil juga dituntut semakin profesional dalam membangun engagement dengan umat melalui berbagai forum kajian, diskusi, dan ruang-ruang dialog.
"Jangan sampai dananya hanya dikejar dananya tapi lupa kita beri laporannya ya untuk apa aja," ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, Rais juga menyampaikan pesan kepada seluruh amil Lazismu di Indonesia agar senantiasa menjaga kepercayaan dan amanah para muzaki maupun donatur. Terlebih, jaringan kantor Lazismu telah berkembang luas dengan jumlah yang diperkirakan mencapai 1.400 hingga 1.700 kantor, termasuk kantor layanan.
"Kami minta untuk terus menjaga kepercayaan dan amanah dari para muzaki, dari para donatur untuk jangan lupa melakukan transparansi dan akuntabilitas, termasuk mengaktifkan atau perhatikan pencatatan-pencatatan keuangan program," serunua.
Demikian dalam pendistribusian dana zakat, infak, dan sedekah, Lazismu juga perlu senantiasa memprioritaskan program-program pendayagunaan.
"Supaya program-program ini bisa memberikan dampak yang nyata, terukur dan berkelanjutan sehingga kita bisa mengentaskan seorang mustahik menjadi muzaki atau pengentasan kemiskinan," pungkasnya. (Cris)