Munas Satu Abad Tarjih Agendakan Ziarah Makam Mas Mansur

Dok Istimewa
Dok Istimewa

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Seratus tahun bukan sekadar penanda usia. Ia menjadi momentum untuk menengok kembali jejak perjuangan, merawat ingatan sejarah, sekaligus meneruskan warisan pemikiran. Semangat itulah yang mewarnai penyelenggaraan Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih ke-33 yang akan digelar di Surabaya, Jawa Timur. Salah satu agenda pentingnya adalah ziarah dan napak tilas perjuangan Kiai Haji Mas Mansur, tokoh yang memiliki peran besar dalam perjalanan awal Majelis Tarjih Muhammadiyah.

Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ustadi Hamsah, menjelaskan bahwa pemilihan Surabaya sebagai lokasi Munas bukan tanpa alasan. Kota ini memiliki hubungan historis yang kuat dengan kelahiran dan perkembangan gerakan tarjih Muhammadiyah. Surabaya juga merupakan kota kelahiran Kiai Haji Mas Mansur, ketua pertama Majelis Tarjih sekaligus salah satu peletak dasar ijtihad kolektif di lingkungan Muhammadiyah.

Hal tersebut disampaikan Ustadi dalam konferensi pers pada Senin (2/11/2026) di Kantor PP Muhammadiyah, Cik Ditiro, Yogyakarta. Menurutnya, Munas Tarjih ke-33 menjadi bagian dari peringatan satu abad perjalanan tarjih Muhammadiyah sekaligus momentum napak tilas warisan pemikiran Mas Mansur.

“Seratus tahun Tarjih ini menjadi kesempatan bagi kita untuk kembali melihat warisan Kiai Haji Mas Mansur. Beliau bukan hanya ketua pertama Majelis Tarjih, tetapi juga tokoh yang meletakkan dasar ijtihad kolektif dalam Muhammadiyah,” ungkapnya.

Mas Mansur dikenal sebagai ulama Muhammadiyah sekaligus pahlawan nasional yang memiliki peran dalam perjuangan kebangsaan. Karena itu, Munas Tarjih kali ini tidak hanya diarahkan untuk membahas persoalan keagamaan dan ketarjihan, tetapi juga mengangkat pemikiran serta warisan kebangsaan tokoh tersebut.

Majelis Tarjih juga akan memberikan penghargaan kepada keluarga Kiai Haji Mas Mansur sebagai bentuk apresiasi atas jasa dan warisan perjuangannya bagi Muhammadiyah. Penghargaan tersebut menjadi simbol penghormatan persyarikatan kepada tokoh yang telah meletakkan fondasi penting bagi perjalanan Majelis Tarjih.

Agenda ziarah Mas Mansur tersebut dibingkai dengan nama Muhammadiyah Heritage Walk. Melalui kegiatan ini, peserta Munas akan diajak mengunjungi sejumlah situs bersejarah yang berkaitan dengan perjalanan hidup dan perjuangan Mas Mansur. Lokasi yang dikunjungi meliputi rumah Kiai Haji Mas Mansur, masjid yang menjadi salah satu titik awal pergerakan ketarjihan yang dipeloporinya, serta makam sang tokoh.

Bagi Ustadi, kunjungan tersebut bukan sekadar wisata sejarah. Ada upaya menyambungkan kembali ingatan tentang perjuangan masa lalu dengan tantangan kehidupan umat saat ini. Sejarah perlu dihadirkan agar generasi penerus memahami dari mana tradisi pemikiran Muhammadiyah tumbuh dan bagaimana warisan itu dapat terus dikembangkan.

Lebih dari itu, lanjut Ustadi, momentum ini menjadi pengingat bahwa tradisi ijtihad kolektif harus terus hidup. Warisan Mas Mansur perlu diteruskan melalui pemikiran yang responsif terhadap persoalan zaman, tanpa kehilangan pijakan nilai dan semangat pembaruan yang menjadi karakter Muhammadiyah. (gsh).