Kader IMM di Tengah Disrupsi: Jangan Hanya Aktif, Jadilah Solusi

Ilustrasi gambar
Ilustrasi gambar

Kader IMM di Tengah Disrupsi: Jangan Hanya Aktif, Jadilah Solusi

 

Oleh: Amrizal, Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumatera Utara / Dosen Universitas Negeri Medan

 

Ada masa ketika saya belajar memahami organisasi bukan dari banyaknya agenda yang diselenggarakan, melainkan dari proses yang membentuk manusia di dalamnya. Saya memulai perjalanan perkaderan dari Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM), yang kini dikenal sebagai Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Perjalanan itu berlanjut di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), kemudian Pemuda Muhammadiyah. Setiap jenjang memiliki ruang belajar, tantangan, dan tanggung jawabnya sendiri.

 

Di IRM, saya belajar mengenal gerakan sejak usia pelajar. Memasuki IMM, saya berhadapan dengan dunia mahasiswa yang menuntut keluasan wawasan, ketajaman berpikir, dan keberanian mengambil sikap. Di Pemuda Muhammadiyah, ruang pengabdian semakin luas, dengan persoalan masyarakat dan tanggung jawab kepemimpinan yang semakin kompleks.

 

Perjalanan itu mengajarkan satu hal penting: organisasi bukan sekadar tempat seseorang memperoleh jabatan, pengalaman, atau jaringan pertemanan. Organisasi seharusnya menjadi ruang pertumbuhan, tempat seseorang belajar mengubah potensi menjadi kemampuan, kemampuan menjadi karya, dan karya menjadi manfaat.

 

Refleksi inilah yang terasa relevan ketika berbicara kepada kader-kader IMM hari ini, termasuk peserta Darul Arqam Dasar di Universitas Gadjah Mada (UGM), yang mengangkat tema Pengembangan Potensi Kader melalui Aksi Solutif di Tengah Era Disrupsi.

 

Ketika Zaman Berubah, Kader Harus Bertumbuh

 

Kita sedang hidup dalam zaman ketika perubahan berlangsung sangat cepat. Kecerdasan buatan mampu membantu manusia mengolah informasi, menulis, menganalisis data, dan menghasilkan berbagai bentuk karya. Dunia kerja berubah, cara belajar bergeser, dan batas antara ruang fisik dengan ruang digital semakin tipis.

 

Laporan Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum menegaskan pentingnya keterampilan berpikir analitis, kreativitas, ketangguhan, fleksibilitas, serta kemampuan beradaptasi dalam menghadapi perubahan dunia kerja. Teknologi semakin penting, tetapi kemampuan manusia untuk berpikir, belajar, bekerja sama, dan mengambil keputusan tetap menentukan.

 

Bagi kader IMM, perubahan ini tidak seharusnya disambut dengan ketakutan. Sebaliknya, ia perlu dibaca sebagai tantangan sekaligus kesempatan untuk memperluas pengabdian.

 

Pertanyaannya bukan apakah kader IMM mampu menggunakan teknologi terbaru. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah kader IMM mampu menggunakan ilmu dan teknologi untuk menjawab persoalan masyarakat.

 

Kita bisa membayangkan seorang kader yang mahir menggunakan berbagai aplikasi digital, aktif di media sosial, dan mampu berbicara di hadapan banyak orang. Namun, jika semua kemampuan itu tidak pernah digunakan untuk menyelesaikan persoalan di sekitarnya, potensinya belum sepenuhnya menjadi manfaat.

 

Sebaliknya, seorang kader yang tekun membaca, memahami masalah, bekerja bersama masyarakat, dan menghasilkan solusi sederhana sesungguhnya sedang menjalankan fungsi intelektualnya secara lebih utuh.

 

Zaman ini tidak hanya membutuhkan kader yang pandai menjelaskan perubahan, tetapi juga kader yang mampu mengerjakan perubahan.

 

IMM dan Tanggung Jawab Melahirkan Akademisi Islam

 

Tujuan IMM adalah mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah. Rumusan ini menyimpan pesan mendalam tentang manusia yang hendak dibentuk melalui perkaderan.

 

IMM tidak cukup melahirkan mahasiswa yang cerdas secara akademik, tetapi abai terhadap kehidupan masyarakat. IMM juga tidak cukup melahirkan aktivis yang sibuk mengurus organisasi, tetapi kehilangan ketekunan dalam belajar.

 

Kader IMM dituntut mempertemukan ilmu, iman, dan pengabdian. Dalam tradisi IMM, pertemuan itu tercermin melalui Tri Kompetensi Dasar: religiusitas, intelektualitas, dan humanitas.

 

Religiusitas memberikan orientasi nilai. Intelektualitas membentuk kemampuan memahami persoalan secara kritis dan ilmiah. Humanitas memastikan bahwa ilmu dan nilai tersebut hadir untuk menghormati martabat manusia serta memperjuangkan kemaslahatan.

