Membangun LAZISMU: Strategi Inovatif untuk Kesejahteraan Umat
Oleh: Bahrus Surur-Iyunk, Anggota Takmir Masjid Besar (Muhammadiyah) Darussalam Sumenep
Dalam mengelola lembaga zakat, infak, dan sedekah seperti LAZISMU, ada banyak tantangan yang dihadapi. Tidak hanya soal bagaimana mengumpulkan dana, tetapi juga bagaimana mengelola dan mendistribusikannya secara efektif untuk kesejahteraan umat. Satu hal yang perlu kita hindari adalah "berburu di kebun binatang atau di akuarium." Atau, hanya sibuk mencari ZIS di kalangan internal Muhammadiyah.
Ungkapan ini menggambarkan sebuah kebiasaan yang terlalu nyaman dalam mencari dana dari lingkungan yang sudah ada dan siap mendukung serta memberi untuk program yatim, masjid, atau kegiatan kemanusiaan. Memang, program-program ini lebih mudah mendapatkan perhatian dan dana. Tetapi, tidak semestinya berpuas diri dan bangga hanya karena organisasi terlihat "hidup" dari kontribusi kecil ini, seperti yang sering terjadi di beberapa tempat.
Untuk benar-benar membangun LAZISMU yang kuat, cara berpikir pun perlu diluaskan. Salah satu langkah penting adalah memperluas basis muzakki (pemberi zakat) di luar lingkup Muhammadiyah. Pendataan siapa saja calon donatur potensial di luar Persyarikatan akan membuka peluang besar. Dalam hal ini, perlu membedakan kategori data. Data "hijau" merujuk pada mereka yang siap dan mudah diajak berpartisipasi, sementara data "kuning" adalah mereka yang perlu dibina dan diyakinkan lebih lanjut. Membangun relasi dengan kedua kelompok ini akan memberikan dorongan besar bagi pengumpulan dana.
Kunci keberhasilan lain dalam pengelolaan LAZISMU adalah menjalin hubungan yang baik dengan pemerintah. Kedekatan dengan pihak pemerintah penting untuk memastikan bahwa LAZISMU selalu berada di jalur yang tepat dalam peraturan dan kebijakan yang ada. Meskipun harus dekat dengan pemerintah, namun jangan terlalu bergantung. Sebaliknya, mendekatlah juga pada para donatur dan lakukan silaturahmi secara rutin. Hubungan yang baik dengan donatur adalah investasi jangka panjang yang dapat memastikan aliran dana berkelanjutan.
Tidak hanya itu, perilaku "berkemajuan" harus menjadi karakter dari seluruh pengurus LAZISMU. Berkemajuan berarti berpikir proaktif, inovatif, dan berfokus pada pengembangan jangka panjang. Para pengurus perlu menjangkau teman-teman dekat, kolega, dan jaringan mereka untuk membangun kolaborasi dan dukungan bagi LAZISMU. Ini tidak hanya soal mengumpulkan dana, tetapi juga membangun reputasi dan kepercayaan di mata masyarakat.
Empat Pilar Keberhasilan
Membangun LAZISMU yang sukses tidak bisa dilakukan dengan setengah hati. Ada empat pilar utama yang harus dipegang teguh oleh seluruh pengurus. Pertama, Serius: Dalam mengelola dana dan program, keseriusan menjadi kunci utama. Semua upaya harus dilakukan dengan sepenuh hati dan penuh tanggung jawab.
Kedua, fokus. Fokus pada tujuan dan visi organisasi, jangan terpecah oleh program-program yang tidak relevan.
Ketiga, Istiqamah: Konsistensi adalah kunci. Dalam setiap program yang diluncurkan, kita harus teguh dan terus berupaya tanpa menyerah.
Keempat, Inovatif dan Kolaboratif. Meskipun kita ingin berinovasi, tapi pernah jangan melupakan cara-cara konvensional yang telah terbukti berhasil dalam pengelolaan zakat. Pendekatan tradisional masih sangat relevan, terutama di komunitas-komunitas yang lebih konservatif.
Kolaborasi dan kerja sama antara LAZISMU dan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) di setiap daerah sangat penting. Sinergi ini bisa memperluas jangkauan program serta memaksimalkan dana yang terkumpul. Dalam hal ini, dana amil sebesar 20 persen harus dikelola dengan bijaksana untuk mendukung operasional dan pengembangan LAZISMU. Dana ini bisa digunakan untuk memperkuat struktur organisasi, serta mendukung pengurus yang bekerja secara penuh waktu untuk mengelola lembaga ini. Struktur yang jelas dan Surat Keputusan (SK) yang tepat harus ada, sehingga setiap anggota tim memiliki tanggung jawab dan peran yang terukur.
Donatur Rutin dan Sistem Keuangan Transparan
Salah satu sumber pendanaan yang paling stabil adalah donatur rutin. Membangun hubungan jangka panjang dengan mereka adalah prioritas. LAZISMU harus memastikan bahwa donatur-donatur rutin merasa dihargai dan dilibatkan dalam setiap kegiatan. Kepercayaan adalah kunci utama, dan ini bisa dicapai dengan transparansi dalam pengelolaan dana.
Misalnya, setiap dana yang diterima harus segera disetor ke bank dalam waktu 1x24 jam. Ini tidak hanya merupakan bentuk transparansi keuangan, tetapi juga menunjukkan integritas LAZISMU dalam mengelola zakat, infak, dan sedekah yang telah diamanahkan oleh masyarakat.
Ala kulli hal, membangun LAZISMU bukanlah pekerjaan yang mudah, tetapi dengan strategi yang tepat, keseriusan, dan fokus, kita bisa menjadikannya lembaga yang kuat dan berpengaruh dalam meningkatkan kesejahteraan umat. Dengan memperluas basis muzakki, menjalin hubungan yang baik dengan pemerintah dan donatur, serta memastikan pengelolaan yang transparan, LAZISMU dapat terus berkembang dan berkontribusi lebih besar bagi masyarakat. Kolaborasi dengan PCM dan pemanfaatan dana amil yang tepat juga akan memperkuat struktur organisasi, sehingga LAZISMU dapat beroperasi secara efektif dan profesional. Wallahu a’lamu.

