Fungsi Kepemimpinan Berkemajuan

Dok Istimewa
Dok Istimewa

Fungsi Kepemimpinan Berkemajuan

Oleh: Prof Dr H Haedar Nashir, M.Si.

Muhammadiyah saat ini menghadapi masalah dan tantangan sangat berat dalam berbagai bidang. Masalah di bidang keagamaan maupun bidang lainnya seperti pendidikan, ekonomi, politik, budaya, lingkungan hidup, dan sebagainya. Lebih-lebih dunia saat ini berada di era revolusi iptek khususnya teknologi informasi yang serba canggih dan kompleks, termasuk dengan kehadiran media sosial yang serba dinamis.

Sementara itu masalah yang dihadapi Muhammadiyah di lingkungan internal sendiri masih dijumpai baik yang rutin maupun strategis. Ada sebagian lingkungan Muhammadiyah yang kesulitan untuk membangun kantor atau gedung sekretariat, masjid, sekolah, dan amal usaha lainnya. Masalah lainnya antara lain aktivitas di tingkatan pimpinan tertentu seperti Daerah, Cabang, dan Ranting yang kurang atau tidak aktif, jamaah atau jumlah anggota yang terbatas dan tidak bertambah, para pimpinannya banyak yang tidak aktif, dan masalah lainnya.

Karenanya diperlukan para pimpinan Muhammadiyah di seluruh tingkatan dan lingkup institusi Muhammadiyah yang harus dinamis dan progresif, yakni kepemimpinan yang menggerakkan atau pemimpin pergerakan serta pemimpin yang berkemajuan sejalan dengan pandangan Islam berkemajuan. Jangan sampai para pimpinan Muhammadiyah, Aisyiyah dan organisasi otonom lain, serta di lingkup majelis dan lembaga bersifat pasif, status-quo atau bergerak secara rutin dan administratif semata. Jangan sampai para pimpinan kelihatan sibuk dalam mobilitas formal, tetapi tidak signifikan dalam menggerakkan dan memajukan organisasi. Di sinilah pentingnya pemimpin penggerak Muhammadiyah yang berkemajuan.

Pemimpin Penggerak

Pemimpin di mana pun posisi dan perannya sangatlah penting. Pemimpin disebut “leader” karena dia adalah “lead” sepadan dengan “head” yakni kepala. Seperti kepala dalam tubuh manusia yang di dalamnya ada panca indera dan otak yang menjadi pusat komando seluruh gerak tubuh. Pemimpin bertugas “to guide” membimbing atau memandu, “to direct” mengarahkan, “to influence” memengaruhi, “to bring” membawa sesuatu, “to cause” menyebabkan sesuatu terjadi, dan “show the way” menunjukkan arah jalan kepada yang dipimpin.

Sungguh betapa penting dan strategis pemimpin itu. Fungsi utama memimpin berarti mengepalai, mengetuai, memandu, mengarahkan, memengaruhi, membawa, dan menyebabkan sesuatu terjadi atas apa yang dikehendaki oleh si pemimpin itu. Akan menjadi sempit dan sederhana bila pemimpin hanya sebatas menduduki jabatan tertentu. Jabatan atau posisi itu pun harus berfungsi, bukan sekadar diduduki. Memimpin juga bukan sekadar melayani, meski salah satu fungsi pemimpin melayani yang dipimpin. Yakni melayani yang membawa, memandu, mengarahkan, memengaruhi, dan seluruh aspek dari memimpin. Pemimpin bukan pelayanan teknis dan rutin. Jika sebatas rutinitas namanya tukang administrasi.

Pemimpin dalam Islam mengandung mas’ulyah atau tanggungjawab sebagaimana hadits Nabi: “Kullukum ra’in wa kullukum mash’ulun ‘an raiyatihi”, bahwa setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Artinya menjadi pemimpin itu bukan sekadar “siap memimpin” tetapi harus “sanggup dan mampu memimpin” serta “mempertanggungjawabkan” apa yang dipimpinnya. Karena itu Umar bin Khattab lebih suka dipanggil “Amirul Mukminin”, yaitu “Orang yang mengurus urusan kaum mukminin”. Jadi, mengurus urusan agar terselesaikan itulah yang mesti menjadi fungsi dan tugas pokok para pimpinan di mana pun, bukan membikin urusan menjadi rumit dan bermasalah.