 

Ketiganya tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Religiusitas tanpa intelektualitas dapat membuat seseorang kurang tajam membaca persoalan. Intelektualitas tanpa akhlak dapat kehilangan arah moral. Sementara keduanya tanpa humanitas berisiko menjadikan ilmu dan kesalehan berhenti pada kepentingan diri sendiri.

 

Di sinilah relevansi perkaderan IMM harus terus diperkuat. Darul Arqam Dasar bukan sekadar kegiatan untuk memperkenalkan organisasi atau menanamkan kebanggaan terhadap identitas Ikatan. DAD harus menjadi pintu masuk bagi proses pembentukan karakter, pengembangan kapasitas, dan penumbuhan kesadaran sosial.

 

Kader tidak boleh berhenti pada kemampuan menghafal tujuan IMM. Ia perlu belajar menerjemahkan tujuan itu ke dalam keputusan, perilaku, dan tindakan nyata.

 

Dari Perjalanan Kader Menjadi Pelajaran Kehidupan

 

Dalam perjalanan saya di Muhammadiyah, saya merasakan bahwa setiap jenjang organisasi menghadirkan tuntutan pertumbuhan yang berbeda. Pengalaman sebagai kader IRM, kemudian memimpin komisariat IMM di FMIPA Universitas Negeri Medan pada periode 2000–2001, mengemban amanah di Pimpinan Cabang IMM Kota Medan pada periode 2005–2007, hingga melanjutkan pengabdian di memimpin Pemuda Muhammadiyah Sumatera Utara memberikan pelajaran tentang pentingnya proses dan kesinambungan kaderisasi.

 

Pengalaman tersebut bukan berarti setiap tahap selalu mudah atau setiap persoalan selalu dapat diselesaikan dengan sempurna. Justru, perjalanan organisasi memperlihatkan bahwa kemampuan seseorang berkembang melalui amanah, interaksi, pembelajaran, evaluasi, dan kesediaan memperbaiki diri.

 

Saya belajar bahwa kepemimpinan tidak semata-mata tentang menggerakkan orang lain. Kepemimpinan juga tentang kesediaan belajar dari orang lain, menerima kritik, dan memahami bahwa keberhasilan gerakan tidak mungkin dibangun oleh satu orang saja.

 

Jabatan dapat memberikan kewenangan, tetapi tidak otomatis melahirkan kapasitas. Pengalaman dapat memperluas wawasan, tetapi tidak otomatis membuat seseorang menjadi bijaksana. Semua itu membutuhkan refleksi dan kemauan untuk terus belajar.

 

Dalam semangat yang sama, buku Setia di Jalan Ini menjadi salah satu penanda ikhtiar saya menuangkan refleksi tentang perjalanan dan nilai perjuangan. Bagi saya, kesetiaan kepada jalan pengabdian tidak seharusnya dimaknai sebagai sikap bertahan tanpa perubahan. Kesetiaan justru harus disertai kesediaan memperbaiki cara berpikir, meningkatkan kemampuan, dan mencari jalan yang lebih baik untuk menghadirkan manfaat.

 

Kesetiaan bukan alasan untuk mempertahankan kebiasaan yang tidak lagi efektif. Kesetiaan adalah komitmen menjaga nilai sambil terus memperbarui cara bekerja.

 

Pelajaran ini penting bagi kader IMM. Jangan sampai kita begitu bangga dengan sejarah gerakan sehingga lupa mempersiapkan masa depannya. Jangan sampai kita begitu sibuk mempertahankan tradisi kegiatan sehingga tidak sempat mengevaluasi apakah kegiatan itu benar-benar membentuk kader.

 

Sejarah memberikan identitas. Ideologi memberikan arah. Namun, masa depan gerakan ditentukan oleh kemampuan kader menerjemahkan keduanya menjadi karya yang relevan dengan kebutuhan zaman.

 

Sejarah Bukan Sekadar Kebanggaan

 

IMM lahir di Yogyakarta pada 14 Maret 1964. Kota ini menjadi bagian penting dalam sejarah pembentukan gerakan mahasiswa Muhammadiyah. Bagi kader yang berproses di lingkungan UGM, sejarah tersebut dapat menjadi sumber inspirasi sekaligus pengingat akan tanggung jawab intelektual.

 

Kedekatan dengan kota kelahiran IMM tidak seharusnya melahirkan kebanggaan yang berhenti pada simbol. Ia semestinya mendorong pertanyaan yang lebih mendasar: apa kontribusi kader hari ini bagi perkembangan ilmu, kehidupan mahasiswa, dan persoalan masyarakat?

 

Sejarah memang perlu dipelajari secara sungguh-sungguh. Namun, sejarah tidak cukup hanya diceritakan berulang-ulang. Ia harus diteruskan melalui keberanian melahirkan gagasan dan kerja yang bermakna.

