Pelajaran Kepahlawanan dari Perempuan 'Aisyiyah Kalimantan Barat

Foto Ilustrasi
Foto Ilustrasi

Pelajaran Kepahlawanan dari Perempuan 'Aisyiyah Kalimantan Barat

Penulis: Amalia Irfani, Dosen IAIN Pontianak/LPPA PWA Kalbar

Setiap Hari Pahlawan, bangsa Indonesia kembali dipenuhi narasi heroisme. Nama-nama pahlawan dikenang, monumen dibersihkan, dan pidato-pidato patriotik dikumandangkan. Budaya tersebut telah menjadi rutinitas  di setiap tanggal 10 November yang ditetapkan secara resmi melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959. Penetapan didasarkan pada peristiwa sejarah penting, yakni puncak Pertempuran Surabaya 10 November 1945.

Namun di balik gegap gempita seremoni tersebut, terdapat pertanyaan yang telah sering diajukan namun  mungkin belum dapat dijawab secara lugas, apakah negara hari telah berjalan di atas cita-cita yang diperjuangkan para pahlawan?. 

Pertanyaan diatas penting karena kepahlawanan tidak hanya berkaitan dengan masa lalu, tetapi juga dengan keberanian mengoreksi arah perjalanan bangsa. Menghormati pahlawan tidak cukup dengan menabur bunga di makam mereka. Penghormatan yang sejati adalah memastikan bahwa kemerdekaan yang mereka perjuangkan diterjemahkan menjadi kebijakan publik yang berkeadilan, pendidikan yang memerdekakan, pelayanan kesehatan yang merata, dan kesejahteraan yang dapat diakses seluruh rakyat.

Di sinilah perspektif Muhammadiyah menjadi relevan. Sejak awal berdiri, Muhammadiyah tidak menjadikan perjuangan sebagai romantisme sejarah, melainkan sebagai gerakan pembebasan sosial.  Kiai Ahmad Dahlan memahami bahwa musuh bangsa tidak hanya penjajahan kolonial, tetapi juga kebodohan, kemiskinan, ketidakadilan, dan ketertinggalan. Ironisnya, lebih dari tujuh dekade setelah kemerdekaan, persoalan-persoalan tersebut masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.

Dalam perspektif Islam Berkemajuan yang menjadi basis gerakan Muhammadiyah, pembangunan tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik. Negara seharusnya diukur dari kemampuannya memuliakan manusia. Jalan tol, kawasan industri, dan gedung pencakar langit memang penting, tetapi tidak dapat menjadi tolok ukur tunggal keberhasilan pembangunan. Keberhasilan sejati adalah ketika akses pendidikan bermutu dapat dinikmati seluruh warga, layanan kesehatan tidak menjadi kemewahan, dan setiap warga memiliki kesempatan yang adil untuk meningkatkan kualitas hidupnya.

Muhammadiyah sendiri telah menunjukkan model perjuangan yang berbeda. Saat negara belum mampu menjangkau seluruh kebutuhan masyarakat, Muhammadiyah membangun sekolah, universitas, rumah sakit, panti asuhan, dan berbagai layanan sosial secara mandiri. Kehadiran amal usaha Muhammadiyah sesungguhnya dapat dibaca sebagai kritik sosial yang halus namun tegas, ketika negara belum sepenuhnya hadir, masyarakat sipil harus bergerak mengisi ruang-ruang pelayanan publik.

Namun kritik menjadi lebih bermakna ketika disertai contoh konkret. Salah satu contoh dapat ditemukan pada gerakan ‘Aisyiyah Kalimantan Barat. Melalui peluncuran Taman Pustaka ‘Aisyiyah Hajjah Ruminah dan Komunitas Seni Hajjah Fauziah, mereka menghadirkan model pemberdayaan yang berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat, yakni akses terhadap literasi, ruang belajar, dan pengembangan kebudayaan. Taman pustaka tersebut dirancang tidak hanya sebagai tempat membaca, tetapi juga sebagai ruang edukasi, diskusi, dan pemberdayaan masyarakat. 

Apa yang dilakukan ‘Aisyiyah Kalimantan Barat sesungguhnya merupakan kritik diam terhadap orientasi pembangunan yang sering kali terlalu berpusat pada aspek fisik. Ketika banyak daerah berlomba membangun infrastruktur yang tampak kasat mata, gerakan literasi justru mengingatkan bahwa kualitas sumber daya manusia tidak dibangun dengan beton dan aspal semata. Peradaban lahir dari pengetahuan, tradisi membaca, budaya dialog, dan kemampuan berpikir kritis masyarakat. Sayangnya, aspek-aspek fundamental ini kerap memperoleh perhatian yang lebih kecil dibanding pembangunan yang memiliki dampak politik jangka pendek.

Perempuan ‘Aisyiyah Kalimantan Barat memperlihatkan bahwa kepahlawanan masa kini tidak harus tampil melalui jabatan politik atau kekuasaan negara. Kepahlawanan dapat diwujudkan melalui kerja sunyi membangun kesadaran masyarakat. Di tengah maraknya budaya instan, rendahnya minat baca, dan derasnya arus disinformasi digital, mendirikan taman pustaka sesungguhnya adalah tindakan yang jauh lebih revolusioner daripada sekadar menyelenggarakan acara seremonial. Mereka sedang menyiapkan fondasi peradaban yang hasilnya mungkin tidak langsung terlihat hari ini, tetapi akan menentukan kualitas generasi pada masa depan.

Muhammadiyah melalui gagasan Islam Berkemajuan mengajarkan bahwa kekuasaan harus memiliki orientasi etik. Negara tidak boleh menjadi instrumen segelintir elite, melainkan alat untuk mewujudkan kemaslahatan publik. Karena itu, kebijakan publik harus diuji berdasarkan sejauh mana ia memperkuat keadilan sosial, mengurangi kesenjangan, dan melindungi kelompok yang rentan.

Jika para pahlawan dahulu mempertaruhkan nyawa demi kemerdekaan, maka tantangan generasi sekarang adalah memastikan kemerdekaan tersebut menghasilkan keadilan. Sebab kemerdekaan tanpa keadilan hanya melahirkan ketimpangan dalam wajah yang berbeda. Kemerdekaan tanpa pencerdasan hanya melahirkan warga negara yang bebas secara politik tetapi lemah secara intelektual. 

Karena itu, Hari Pahlawan tidak seharusnya diperingati dengan nostalgia semata. Tetapi  harus menjadi ruang muhasabah nasional. Gerakan sosial perempuan Muhammadiyah adalah wujud konkrit bahwa mencintai negeri  dengan ikut serta mencerdaskan melalui kepedulian melalui spektrum dakwah.