Pengaruh Muhammadiyah Kian Bersinar

Suara Muhammadiyah

23 September 2026

131
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Pengaruh Muhammadiyah Kian Bersinar

 

Oleh: Sri Herwindya Baskara Wijaya 

 

Sebagian pihak memberikan pandangan bahwa pengaruh Muhammadiyah saat ini sampai batas tertentu dikatakan memudar. Salah satunya adalah Irsyad Muhammad dalam sebuah tulisannya berjudul “Memahami Memudarnya Pengaruh Muhammadiyah”, 26 Januari 2026 di salah satu portal media online nasional. Tulisannya ini merupakan esai penulis bersangkutan di Stratsea.com - sebuah media dan think thank khusus kajian wilayah Asia Tenggara berbasis di Singapura – pada 31 Juli 2025 berjudul Understanding Muhammadiyah’s Warning Influence.

 

Dalam tulisannya tersebut, dikatakan bahwa pengaruh Muhammadiyah melemah karena alasan bahwa jumlah warga Muhammadiyah mengalami penurunan yang didasarkan atas hasil survei dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA tahun 2023. Hasil survei terkait menyebutkan bahwa jumlah orang yang “menyebut dirinya warga Muhammadiyah” menurun drastis. Survei serupa pada 2005 menunjukkan sebanyak 9,4% responden mengaku berafiliasi sebagai warga Muhammadiyah, namun angka ini turun menjadi 7,8% pada 2014 dan kemudian turun menjadi 5,7% pada 2023.

 

Penulis menyebut dua faktor utama yang membuat pengaruh Muhammadiyah disebutnya melemah yakni terkait pilar modernisme Islam ala Muhammadiyah dan semangat dakwah purifikasi oleh Muhammadiyah. Dalam pengamatannya, pilar modernisme Islam ala Muhammadiyah dikatakan semakin tidak selaras dengan iklim intelektual dan sosio-religius di Indonesia. Menurutnya, diskursus modernitas dulu dianggap sebagai wacana menarik bagi kaum terdidik pra-reformasi karena alasan rasionalitas dan penekanan pada kemurnian agama berbasis teks-teks otoritatif agama. Kini modernisme ala Muhammadiyah, sebutnya, menghadapi kritik dan tantangan epistemis dari sudut pemikiran postmodern dan postkolonial yang berkiblat ke Barat dan eksklusif serta “bias kolonial.”

 

Penulis juga menilai bahwa semangat dakwah purifikatif oleh Muhammadiyah saat ini dipandangnya mengalami moderasi dan kehilangan gairah (missionary zeal) untuk memberantas apa yang disebut praktik TBC (takhayul, bid’ah, churafat). Muhammadiyah yang semula hadir secara raison d’etre (alasan untuk ada) adalah untuk memurnikan ajaran Islam dari praktek TBC kini dipandangnya melunak dan tidak lagi menjadi fokus utama. Orientasi organisasi kini beralih pada pelayanan sosial seperti pengelolaan rumah sakit, sekolah, universitas, panti asuhan, dan lembaga wakaf. Di sisi lain, kelompok Islam transnasional justru terlihat giat, militan dan penuh gairah menentang dan memerangi praktik yang dipandangnya sebagai TBC. 

 

Makin Bersinar 

 

Memang benar apa yang dikemukakan oleh penulis, Irsyad Muhammad, bahwa Muhammadiyah yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan (Syeikh Muhammad Darwis) pada 18 November 1912 adalah wujud dari modernisme yang menggeliat pada awal abad 20. Namun bukan berarti modernisme ala Muhammadiyah saat ini melemah karena justru praksis (teori dan praktik) dan dampaknya yang kian meluas. Hal ini dibuktikan dari spektrum modernisme pengabdian Muhammadiyah pada kemanusiaan yang justru semakin meningkat. Per tahun 2024, Muhammadiyah memiliki memiliki setidaknya 5.345 sekolah/madrasah, 272 perguruan tinggi  (83 universitas, 53 sekolah tinggi dan 136 lainnya).

 

Muhammadiyah memiliki 122 rumah sakit (dengan 20 rumah sakit dalam proses pembangunan), 231 klinik medis, 1.012 amal usaha sosial, 440 pesantren, 300 Baitut Tamkin Muhammadiyah (BTM) dan aset wakaf tanah seluas 214,7 juta m2 di 20.465 lokasi (suaramuhammadiyah.id, 16/11/2024). Muhammadiyah juga punya beberapa lembaga pendidikan di luar negeri seperti Universitas Muhammadiyah Malaysia (UMAM) di Perlis, Malaysia, TK ABA (Aisyiyah Bustanul Athfal) di Kairo, Mesir, Muhammadiyah Australia College I (MAC I) di Melbourne, Australia, Sekolah Quran Lazismu Indonesia I dan II di Beirut, Lebanon dan Sekolah Kemanusiaan di Rakhine State, Myanmar.