 

Kader IMM di kampus dengan tradisi akademik yang kuat mempunyai peluang untuk membangun dialog antara nilai Islam, ilmu pengetahuan, dan persoalan publik. Potensi itu dapat diwujudkan melalui penelitian, diskusi ilmiah, penulisan, advokasi berbasis data, pengabdian masyarakat, serta inovasi yang menjawab kebutuhan nyata.

 

Dengan demikian, identitas kader tidak hanya tampak dalam atribut atau aktivitas organisasi, tetapi juga dalam mutu pemikiran dan manfaat tindakannya.

 

Dari Aktivitas Menuju Aksi Solutif

 

Salah satu tantangan organisasi mahasiswa adalah kecenderungan mengukur keberhasilan melalui banyaknya kegiatan. Seminar telah dilaksanakan, pelatihan telah diselenggarakan, media sosial telah diperbarui, dan laporan pertanggungjawaban telah disusun. Semua itu penting, tetapi belum selalu menunjukkan bahwa suatu persoalan telah diselesaikan.

 

Aksi solutif menuntut cara pandang yang berbeda. Sebelum membuat program, kader perlu memahami persoalan yang hendak dijawab. Setelah program dilaksanakan, kader perlu mengevaluasi perubahan yang dihasilkan.

 

Misalnya, jika persoalannya adalah rendahnya literasi digital, kegiatan tidak cukup berhenti pada seminar. Kader dapat mengembangkan pendampingan untuk memeriksa informasi, mengenali manipulasi digital, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

 

Jika persoalannya adalah kesulitan belajar anak-anak di suatu komunitas, kader dapat membangun program pendampingan yang berkelanjutan. Jika pelaku usaha kecil mengalami kesulitan dalam pencatatan keuangan atau pemasaran, mahasiswa dapat membantu sesuai kompetensi dan kebutuhan yang disepakati.

 

Kader tidak harus memulai dengan program besar. Justru, persoalan kecil yang ditangani secara serius dapat menjadi ruang belajar yang berharga.

 

Prosesnya dapat dimulai dengan lima langkah: mengenali masalah, mengumpulkan bukti, merancang solusi, melaksanakan aksi bersama pihak terkait, dan mengukur hasilnya.

 

Pendekatan ini juga mengajarkan kerendahan hati. Kader tidak boleh datang dengan anggapan bahwa dirinya selalu mengetahui solusi terbaik. Masyarakat perlu didengarkan, pengalaman mereka perlu dihargai, dan program perlu disusun berdasarkan kebutuhan yang benar-benar ada.

 

Aksi solutif bukan sekadar kegiatan sosial. Ia merupakan pertemuan antara ilmu pengetahuan, tanggung jawab moral, dan keberpihakan pada kemaslahatan.

 

Menggunakan Teknologi Tanpa Kehilangan Integritas

 

Kecerdasan buatan memberikan peluang besar bagi pengembangan potensi kader. Teknologi ini dapat membantu proses belajar, penyusunan gagasan, analisis data, pengembangan media dakwah, dan perancangan program.

 

Namun, kemudahan tersebut juga membawa tanggung jawab. Kader harus mampu memeriksa kebenaran informasi, mengenali keterbatasan teknologi, menjaga kerahasiaan data, dan menghindari plagiarisme.

 

Teknologi boleh membantu proses berpikir, tetapi tidak boleh menghapus tanggung jawab intelektual. Jawaban yang dihasilkan mesin tidak otomatis benar. Tulisan yang tampak meyakinkan belum tentu memiliki landasan yang kuat.

 

UNESCO melalui Guidance for Generative AI in Education and Research menekankan pentingnya pendekatan yang berpusat pada manusia dalam penggunaan kecerdasan buatan di pendidikan dan penelitian.

 

Prinsip ini sejalan dengan kebutuhan kader IMM: menguasai teknologi tanpa menjadi budaknya, memanfaatkan inovasi tanpa kehilangan integritas, dan mempercepat pekerjaan tanpa mengorbankan kualitas pemikiran.

 

Kader yang relevan dengan zaman bukanlah mereka yang mengikuti setiap tren teknologi. Kader yang relevan adalah mereka yang mampu menilai teknologi mana yang bermanfaat, bagaimana menggunakannya secara bertanggung jawab, dan untuk siapa manfaatnya dihadirkan.

 

Menjadikan Perkaderan sebagai Awal Perubahan

 

Darul Arqam Dasar seharusnya tidak berakhir ketika peserta menerima sertifikat dan meninggalkan tempat kegiatan. DAD perlu menjadi titik awal dari proses belajar yang berkelanjutan.