Dari konsep dan fungsi dasar kepemimpinan tersebut tampak kuat bahwa sejatinya pemimpin di mana pun mesti cerdas bergerak aktif dan maju, bukan pemimpin yang berjalan apa adanya apalagi pasif. Pemimpin organisasi harus memimpin dengan pengorganisasian yang baik. Pemimpin organisasi itu selain harus memiliki integritas diri yang kuat sebagaimana sifat Nabi yakni sidiq dan amanah tetapi mesti juga tabligh dan fathanah yang tercermin dalam jiwa dan langkah pergerakan dan kemajuan. Pemimpin itu harus kontras berbeda dengan pengikut atau follower. Pemimpin itu kehadirannya bukankah ragad fisik belaka, apalagi tanpa jiwa pergerakan dan kemajuan.

Kepemimpinan dalam Muhammadiyah mesti berwatak penggerak dan berkemajuan, yang berbeda dengan pemimpin citra atau populisme sempit. Saat ini sering dijumpai pemimpin pencitraan atau pemimpin populis yang hanya ingin mencari popularitas di hadapan para pengikutnya. Dia berusaha mencari kegiatan-kegiatan yang tampak populer dan mudah dilakukan tetapi memperoleh apresiasi dan citra positif di hadapan publik seperti: “berkunjung ke tempat-tempat terpencil”, “mengunjungi orang kecil”, “mendatangi pasar”, “mendatangi sekolah yang mau ambruk”, dan sejenisnya. Kelihatan berbuat “luar biasa”, meskipun mungkin dia tidak benar-benar menyelesaikan urusan dari orang atau warga yang dikunjunginya. Di era media sosial, pemimpin “populis” seperti itu akan memperoleh “jempol banyak”. Tetapi, bukan pemimpin populis seperti itu yang menjadi karakter dalam kepemimpinan Muhammadiyah.

Pemimpin Islam Berkemajuan

Pemimpin dan kepemimpinan Muhammadiyah mesti seirama dan memiliki watak dasar sejalan karakter Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan. Dalam pandangan dan bingkai Islam berkemajuan tentu saja konsep kepemimpinan seharusnya yang menciptakan dan membawa kemajuan bagi umat yang dipimpinnya, bukan pemimpin atau kepemimpinan pencitraan. Sejalan dengan pandangan Umar bin Khattab, kepemimpinan Islam berkemajuan haruslah kepemimpinan dan pemimpin yang “menyelesaikan urusan-urusan yang menjadi tugas dan tanggungjawabnya”, sehingga mampu menjadi “problem solver” dan bukan “problem maker”. Dalam pandangan kontemporer itulah kepemimpinan “transformatif” atau kepemimpinan yang membawa perubahan menuju kemajuan.

Konsep kepemimpinan dalam bingkai Islam Berkemajuan sejak awal disebutkan oleh Kiai Ahmad Dahlan sebagai “pemimpin kemajuan Islam”. Karakter Islam Berkemajuan sebagaimana disebutkan dalam Risalah Islam Berkemajuan (RIB) hasil Muktamar di Surakarta terdiri dari lima ciri yaitu: (a) Berlandaskan pada Tauhid (al-Mabni ‘ala al-Tauhid), (b) Bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah (al-Ruju’ ila Al-Qur’an wa As-Sunnah), (c) Menghidupkan Ijtihad dan Tajdid (Ihya’ al-Ijtihad wa al-Tajdid), (d) Mengembangkan Wasathiyah (Tanmiyat al-Wasathiyah), dan (e) Mewujudkan Rahmat bagi Seluruh Alam (Tahqiq al-Rahmah li al-‘Alamin).

