Buka Munas Satu Abad Tarjih, Haedar Usulkan Pembahasan Fikih Kehidupan
SURABAYA, Suara Muhammadiyah - Ketua Umum PP Muhammadiyah setelah memberikan penghargaan kepada keluarga Mas Mansur juga setelah meluncurkan Chat HPT, dalam Pidato Iftitah pembukaan Munas Satu Abad Tarjih di Surabaya (5 November 2026) mengusulkan beberapa isu untuk dibahas dalam forum Tarjih ini. “Mungkin ke depan perlu dirumuskan,” ujarnya.
Salah satu usulan Haedar adalah fikih kehidupan (fiqhul hayyah) . Menurutnya fikih kehidupan adalah konsep fikih yang bisa memandang kehidupan secara positif. Sebagai tertuang pada Al-Baqarah ayat 29, “Dialah Allah yang menciptakan segala apa di bumi untukmu.”
Termasuk dalam fikih kehidupan ini adalah hal yang berkaitan dengan mengelola sumber daya alam, menjaganya agar tetap baik. Kemudian Haedar mengutip Al-Qasa ayat 77, “"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan."
Menurut Haedar, ayat ini merupakan kosmologi Al-Qur'an tentang kehidupan, dimana Islam memandang kehidupan dengan positif.
“Termasuk untuk mengelola dunia dan seisinya, untuk mengelola alam, dan jangan anti terhadap pengelolaan sumber daya alam,” jelas Haedar.
Sebelumnya, Rektor Umsura Mundakir selalu tuan rumah menyampaikan sambutannya dengan mengutip fillosifi Jawa rawuh (menyambut kedatangan peserta), lungguh (memberikan tempat yang baik untuk Munas) dan suguh (memnerikan jamuan yang sebaik mungkin).
“Ini tradisi yang baik, yang diwariskan oleh para pendahulu kami di Umsura,” ucapnya.
Sementara Ketua PWM Jawa Timur Sukadiono dalam sambutannya memuji tuan rumah dengan mengutip ayat Al-Qur'an al-lail 5-11.
“Orang yang memberikan hartanya di jalan Allah, bertakwa, dan membenarkan adanya pahala terbaik (surga) akan dimudahkan Allah menuju jalan kebaikan dan kemudahan (yusra). Orang yang bakhil/kikir, merasa dirinya cukup, dan mendustakan pahala terbaik akan dimudahkan Allah menuju jalan kesukaran (usra), serta hartanya tidak akan bermanfaat saat ia binasa.”
“Kalau AUM banyak memberi maka ia akan sukses. Kalau AUM pelit, tidak memberi kepada Persyarikatan, maka ia tidak akan mencapai kesuksesan,” ujar Sukadiono.
Turut menambahkan, Ustadi Hamsah Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah berpendapat bahwa filosofi Jawa di atas masih kurang satu, yaitu tuwuh (tumbuh). “Semoga Tarjih bisa terus berkembang,” harapnya.
Ustadi juga melaporkan, bahwa peserta munas ini terdiri dari 320 ulama. “Semoga menghasilkan hal yang luar biasa, sehingga Muhammadiyah berdiri tegak dalam memandu langkah bangsa Indonesia,” tutupnya. (gsh)