Doa, Ajal, dan Cinta yang Tidak Berakhir

Suara Muhammadiyah

29 September 2026

167
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Doa, Ajal, dan Cinta yang Tidak Berakhir

Oleh: Rusydi Umar, Dosen S2 Informatika, UAD, Anggota MPI PPM (2015-2022)

Bayangkan seorang anak yang sedang menunggu ibunya di ruang ICU. Usia sang ibu sudah sangat sepuh. Tubuhnya lemah, sementara berbagai alat medis terpasang untuk membantu mempertahankan kehidupannya. Di luar ruang ICU, keluarga bergantian menunggu. Tidak banyak yang bisa dilakukan selain berharap, berikhtiar, dan berdoa.

Pada suatu malam, setelah menjenguk sang ibu, keluarga berkumpul untuk makan bersama. Salah seorang dari mereka kemudian diminta memimpin doa. Ia berdoa panjang. Memohon ampunan Allah, memohon agar segala kesulitan dihilangkan, dan terutama memohon agar ibunya disembuhkan.

Ada satu bagian doa yang diulang berkali-kali, seolah-olah ia sedang mengetuk pintu langit dengan penuh harapan: "Ya Allah, tidak ada orang yang sakit melainkan Engkau menyembuhkannya." Ia tahu bahwa Allah Maha Mendengar. Karena itu ia berdoa dengan sungguh-sungguh. Bahkan mungkin dengan air mata yang tidak lagi dapat ditahan. Namun beberapa hari kemudian, ibunya meninggal dunia. Di titik seperti itu, sangat mungkin muncul pertanyaan yang pelan-pelan tumbuh di dalam hati: Bukankah aku sudah berdoa? Bukankah aku sudah memohon dengan sungguh-sungguh? Mengapa Allah tidak memberikan kesembuhan yang aku minta?

Pertanyaan semacam itu bukan sesuatu yang asing dalam kehidupan manusia. Kita mungkin pernah mengalaminya ketika orang tua, pasangan, anak, atau seseorang yang sangat kita cintai jatuh sakit. Kita berdoa agar mereka sembuh. Kita berharap mereka kembali sehat. Tetapi kenyataan kadang bergerak ke arah yang sama sekali berbeda dari apa yang kita harapkan.

Al-Qur'an mengingatkan kita dengan kalimat yang sangat tegas: "Setiap yang bernyawa akan merasakan mati." (QS Ali 'Imran: 185). Kata dzā'iqah dalam ayat tersebut berkaitan dengan sesuatu yang dirasakan atau diecap. Kematian bukan sekadar peristiwa biologis yang terjadi ketika jantung berhenti berdetak. Ia adalah bagian dari perjalanan setiap makhluk hidup yang telah ditetapkan Allah. Karena itu, ada batas yang tidak dapat dilewati oleh doa manusia. Allah berfirman dalam QS An-Nahl ayat 61 bahwa apabila ajal telah tiba, manusia tidak dapat meminta agar kematian itu ditunda ataupun dipercepat, walaupun sesaat.

Di sinilah kita perlu membedakan antara berdoa dan menentukan hasil doa. Manusia diperintahkan untuk berdoa, tetapi manusia tidak diberi kewenangan untuk menentukan kapan seseorang harus hidup dan kapan harus meninggal. Doa bukanlah perjanjian bahwa Allah harus memberikan persis apa yang kita minta. Doa adalah bentuk penghambaan. Di dalam doa, manusia mengakui keterbatasannya dan menyerahkan sesuatu yang tidak mampu ia kendalikan kepada Allah.

Karena itu, ketika seseorang yang kita cintai akhirnya meninggal setelah kita doakan kesembuhannya, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Allah tidak mendengar doa kita. Kita tidak mengetahui seluruh hikmah yang berada di balik sebuah ketetapan. Kita hanya melihat beberapa hari dari kehidupan seseorang, sementara Allah mengetahui seluruh perjalanan hidupnya.

Air mata yang jatuh ketika berdoa juga tidak menjadi sia-sia hanya karena hasil akhirnya berbeda dari harapan. Doa itu sendiri adalah ibadah. Harapan yang kita gantungkan kepada Allah adalah bentuk ketundukan. Dan rasa sakit yang dialami seorang Muslim juga tidak luput dari perhatian Allah. 