 

Secara struktural kelembagaan, Muhammadiyah juga telah tersebar di 38 provinsi (pimpinan wilayah), di 475 kabupaten/kota (pimpinan daerah), di 3.947 kecamatan (pimpinan cabang) dan di 14.670 desa/kelurahan (pimpinan ranting). Muhammadiyah juga memiliki puluhan organisasi keprofesian, komunitas kultural dan ekosistem digital dari serikat dagang hingga komunitas pecinta lingkungan. Citra positif Muhammadiyah di mata publik nasional juga tergolong sangat tinggi yakni mencapai 91% sebagai organisasi Islam yang inklusif, toleran dan berkontribusi nyata bagi bangsa versi hasil survei Litbang Kompas, 8 November 2024. 

 

Berbagai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) saat ini semakin berkembang dan bahkan tidak sedikit AUM yang mengembangkan lini usaha lain sendiri. Salah satunya misal Majalah Suara Muhammadiyah (SM) yang kini punya holding company bernama PT Syarikat Cahaya Media (SCM). Awalnya, SM hanya bergerak di sektor usaha pers cetak namun sekarang mempunyai berbagai lini bisnis dari pers digital dan pers online, percetakan, toko, swalayan, hotel, pariwisata, pergudangan, ritel, travel, peternakan, penelitian dan pengembangan (litbang) hingga kuliner. 

 

Maka tidak keliru jika fenomena ini kemudian memunculkan sebuah tesis bahwa semakin banyak AUM yang berdiri maka semakin banyak pula nilai kemanfaatan yang dirasakan masyarakat luas. Fakta ini pun sejatinya meneguhkan pandangan bahwa pengaruh Muhammadiyah sebenarnya justru semakin bersinar, bukan malah meredup sebagaimana klaim sebagian pihak. Setidaknya tesis ini dilihat dari sudut pandang atas pengaruh Muhammadiyah terhadap pelayanan pada kemanusiaan, bukan dari perspektif dari kuantitas warga Muhammadiyah yang disebut mengalami penurunan versi LSI Denny JA. 

 

Pengaruh Global 

 

Tidak hanya di level nasional, pengaruh Muhammadiyah saat ini di tataran global juga semakin meluas. Sebagai misal keanggotaan Muhammadiyah dalam Permanent Consultative Member of ECOSOC (Economic and Social Council) - salah satu badan utama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di bidang ekonomi dan sosial. Muhammadiyah juga menjadi salah satu Dewan Pengarah (Advirsory Group) dari Central Emergency Response Fund (CERF) PBB melalui Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah juga meraih pengakuan dari World Health Organization (WHO) sebagai tim medis darurat pertama dari Indonesia yang terverifikasi standar internasional

 

Muhammadiyah juga memiliki jaringan kemitraan kemanusiaan global dengan berbagai lembaga internasional seperti USAID, AusAID, Muslim Aid, Unicef, Bill & Melinda Gate, Sant’Egidio, Asian Muslim Charity Foundation (AMCF) dan lain sebagainya. Muhammadiyah juga terlibat dalam International Contact Group (ICG) untuk proses perdamaian di Filipina (Selatan), di Afrika Tengah, dan kemitraan dengan Southern Border Authority di Thailand (Selatan). Pun, Muhammadiyah juga banyak mengirimkan tenaga dan relawan misi kemanusiaan untuk Palestina, Filipina, Lebanon, Turkiye, Sudan, Kenya, Suriah, Myanmar (Rohingnya), Afganistan, Pakistan hingga Bangladesh. 

 

Pengaruh Muhammadiyah juga terlihat dari keterlibatannya dalam berbagai forum dialog lintas iman dan peradaban global seperti Assisi Forum, Sant’Egidio International Forum (SIF), World Peace Forum (WPF), International Network In Engage Buddhist (INEB), Islam–Confucianism Civilizational Dialogue, Jakarta-Vatikan Declaration, World Conference on Religions for Peace (WCRP), Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC), Asian Committee on Religions for Peace (ACRP), Faith and Science: An Appeal for COP26, King Abdullah bin Abdulaziz International Center for Interreligious and Intercultural Dialogue (KAICIID), World Interfaith Harmony Week, International Meeting for Peace Religions and Cultures in Dialog dan berbagai forum lainnya.