Di antara Manhaj Islam Berkemajuan ialah mengembangkan “Akal dan Ilmu Pengetahuan”, bahwa akal merupakan anugerah Allah SwT kepada manusia yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk memahami wahyu (ayat qauliyah) dan gejala alam semesta (ayat kauniyah); sedangkan Ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai peran pokok dalam hidup berkemajuan dan merupakan keutamaan manusia yang wajib diusahakan. Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan pelaksanaan tugas kekhalifahan manusia dalam membangun peradaban di muka bumi.

Karena demikian berat, mendalam, dan luas tanggungjawab dalam mewujudkan Islam Berkemajuan maka kepemimpinan dalam Muhammadiyah pun harus berwatak dan berorientasi kemajuan. Kepemimpinan berkemajuan membawa misi keagamaan sekaligus keduniawian. Kepemimpinan yang berfondasikan pada akidah, ibadah, dan akhlak utama sekaligus mampu mengurus seluruh urusan muamalah dunyawiyah dalam implementasi Islam di tengah dinamika kehidupan yang kompleks. Dengan demikian tidaklah cukup kepemimpinan dalam Muhammadiyah jika hanya memiliki kompetensi ilmu keagamaan saja, tetapi harus memiliki penguasaan ilmu keduniaan dalam satu kesatuan misi dakwah dan tajdid Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan.

Kemimpinan Islam Berkemajuan harus menjelma dalam wujud “Kepemimpinan Pergerakan”. Para pemimpinnya harus terus bergerak memajukan Muhammadiyah dalam berbagai aspek dan usaha yang telah menjadi kerangka pergerakan Muhammadiyah. Ke mana pun datang para pemimpin Muhammadiyah selalu menggerakkan organisasi dan amal usaha menjadi semakin dinamis. Menggerakkan Daerah, Cabang, Ranting, masjid, dan jamaah secara nyata. Jiwa dan sikap pergerakannya selalu melahirkan dinamika kemajuan Persyarikatan. Kehadiran dan kegiatan para pemimpin Muhammadiyah jangan mengandalkan popularitas dengan maksud memperoleh simpati dan dukungan, tanpa menghasilkan langkah-langkah nyata yang berkemajuan.

Pemimpin berkemajuan dalam Muhammadiyah tentu harus berjiwa, berpikiran, bersikap, dan bertindak serba maju. Bukan sebaliknya menjadi pemimpin yang dogmatis, konservatif, jumud, dan anti kemajuan dengan alasan takut pikiran liberal. Jangan serba menolak langkah-langkah organisasi dengan berlindung di balik menjaga marwah tanpa memahami konteks dan tujuannya. Dalam menghadapi persoalan keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan semesta para pimpinan Muhammadiyah tidak mengedepankan pikiran dan orientasi yang sempit. Kedepankanlah pemikiran dan langkah besar layaknya pergerakan yang besar dari Muhammadiyah. Dalam menghadapi masalah mesti menunjukkan diri sebagai sosok ulil albab yang cerdas dan bijaksana, tidak asal bersikap dan bikin pernyataan yang tergesa-gesa apalagi sembarangan. Harus diingat Muhammadiyah itu besar dan jangan dipertaruhkan secara berdasarkan kehendak sendiri-sendiri secara serampangan. Apabila bersikap kritis pakailah rujukan Kepribadian, “Bersifat adil dan korektif ke dalam dan keluar dengan bijaksana”.

Karakter kepemimpinan Muhammadiyah yang bersifat kemajuan dan berorientasi pergerakan dalam khazanah kepemimpinan Islam ialah kepemimpinan profetik-transformatif. Yakni kepemimpinan meneladani Nabi Muhammad yang diaplikasikan oleh Kiai Dahlan dalam gerakan Islam berkemajuan yang bercorak reformis-modernis untuk menjawab tantangan zaman. Kepemimpinan yang berbasis nilai Islam yang membawa perubahan ke arah kemajuan dengan kemampuan memobilisasi potensi, memproyeksikan masa depan, dan mengagendakan perubahan dalam membangun kehidupan yang unggul-berkemajuan di segala bidang kehidupan untuk mewujudkan Islam Berkemajuan dalam membangun peradaban utama!

Sumber: Majalah SM Edisi 09/2025