Istisqa, Kemarau Panjang, dan Taubat Ekologis
Istisqa, Kemarau Panjang, dan Taubat Ekologis
Oleh: H. Imam Sugiri, ST. MM., Mahasiswa Program Doktoral Sosiologi UMM, Wakil Ketua Komite KADIN Jatim, dan Ketua LP-UMKM PW Muhammadiyah Jawa Timur
Dalam beberapa pekan terakhir, kita menyaksikan pemandangan yang menyentuh: masyarakat berbondong-bondong ke lapangan, alun-alun, dan halaman masjid untuk menunaikan shalat istisqa, memohon turunnya hujan. Di Bogor, shalat istisqa bahkan diikuti unsur Forkopimda, tokoh agama, dan masyarakat umum di tengah musibah kekeringan. Pemandangan serupa hadir di banyak daerah, termasuk di Jawa Timur.
Kegelisahan itu beralasan. BMKG memprediksi awal musim hujan 2026/2027 mundur di 529 zona musim atau sekitar 61 persen luas daratan Indonesia, akibat El Nino sangat kuat dan Indian Ocean Dipole positif. Rata-rata kedatangan hujan diperkirakan terlambat 20 sampai 30 hari. Di Jawa Timur, kekeringan berdampak pada 926 desa di 260 kecamatan dengan sekitar 1,58 juta jiwa terdampak, dan pemerintah provinsi telah menetapkan status siaga darurat kekeringan serta karhutla untuk 38 kabupaten/kota.
Namun, pekan ini juga memberi peringatan yang menyakitkan. Meski kita belum benar-benar keluar dari kemarau, banjir lahar dingin Gunung Semeru menerjang Kecamatan Pronojiwo, Tempursari, dan Jatiroto di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, pada Senin 2 November 2026. Hujan lebat sekali saja turun pada puncak dan lereng Semeru, dan sungai-sungai seperti Glidik, Besuk Kobokan, dan Regoyo langsung membawa material vulkanik menembus tanggul. Warga menggambarkan gemuruhnya seperti pabrik. Akibatnya, tanggul jebol, tiga rumah ambruk, sejumlah rumah terancam roboh, jalan poros terputus, dan ketinggian genangan mencapai sekitar 50 sentimeter. Di Tempursari, lebih dari seribu kepala keluarga terdampak dan sebagian terisolasi.
Ahli bencana pun mengingatkan: banjir lahar hujan tidak harus didahului erupsi baru, sebab hujan lebat mampu mengerosi material vulkanik lama yang terendapkan di lereng. Momen Lumajang adalah koreksi penting terhadap cara kita membaca kemarau panjang ini. Masalahnya bukan hanya hujan yang datang terlambat. Masalahnya adalah alam kita yang makin kehilangan kemampuan meredam air, sehingga sekali hujan lebat pun bisa menjadi bencana. Kalimat sosiologisnya sederhana: ketika masyarakat sudah tidak punya ruang aman, maka kejadian yang sering disebut alam pun berubah menjadi bencana sosial.
Shalat istisqa adalah ekspresi iman yang mulia: pengakuan bahwa manusia lemah dan bergantung kepada Allah. Namun, sebagai orang yang belajar sosiologi, saya ingin mengajak kita membaca fenomena ini lebih jauh. Doa bersama ini bukan hanya peristiwa ritual, melainkan juga cermin sosial: tentang kecemasan kolektif, tentang relasi kita dengan alam, dan tentang pekerjaan rumah yang belum kita tuntaskan.
Istisqa sebagai Solidaritas dan Introspeksi
Emile Durkheim memandang ritual keagamaan sebagai sarana yang memperkuat ikatan sosial. Ketika ribuan orang berdiri dalam saf yang sama, dengan kegelisahan yang sama, terbentuk apa yang ia sebut kesadaran kolektif. Petani yang sawahnya retak, ibu rumah tangga yang antre air bersih, dan pejabat yang menghadapi keluhan warga dipertemukan dalam satu kesadaran: kita sedang menghadapi masalah bersama.
Dalam tuntunan Islam, istisqa tidak berdiri sendiri. Ia didahului istighfar, taubat, dan sedekah. Al-Qur'an mengaitkan permohonan ampun dengan turunnya hujan (QS. Nuh: 10-12), sekaligus mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan di laut tampak karena perbuatan tangan manusia (QS. Ar-Rum: 41). Artinya, istisqa sejatinya adalah undangan untuk introspeksi. Tobat yang dituntut bukan hanya taubat personal, tetapi juga taubat ekologis: berhenti dari kebiasaan yang merusak alam.
Di sinilah letak tantangannya. Jangan sampai istisqa berhenti sebagai ritual musiman yang ramai saat kemarau dan dilupakan ketika banjir datang. Doa yang sungguh-sungguh seharusnya melahirkan perubahan perilaku: menanam pohon, menghemat air, menjaga daerah resapan, tidak membakar lahan, dan menolak pembangunan yang merampas ruang hijau.
