KHGT dan Tradisi Tajdid Muhammadiyah
Oleh: Rusydi Umar, Dosen S2 Informatika UAD, Anggota MPI PP Muhammadiyah (2015-2022)
Setiap kali mendengar kata tajdid, mungkin yang terbayang adalah sesuatu yang baru. Ada gagasan baru, cara berpikir baru, atau bahkan keputusan baru dalam menghadapi persoalan keagamaan. Tetapi tajdid sesungguhnya tidak sesederhana mengganti sesuatu yang lama dengan sesuatu yang baru. Dalam tradisi Muhammadiyah, pembaruan justru berangkat dari pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana nilai-nilai Islam tetap dapat menjawab persoalan manusia yang terus berubah?
Pertanyaan semacam itu menjadi penting ketika kita berbicara tentang Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Kalender mungkin tampak sebagai perkara teknis, karena berbicara tentang tanggal, bulan, dan pergantian tahun. Namun, di balik itu terdapat persoalan yang lebih besar: bagaimana umat Islam yang hidup di berbagai tempat di dunia dapat memiliki sistem waktu yang dapat menjadi rujukan bersama? Di titik inilah KHGT dapat dibaca bukan hanya sebagai persoalan kalender, tetapi juga sebagai salah satu bentuk ikhtiar tajdid.
Tajdid sering dipahami sebagai pembaruan, tetapi bukan berarti sesuatu yang lama pasti salah dan yang baru pasti benar. Nilai-nilai agama tetap menjadi pijakan, sementara cara manusia memahami dan menerapkannya dapat berkembang mengikuti perubahan kehidupan. Persoalan waktu dan penanggalan pun bukan hal baru bagi umat Islam, tetapi konteksnya telah berubah. Jika dahulu kehidupan umat lebih banyak berlangsung dalam ruang geografis yang terbatas, kini manusia dapat berpindah antarnegara dalam hitungan jam, berkomunikasi melintasi benua dalam hitungan detik, serta menjalankan pendidikan, perdagangan, perjalanan, dan berbagai aktivitas lainnya dalam jaringan global. Karena itu, persoalan kalender juga mengalami perubahan skala. Tajdid bukan berarti meninggalkan persoalan lama, melainkan membaca kembali persoalan tersebut dalam konteks kehidupan yang baru.
Muhammadiyah memiliki tradisi menggunakan hisab dalam persoalan waktu dan penanggalan. Tradisi ini menunjukkan bahwa persoalan keagamaan dapat dijawab dengan pendekatan yang berkembang sesuai perubahan kehidupan. Dari sini, tajdid tidak hanya bertanya, “Kapan awal bulan dimulai?”, tetapi juga “Bagaimana umat Islam di berbagai belahan dunia memiliki kalender yang dapat menjadi rujukan bersama?” Perubahan pertanyaan ini menunjukkan bahwa pembaruan dapat dimulai dari keberanian melihat persoalan secara lebih luas. Dalam kerangka tersebut, KHGT merupakan ikhtiar membawa persoalan penentuan waktu dari kebutuhan masing-masing wilayah menuju gagasan sistem kalender yang memiliki cakupan global.
Ada hal lain yang menarik dari persoalan kalender Islam. Ia memperlihatkan bahwa agama dan ilmu pengetahuan tidak harus ditempatkan dalam ruang yang saling berhadapan. Al-Qur'an memberikan pandangan dasar tentang waktu dan perjalanan bulan. Fikih memberikan kerangka bagi bagaimana umat memahami dan menjalankan ketentuan keagamaan. Astronomi membantu manusia memahami fenomena benda-benda langit secara lebih terukur. Sementara perkembangan teknologi memungkinkan perhitungan dan pengolahan data dilakukan dengan tingkat ketelitian yang jauh berbeda dibandingkan masa lalu.
Inilah salah satu wajah tajdid yang menarik. Ilmu pengetahuan tidak ditempatkan sebagai ancaman bagi agama. Sebaliknya, ilmu dapat menjadi alat untuk memahami ciptaan Allah dan membantu manusia menjalankan kehidupannya secara lebih tertib. Dalam konteks KHGT, persoalannya bukan sekadar mampu menghitung posisi bulan. Persoalannya adalah bagaimana pengetahuan tersebut dapat diterjemahkan menjadi sebuah sistem kalender yang dapat digunakan manusia secara luas. Dengan demikian, tajdid tidak berhenti pada wacana. Ia membutuhkan pengetahuan, metodologi, dan kemampuan membangun sistem.
KHGT dan Cermin Islam Berkemajuan
Dunia yang semakin terhubung membawa persoalan baru bagi umat Islam. Seorang Muslim dapat bekerja, belajar, dan beraktivitas ekonomi di berbagai negara, sehingga kalender bukan lagi sekadar penunjuk tanggal, melainkan bagian dari kebutuhan umat yang hidup dalam ruang global. Jika dahulu persoalan kalender lebih banyak dibicarakan dalam konteks masyarakat setempat, kini pertanyaannya menjadi lebih luas: bagaimana umat Islam memiliki sistem kalender yang dapat menjadi rujukan bersama? Dalam konteks inilah gagasan kalender global memperoleh relevansinya, bukan karena umat tiba-tiba membutuhkan sesuatu yang baru, tetapi karena kehidupan umat sendiri telah berubah.
Setiap gagasan pembaruan tentu membuka ruang diskusi karena tidak semua orang memandang persoalan dengan cara yang sama. Karena itu, tajdid membutuhkan keberanian untuk menawarkan jalan baru sekaligus kerendahan hati untuk menerima kritik dan evaluasi. Pembaruan yang sehat tidak menutup pintu dialog, tetapi memberi ruang bagi ilmu pengetahuan, argumentasi, dan perbedaan pandangan. Dalam konteks KHGT, yang penting bukan sekadar memperdebatkan siapa yang benar dan siapa yang salah, melainkan membangun tradisi berpikir yang sehat dalam menghadapi persoalan keagamaan yang semakin kompleks.
Islam Berkemajuan bukan sekadar semangat menjadi modern, tetapi ikhtiar menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan dengan memberikan kemaslahatan. Karena itu, membangun sistem yang tertib, memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memikirkan kebutuhan umat dalam skala yang lebih luas merupakan bagian dari upaya tersebut. Kalender mungkin terlihat sederhana, tetapi di baliknya terdapat pengetahuan tentang astronomi, matematika, fikih, teknologi, dan persoalan sosial tentang bagaimana manusia menyepakati waktu.
Di sinilah KHGT dapat dilihat sebagai bagian dari ikhtiar tajdid. Ia bukan sekadar upaya menentukan tanggal, tetapi usaha memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk membangun keteraturan bersama. Tajdid bukan meninggalkan masa lalu, melainkan membaca warisan keilmuan dan perubahan zaman agar nilai-nilai Islam tetap mampu menjawab kehidupan. Zaman dan teknologi boleh berubah, tetapi pertanyaan dasarnya tetap sama: bagaimana Islam terus menghadirkan kemaslahatan bagi manusia? Di situlah tajdid menemukan maknanya, bukan pada kebaruan semata, tetapi pada keberanian mencari jawaban yang lebih baik dengan tetap berpijak pada nilai-nilai Islam.