 

Muhammadiyah juga terlibat aktif dalam dialog global ukhuwah Islamiyah, sebut saja Intra-Islam Dialogue, Global Conference on Women’s Rights in Islam (GCWRI), International Muktamar of Hidayatu al-Quran fi Bina’ al-Insan, Abu Dhabi Forum for Peace di Uni Emirat Arab, International Union of Muslim Scholars (IUMS), International Conference Women in Islam, International Conference of Al-Suluk al-Hadhari, Wa’yun, Fi’lun, Ta’ayusy, Islamic Unification International Conference, The First International Conference on Religious Extremism, International Conference of Renewal of Islamic Thought, High Level Consultation of World Muslim Scholars On Wasatiyat Islam (HLC-WMS), International Conference on the Unification of The Islamic Calendar, Amman Declaration, Russia-Islamic World Strategic Vision Group Meeting dan berbagai forum lainnya. 

 

Maka, tidak mengherankan apabila Muhammadiyah (bersama Nahdlatul Ulama/NU) meraih penghargaan internasional bergensi yakni Zayed Award for Human Fraternity pada 2024 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA). Pun, beberapa tokoh Muhammadiyah seperti Prof. Dien Syamsuddin, Prof. Syafi’i Ma’arif dan Prof. Haedar Nashir selama bertahun-tahun secara konsisten masuk dalam daftar 500 Tokoh Muslim Paling Berpengaruh di Dunia (The World's 500 Most Influential Muslims) versi lembaga riset independen global asal Yordania, The Royal Islamic Strategic Studies Center (RISSC). 

 

Modernisme Islam ala Muhammadiyah ini juga telah mengantarkan organisasi Islam modernis terbesar asal Indonesia ini menempati peringkat keempat sebagai organisasi keagamaan terkaya di dunia versi Seasia Stats tahun 2025 dengan total aset sekitar Rp 454,24 triliun - Rp 462 triliun. Posisi ini juga menempatkan Muhammadiyah sebagai ormas Islam terkaya di Indonesia dan sekaligus juga terkaya di Dunia Islam. Pengaruh Muhammadiyah di aras internasional juga semakin menguat melalui hadirnya Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) yang kini tersebar di 32 negara di lima benua (Asia, Eropa, Afrika, Amerika, Australia). 

 

Muhammadiyah saat ini juga punya tujuh Sister Organization Muhammadiyah (SOM) yang tersebar di Singapura, Malaysia, Kamboja, Thailand, Timor Leste, Vietnam dan Mauritius. Demikian halnya beladiri pencak silat khas Muhammadiyah yakni Tapak Suci saat ini juga telah tersebar di sedikitnya 24 negara. Seiring waktu, eksistensi PCIM, SOM maupun Tapak Suci ini akan terus berkembang di berbagai negara sehingga kian mengokohkan pengaruh Muhammadiyah di panggung global. 

 

Dakwah Purifikasi 

 

Secara prinsip organisasi, Muhammadiyah sejak awal berdirinya secara jelas menolak segala bentuk praktik yang berkategori TBC (tahayul, bid’ah, churafat). Selain dianggap tidak ada tuntunan yang jelas dan sahih dalam agama, praktik terkait dikhawatirkan dapat mengotori kemurnian tauhid Islam. Muhammadiyah pun secara konsisten mendakwahkan paham Islam murni ini namun dengan mengusung pendekatan moderat. Islam moderat versi Muhammadiyah setidaknya terkonfirmasi dalam tujuh ciri dari karakter Islam Berkemajuan, manhaj resmi Muhammadiyah, yaitu (1) tegas dalam pendirian, luas dalam wawasan dan luwes dalam sikap; (2) menghargai perbedaan pandangan atau pendapat; (3) menolak pengkafiran terhadap sesama muslim. (4) memajukan dan menggembirakan masyarakat; (5) memahami realitas dan prioritas; (6) menghindari fanatisme berlebihan terhadap kelompok atau paham keagamaan tertentu; dan (7) memudahkan pelaksanaan ajaran agama. Islam itu sendiri sesungguhnya adalah agama wasathiyah (tengahan), yang menolak ekstremisme dalam beragama dan sikap sosial baik dalam bentuk sikap berlebihan (ghuluww) maupun sikap pengabaian (tafrith) (Risalah Islam Berkemajuan, 2023). Konsep pemurnian ajaran Islam menurut Muhammadiyah haruslah dipahami secara luas dan mendalam melalui praksis pendekatan bayani (tekstual yang sahih dan kaya makna), burhani (rasional, ilmiah, kontekstual) serta irfani (keruhanian, nurani, ihsan). 