Kemarau panjang tahun ini memang dipicu El Nino. Namun, kita perlu jujur bahwa dampaknya diperparah oleh kerusakan lingkungan yang kita ciptakan sendiri. Hutan yang gundul kehilangan kemampuan menahan air, sungai mendangkal, sumber mata air mengering, dan kota-kota menutup tanahnya dengan beton. Ketika hujan datang terlambat, kita kekeringan; ketika hujan datang deras, kita kebanjiran. BMKG sendiri mengingatkan bahwa musim hujan tahun ini diprediksi lebih singkat dengan curah hujan yang lebih lebat, sehingga ancaman banjir dan longsor perlu diantisipasi.
Ulrich Beck menyebut masyarakat modern sebagai masyarakat risiko: risiko terbesar tidak lagi datang semata dari alam, tetapi dari hasil kemajuan manusia itu sendiri. Perubahan iklim adalah contoh paling nyata. Yang menarik secara sosiologis, risiko ini dibagi secara tidak adil. Mereka yang paling sedikit menyumbang kerusakan, yakni petani kecil, nelayan, warga desa di lereng kapur, justru paling cepat menanggung akibatnya.
Karena itu, kewaspadaan terhadap perubahan iklim tidak cukup diserahkan kepada BMKG dan BPBD. Ia perlu menjadi kesadaran warga: memahami prakiraan cuaca, menyiapkan cadangan air, mengatur pola tanam, dan memperkuat gotong royong desa dalam menghadapi kekeringan maupun banjir.
Pekan ini kita memiliki sejumlah peringatan yang relevan. Tanggal 5 November diperingati sebagai Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional. Peringatan ini mengingatkan bahwa kekeringan bukan hanya krisis manusia. Satwa kehilangan sumber air dan pakan, tumbuhan mati, dan kebakaran hutan menghanguskan habitat. Mencintai puspa dan satwa berarti menjaga rumah bersama, tempat manusia juga hidup.
Lalu ada wayang. Pada 7 November 2003, UNESCO mengakui wayang sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity, yang kemudian menjadi dasar Hari Wayang Nasional melalui Keppres Nomor 30 Tahun 2018. Pada 4 November 2008, wayang dicatat dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity.
Apa hubungannya dengan kemarau? Dalam pertunjukan wayang, kita mengenal gunungan atau kayon, yang menggambarkan pohon kehidupan: alam semesta dengan pepohonan, satwa, dan air yang saling terhubung. Gunungan menandai awal dan akhir cerita, seakan berpesan bahwa seluruh drama kehidupan manusia berlangsung di dalam bingkai alam. Kearifan budaya kita sebenarnya telah lama mengajarkan keseimbangan, jauh sebelum istilah perubahan iklim dikenal. Masalahnya, kita lebih rajin melestarikan pertunjukannya daripada mengamalkan pesannya.
Peran Dunia Usaha dan UMKM
Sebagai pegiat UMKM dan dunia usaha, saya melihat kemarau panjang juga sebagai persoalan ekonomi. Petani gagal panen, peternak kesulitan pakan, usaha makanan dan minuman menghadapi kenaikan harga bahan baku, dan usaha kecil di desa terdampak ketika daya beli warga melemah. UMKM adalah kelompok yang paling rentan, karena modalnya terbatas dan cadangannya tipis.
Namun, UMKM juga bisa menjadi bagian dari solusi. Pertama, adaptasi usaha: diversifikasi produk, pengolahan hasil pertanian agar lebih tahan lama, dan perencanaan stok berdasarkan informasi iklim. Kedua, efisiensi sumber daya: penghematan air dan energi, daur ulang limbah, serta penggunaan kemasan ramah lingkungan. Ketiga, peluang ekonomi hijau: usaha penampungan air hujan, pupuk organik, bibit tanaman, hingga jasa perawatan lingkungan.
Dunia usaha yang lebih besar memikul tanggung jawab lebih berat. Industri perlu memastikan rantai pasoknya tidak bergantung pada pembakaran lahan atau eksploitasi air tanah yang berlebihan. Kemitraan antara usaha besar dan UMKM dapat diarahkan pada praktik usaha yang berkelanjutan, bukan sekadar mengejar volume produksi.
Di lingkungan Muhammadiyah, gagasan ini sejalan dengan semangat Islam Berkemajuan: iman yang menggerakkan amal, dan amal yang ditopang ilmu pengetahuan. Doa dipanjatkan, ikhtiar dikerjakan, dan ilmu dijadikan pedoman.
Saya ingin menutup dengan satu harapan: semoga saf-saf istisqa yang kita bentuk hari ini berlanjut menjadi barisan gerakan sosial merawat bumi. Masjid dapat menjadi pusat edukasi hemat air dan gerakan menanam pohon. Sekolah dan kampus dapat mengembangkan riset adaptasi iklim. Pemerintah daerah perlu memperkuat sistem peringatan dini, sumur resapan, embung, dan distribusi air bersih yang adil. Dunia usaha dan UMKM dapat menjadikan keberlanjutan sebagai bagian dari model bisnisnya.
Hujan pada akhirnya akan turun, sebagaimana diprediksi BMKG, secara bertahap mulai November hingga Desember. Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah: setelah hujan turun, apakah kita masih ingat pada tobat dan janji yang kita ucapkan saat kemarau? Istisqa yang sejati bukan hanya meminta hujan dari langit, melainkan juga memperbaiki cara kita hidup di bumi.