 

Setelah perkaderan, setiap kader dapat mulai memetakan potensi dirinya. Ada yang kuat dalam menulis, ada yang memiliki kemampuan analitis, ada yang terampil mengorganisasi, ada yang menguasai teknologi, dan ada yang mempunyai kepekaan sosial yang tinggi.

 

Potensi tersebut perlu dikembangkan melalui pengalaman dan pendampingan. Komisariat dapat menyediakan ruang membaca, diskusi, pelatihan keterampilan, proyek sosial, dan evaluasi berkala. Setiap kader diberi kesempatan untuk mencoba, melakukan kesalahan, memperbaiki diri, dan menghasilkan karya.

 

Salah satu langkah sederhana adalah menjalankan tantangan aksi solutif selama 90 hari. Pada bulan pertama, kader memetakan potensi dan mengidentifikasi masalah. Pada bulan kedua, mereka mengumpulkan data serta merancang solusi. Pada bulan ketiga, mereka melaksanakan proyek percontohan dan mengevaluasi hasilnya.

 

Ukuran keberhasilan bukan besarnya anggaran atau ramainya publikasi. Ukurannya adalah apakah kader belajar sesuatu yang baru, apakah kemampuan mereka berkembang, dan apakah aksi yang dilakukan menghasilkan manfaat yang dapat dibuktikan.

 

Dengan pendekatan seperti ini, kaderisasi tidak berhenti pada penanaman nilai. Ia bergerak menuju pembentukan kompetensi dan pengabdian.

 

 

Setia pada Nilai, Berani Memperbarui Cara

 

Pada akhirnya, pengembangan potensi kader di tengah era disrupsi merupakan persoalan ideologi sekaligus persoalan praksis. Kita membutuhkan kader yang teguh pada nilai, tetapi tidak kaku dalam cara. Kader yang kritis terhadap keadaan, tetapi tidak berhenti pada kritik. Kader yang memiliki idealisme, tetapi juga bersedia bekerja secara tekun untuk mewujudkannya.

 

Muhammadiyah mengajarkan bahwa dakwah tidak hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi juga melalui tindakan yang memberikan manfaat. Semangat ini mengingatkan kita pada pesan Surah Ali Imran ayat 104 tentang pentingnya menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar.

 

Bagi kader IMM, pesan tersebut perlu diterjemahkan dalam kehidupan akademik dan sosial: membangun tradisi ilmu, menjaga akhlak, mengembangkan kepemimpinan, serta hadir bersama masyarakat untuk menyelesaikan persoalan sesuai kemampuan.

 

Kita tidak dapat mengendalikan seluruh perubahan zaman. Namun, kita dapat mempersiapkan diri agar tidak kehilangan arah ketika perubahan datang. Kita dapat memilih untuk terus belajar, memperbaiki kemampuan, dan menggunakan pengetahuan bagi kemaslahatan.

 

Saya meyakini, keberhasilan seorang kader tidak semata-mata ditentukan oleh lamanya ia berada di organisasi atau tingginya jabatan yang pernah diemban. Keberhasilan itu juga terlihat dari kualitas manusia yang tumbuh melalui proses tersebut, ilmu yang diamalkan, dan manfaat yang ditinggalkan.

 

Karena itu, kepada kader-kader IMM, khususnya generasi yang sedang menapaki proses awal perkaderan, saya ingin menyampaikan satu pesan: jangan hanya bercita-cita menjadi kader yang dikenal karena aktivitasnya. Berusahalah menjadi kader yang dipercaya karena integritasnya, dihormati karena ilmunya, dan dirasakan manfaatnya karena pengabdiannya.

 

Jangan hanya aktif. Bertumbuhlah. Jangan hanya mengkritik. Hadirkan solusi. Jangan hanya bangga pada sejarah. Lanjutkan sejarah itu melalui karya.

 

Sebab, kesetiaan pada jalan perjuangan tidak diukur dari seberapa sering kita menyebut nama gerakan, tetapi dari seberapa sungguh-sungguh kita menjaga nilainya dan mewujudkan tujuannya.

 

Di tengah zaman yang terus berubah, kader IMM harus tetap teguh pada nilai, terus bertumbuh dalam ilmu, dan tidak berhenti menghadirkan solusi.

 

Billahi Fii Sabililhaq Fastabiqul khairat. 

 

Tentang penulis: Amrizal, S.Si., M.Pd., kader Muhammadiyah yang menapaki perjalanan organisasi dari IRM/IPM, IMM, hingga Pemuda Muhammadiyah. Ia pernah menjadi Ketua Umum PK IMM KH Ahmad Dahlan FMIPA Universitas Negeri Medan, Ketua Umum PC IMM Kota Medan, dan Ketua PW Pemuda Muhammadiyah Sumatera Utara periode 2018–2022. Ia aktif dalam pengembangan kaderisasi Muhammadiyah dan menulis buku bertema kaderisasi, ideologi, serta penguatan gerakan.