 

Dengan basis teologis komprehensif ini, Muhammadiyah tidak sembarangan menafsirkan ajaran Islam, apalagi terburu-buru menyalahkan pihak lain secara vulgar, keras dan konfrontatif. Namun demikian harus jujur diakui bahwa pendekatan dakwah moderat ala Muhammadiyah ini bagi sebagian pihak baik dari internal Muhammadiyah maupun eksternal Muhammadiyah tidak sepenuhnya bisa diterima dan memilih pendekatan yang dipandangnya “lebih tegas”. Memasuki era reformasi, arah lanskap keberislaman di Indonesia memang mengalami perubahan signifikan dimana beragam kelompok/organisasi Islam tumbuh subur bak cendawan di musim penghujan. Sebagian dari kelompok/organisasi Islam ini secara terang-terangan mengusung model Islam “tegas” yang cenderung melihat situasi/kondisi di lapangan secara “hitam-putih”. 

 

Model Islam “tekstualis” ala Islam transnasional ini ternyata cukup mendapat sambutan hangat dari sebagian umat Islam Indonesia, terutama sekali dari kalangan generasi muda yang sebagiannya “tidak memiliki dasar keagamaan yang memadai”. Model Islam “hitam-putih” ini ternyata banyak disuka oleh para pengagumnya karena dipandang “terasa lebih simpel, lugas, ringkas, cepat, otentik” tanpa harus bercapek-lelah melakukan “dialektika keilmuan”. Padahal dalam pengambilan hukum agama (istinbath) tidak bisa selalu dilihat dengan “kacamata kuda” mengingat kompleksitas kondisi di lapangan. Kehadiran media sosial dan teknologi smartphone membuat model dakwah “skripturalis” ini kian massif di ruang virtual dengan gaya retorika komunikasi para “ustad”-nya yang dianggap “lebih meyakinkan” terutama oleh kalangan awam.

 

Kontemplasi 

 

Meskipun secara pribadi saya tidak sepenuhnya sependapat dengan pandangan penulis, Irsyad Muhammad dan juga sebagian pihak lain yang menyebut pengaruh Muhammadiyah saat ini memudar, namun sebagai sebuah dialektika ide/gagasan, pandangan terkait tetap layak untuk dihormati dan diapresasi. Namun memandang bahwa pengaruh Muhammadiyah saat ini mengalami penurunan hanya karena “parameter kuantitatif” dari hasil survei tertentu agaknya terkesan terlalu menyerhanakan (simplifikasi) persoalan. 

 

Ada parameter lain terutama secara kualitatif yang justru menunjukkan pengaruh Muhammadiyah semakin meningkat baik secara nasional maupun global. Di sisi lain, hasil survei yang dikutip pun sebenarnya masih menyisakan perdebatan di lapangan terutama terkait kritik atas aspek metodologi risetnya. Namun demikian, adanya pandangan penulis terkait dapat menjadi masukan dan kontemplasi (perenungan) bagi Persyarikatan Muhammadiyah agar lebih serius melakukan evaluasi dan perbaikan diri, terutama terkait aspek kaderisasi. Tantangan bagi Muhammadiyah saat ini terasa semakin berat, besar dan kompleks mengingat banyak kelompok/organisasi Islam yang juga secara masif, militan dan penuh gairah melakukan ekspansi diri. 

 

Jika Muhammadiyah tidak serius membentengi diri, maka fenomena “migrasi jamaah” ke kelompok/organisasi lain sangat potensial terjadi dan tentu menjadi kerugian besar bagi Muhammadiyah. Sehingga dengan demikian, penguatan ideologisasi persyarikatan baik secara kualitas maupun kuantitas menjadi hal mutlak untuk dilakukan Muhammadiyah. Harapannya, agar jangan sampai Muhammadiyah diterpa “masuk angin” akibat efek dari “kompetisi ideologis” dengan kelompok/organisasi Islam lain. Semoga. Allahu a’lam

 

Sri Herwindya Baskara Wijaya, Staf Pengajar Prodi S1 Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta

 

 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

107 tahun Pandu Hizbul Wathan: Cinta Alam Indonesia adalah Cinta Tanah Air Penulis: Yudha Kurniawan....

Suara Muhammadiyah

22 December 2025

Wawasan

Menakar (Baik-Buruk) Pemimpin Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Legoso,....

Suara Muhammadiyah

2 January 2025

Wawasan

Amal yang Mencerahkan Oleh: Dr. Jaharuddin, Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Jakarta Dalam tradi....

Suara Muhammadiyah

13 June 2026

Wawasan

Kampung Ramadhan Santri Bersama Masyarakat Oleh: M. Saifudin, Pengasuh Pesantren Modern Muhammadiya....

Suara Muhammadiyah

9 March 2026

Wawasan

Oleh: Tito Yuwono, MSc., PhD Dosen Jurusan Teknik Elektro-Universitas Islam Indonesia Yogyakarta S....

Suara Muhammadiyah

18 May 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah