Delegasi Sekretariat Parlemen Bangsamoro Pelajari Model Pelayanan Sosial dan Kerelawanan Muhammadiyah

Foto Istimewa
Foto Istimewa

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Sebanyak 11 delegasi Sekretariat Parlemen Bangsamoro Autonomous Region in Muslim Mindanao (BARMM), Filipina Selatan, mengunjungi Kantor Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah di Jakarta, Senin (2/11). Kunjungan ini merupakan bagian dari agenda studi banding untuk mempelajari pengalaman Muhammadiyah dalam pelayanan sosial, pembaruan tata kelola, pemberdayaan masyarakat, serta kemitraan organisasi masyarakat sipil dalam mendorong transformasi sosial.

Rombongan diterima oleh Sekretaris Lembaga Hubungan dan Kerja Sama Internasional (LHKI) PP Muhammadiyah, Yayah Khisbiyah. Dalam pertemuan tersebut, Yayah berbagi pengalaman Muhammadiyah dan 'Aisyiyah, serta pengalamannya sebagai praktisi dan akademisi, dalam mengembangkan pelayanan sosial, pemberdayaan masyarakat, dan kerja-kerja kemanusiaan.

Yayah menjelaskan bahwa salah satu kekuatan Muhammadiyah terletak pada tradisi kerelawanan dan kemandirian masyarakat sipil yang diwujudkan melalui jaringan pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, dan kemanusiaan. Gerakan ini tidak hanya beroperasi di pusat-pusat perkotaan, tetapi juga menjangkau wilayah tertinggal dan kelompok masyarakat yang selama ini belum memperoleh akses pelayanan publik secara merata.

“Para kader Muhammadiyah memberikan sumbangsih berupa dana, tenaga, pikiran, dan waktu untuk perbaikan komunitas. Kekuatan gerakan ini bukan semata-mata terletak pada besarnya institusi, melainkan pada kesediaan warganya untuk hadir, melayani, dan bekerja bersama masyarakat,” ungkap Yayah.

Ia juga berbagi pengalaman tentang pentingnya pemberdayaan perempuan, perlindungan kelompok rentan, serta penguatan kapasitas komunitas agar mampu menghadapi perubahan sosial. Menurutnya, transformasi sosial dan pembaruan kelembagaan perlu berjalan beriringan dengan empati, welas asih, dan daya nalar kritis.

“Pelayanan masyarakat tidak cukup hanya dengan pendekatan administratif dan teknokratis. Kita perlu memahami pengalaman hidup warga, terutama mereka yang berada di posisi marginal. Kebijakan dan inovasi kelembagaan harus memastikan bahwa kelompok yang paling rentan tidak semakin tertinggal, melainkan ikut memperoleh manfaat dan memiliki suara dalam menentukan masa depannya,” tambahnya.

Selain mempelajari pengalaman pelayanan sosial, delegasi juga memperoleh penjelasan mengenai peran Muhammadiyah dalam mendukung proses perdamaian di Bangsamoro. Sejak 2009, PP Muhammadiyah menjadi salah satu anggota International Contact Group (ICG), sebuah mekanisme pendampingan dan dukungan internasional bagi proses perundingan damai antara Pemerintah Filipina dan Moro Islamic Liberation Front (MILF).

ICG memiliki komposisi khas yang mempertemukan empat negara, yaitu Inggris, Jepang, Turki, dan Arab Saudi, dengan empat organisasi nonpemerintah internasional, yakni Muhammadiyah, Conciliation Resources (London), Centre for Humanitarian Dialogue (Jenewa), dan Komunitas Sant'Egidio (Roma). Melalui mekanisme ini, Muhammadiyah turut berkontribusi dalam membangun kepercayaan antarpihak, memberikan masukan, serta mendukung keberlanjutan proses perdamaian.

Keterlibatan tersebut merupakan bagian dari komitmen Muhammadiyah bahwa perdamaian tidak berhenti pada penghentian konflik bersenjata atau penandatanganan kesepakatan politik, tetapi harus berlanjut pada pembangunan kehidupan masyarakat yang lebih adil, inklusif, dan bermartabat.

Peran ICG menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan menuju penandatanganan Comprehensive Agreement on the Bangsamoro (CAB) pada 2014. Hingga kini, dukungan terhadap implementasi kesepakatan tersebut tetap relevan, terutama dalam memperkuat tata kelola pemerintahan, pembangunan sosial, dan keberlanjutan perdamaian di Bangsamoro.

Dalam rangkaian kunjungan studi banding selama beberapa hari di Jakarta, delegasi juga mengunjungi sejumlah Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), antara lain Rumah Sakit Islam Jakarta (RSIJ) Cempaka Putih. Kunjungan tersebut memberikan kesempatan bagi delegasi untuk melihat secara langsung praktik pelayanan kesehatan dan kontribusi organisasi masyarakat sipil dalam melengkapi pelayanan publik.

Kepala Delegasi, Jehan Diron Alangca-Madid, mengapresiasi kontribusi Muhammadiyah dalam pelayanan sosial, kesehatan, dan pendidikan.

“Kami sangat terinspirasi dengan kontribusi luar biasa Muhammadiyah dalam pelayanan sosial, kesehatan, dan pendidikan,” ujarnya.

Jehan secara khusus menyoroti semangat kerelawanan warga Muhammadiyah yang dinilainya menjadi kekuatan penting dalam melayani masyarakat.

“Hal yang paling menarik bagi saya adalah semangat kerelawanan para anggota Muhammadiyah dalam melayani masyarakat,” tuturnya.

Ia berharap pengalaman dan praktik baik Muhammadiyah dapat menjadi bahan pembelajaran bagi penguatan kelembagaan dan pelayanan masyarakat di Bangsamoro. Ia juga membuka peluang pengembangan hubungan dan kerja sama melalui pertukaran pengalaman serta kunjungan pada masa mendatang.

Menanggapi harapan tersebut, Yayah menyambut baik peluang mempererat hubungan Muhammadiyah dengan masyarakat dan institusi di Bangsamoro. Menurutnya, pengalaman kedua masyarakat dapat menjadi sumber pembelajaran timbal balik, baik dalam pembangunan sosial maupun penguatan perdamaian.

“Kita sama-sama belajar karena kita saudara serumpun dan diikat oleh satu kemanusiaan. Semoga hubungan ini tidak berhenti pada kunjungan studi banding, tetapi berkembang menjadi kolaborasi nyata untuk memperkuat pelayanan masyarakat, pemberdayaan, dan perdamaian yang berkelanjutan,” pungkasnya.