Mungkin kita meminta agar seseorang disembuhkan, tetapi Allah menetapkan bahwa perjalanan hidupnya memang telah sampai pada batas yang ditentukan-Nya. Bagi kita, itu adalah kehilangan. Bagi orang yang telah meninggal, kita berharap Allah memberikan rahmat dan tempat yang lebih baik daripada kehidupan dunia yang penuh dengan sakit dan keterbatasan.

Tentu, kita tidak boleh berbicara terlalu jauh tentang perkara gaib yang tidak kita ketahui. Kita tidak tahu secara pasti bagaimana kedudukan seseorang di hadapan Allah. Yang dapat kita lakukan adalah berbaik sangka kepada Allah, mendoakan ampunan dan rahmat-Nya, serta menerima bahwa ajal adalah bagian dari ketetapan-Nya.

Lalu, apakah kematian memutuskan hubungan antara seorang anak dan orang tuanya? Tidak seluruhnya. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa ketika manusia meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara, salah satunya adalah anak saleh yang mendoakannya. Hadis ini memberi pesan bahwa kasih sayang seorang anak kepada orang tua tidak harus berhenti ketika tubuh mereka telah kembali ke tanah.

Dulu seorang anak mungkin menjaga ibunya ketika sakit. Menunggu di rumah sakit. Membawakan makanan. Menggenggam tangannya. Membaca doa di samping tempat tidurnya. Setelah kematian, bentuk cinta itu berubah. Ia bisa diwujudkan dengan terus mendoakan ampunan dan rahmat bagi orang tua. Bersedekah atas nama mereka. Menyambung silaturahmi dengan saudara dan sahabat yang dahulu dekat dengan mereka. Bahkan meneruskan kebaikan yang semasa hidup mereka tanamkan. Dengan begitu, kesedihan tidak harus berhenti sebagai kesedihan. Rindu dapat menemukan jalannya menjadi amal.

Pada akhirnya, kematian orang yang kita cintai sebenarnya juga sedang mengajarkan sesuatu kepada kita yang masih hidup. Hari ini kita mungkin menjadi orang yang berdiri di samping pembaringan orang tua. Suatu hari, entah kapan, mungkin justru kita yang berada di pembaringan itu. Dan anak-anak kita yang akan menunggu, menangis, dan memanjatkan doa.

Pertanyaannya kemudian bukan hanya apa yang akan kita lakukan ketika orang tua kita meninggal, tetapi juga: apa yang akan kita tinggalkan ketika kelak kita sendiri meninggalkan dunia?

Doa yang tidak berakhir pada kesembuhan bukan berarti doa yang sia-sia. Ajal yang datang bukan berarti cinta juga ikut berakhir. Sebab ada cinta yang setelah kematian justru menemukan bentuknya yang lain: menjadi doa yang terus dipanjatkan, sedekah yang terus mengalir, silaturahmi yang terus disambungkan, dan kebaikan yang terus diwariskan.

Semoga Allah mengampuni orang tua dan orang-orang yang kita cintai yang telah mendahului kita, melapangkan tempat peristirahatan mereka, menerima amal kebaikan mereka, dan mempertemukan kita kembali bersama mereka dalam rahmat dan surga-Nya.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Ikhtiar Awal Menuju Kaluarga Sakinah (8)  Oleh: Mohammad Fakhrudin dan Iyus Herdiyana Saputra ....

Suara Muhammadiyah

26 October 2023

Wawasan

Anak Saleh (1) Oleh: Mohammad Fakhrudin Ada tiga hal yang berpahala mengalir terus meskipun pelaku....

Suara Muhammadiyah

26 July 2024

Wawasan

Rumah Besar Tapi Dompet Tercecer; Optimalisasi Sirkulasi Keuangan Persyarikatan Muhammadiyah Oleh: ....

Suara Muhammadiyah

19 September 2026

Wawasan

Hikmah Hijrah (Serial Kehidupan SAW)  Oleh : Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Univers....

Suara Muhammadiyah

27 September 2024

Wawasan

Baju Lebaran, Simbol Kesucian atau Ritual Konsumsi Tahunan? Oleh: Ratna Arunika, Anggota LLHPB &nda....

Suara Muhammadiyah

17 March 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah