Integrasi Trilogi FAI UMTAS: Keislaman, Keilmuan, dan Kemanfaatan untuk Pendidikan Bermakna
Oleh: Pandu Pribadi, S.Si., M.Pd., Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya
Berdirinya Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (UMTAS) bukan sekadar bertambahnya sebuah fakultas dalam struktur kelembagaan perguruan tinggi. Lebih dari itu, kehadiran FAI merupakan sebuah ikhtiar akademik untuk menghadirkan pendidikan Islam yang mampu menjawab perubahan zaman tanpa kehilangan akar nilai-nilai Islam.
Di tengah perkembangan teknologi, perubahan sosial, dan kompleksitas persoalan kehidupan masyarakat, pendidikan Islam menghadapi tantangan yang semakin beragam. Perguruan tinggi Islam tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang memahami teks-teks keagamaan. Lulusan juga perlu memiliki kemampuan membaca realitas, berdialog dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta menghadirkan solusi yang berorientasi pada kemaslahatan umat.
Atas dasar pemikiran tersebut, FAI UMTAS merumuskan visi: “Menjadi Fakultas Agama Islam yang unggul dalam studi Islam, dengan pendekatan keilmuan yang terintegrasi, serta bermanfaat bagi umat dan bangsa yang berlandaskan nilai-nilai Islam.”
Visi ini bagi saya bukan sekadar rangkaian kata yang indah dalam dokumen kelembagaan. Ia merupakan kompas yang akan menentukan ke mana FAI UMTAS bergerak dan seperti apa lulusan yang ingin kita lahirkan.
Salah satu gagasan penting yang menjadi pijakan FAI UMTAS adalah integrasi keilmuan. Kita perlu keluar dari cara pandang yang mempertentangkan ilmu agama dengan ilmu umum.
Pemikiran Prof. Dr. M. Amin Abdullah tentang integrasi-interkoneksi keilmuan memberikan perspektif penting bahwa berbagai disiplin ilmu semestinya tidak berdiri dalam ruang yang terpisah. Ilmu agama dan ilmu umum dapat berdialog, bekerja sama, dan saling memperkaya dengan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai landasan normatif.
Dalam konteks FAI UMTAS, gagasan tersebut menjadi sangat relevan. Pendidikan Islam harus mampu berdialog dengan sains, teknologi, ekonomi, manajemen, pendidikan, bahkan perkembangan kecerdasan buatan.
Mahasiswa Pendidikan Agama Islam, misalnya, tidak cukup hanya memahami metodologi pembelajaran agama. Mereka juga perlu memahami bagaimana teknologi dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, bagaimana informasi keagamaan disampaikan di ruang digital, serta bagaimana membangun karakter peserta didik di tengah derasnya arus informasi.
Demikian pula mahasiswa Manajemen Bisnis Syariah harus mampu memahami prinsip-prinsip ekonomi dan bisnis sekaligus membaca perkembangan industri halal. Mahasiswa Manajemen Haji dan Umroh perlu memahami aspek keislaman sekaligus profesionalisme layanan. Sementara mahasiswa Manajemen Pendidikan Islam harus mampu memadukan kepemimpinan pendidikan, tata kelola lembaga, inovasi, dan nilai-nilai Islam. Dengan demikian, integrasi keilmuan bukan slogan. Ia harus menjadi budaya akademik.
Islam yang Berdialog dengan Realitas
Studi Islam juga tidak boleh berhenti pada ruang teoritis. Islam harus hadir dalam kehidupan nyata dan mampu memberikan jawaban terhadap persoalan masyarakat.
Pemikiran Zakiyuddin Baidhawy tentang studi Islam kontemporer menekankan pentingnya integrasi antara khazanah keislaman dan metodologi ilmiah modern. Pendekatan tersebut juga berkaitan dengan pendidikan Islam yang inklusif, dialogis, menjunjung keadilan, toleransi, dan penyelesaian konflik secara damai.
Gagasan tersebut memberikan pesan penting bagi FAI UMTAS: mahasiswa harus dibiasakan untuk melihat Islam dalam konteks kehidupan yang nyata dan beragam.
Kampus harus menjadi ruang pembelajaran yang mendorong mahasiswa untuk bertanya, berdialog, meneliti, berdiskusi, dan menemukan solusi. Perbedaan tidak harus menjadi sumber perpecahan, tetapi dapat menjadi energi untuk memperkaya perspektif dan memperkuat tradisi akademik.
Karena itu, pendidikan Islam yang kita bangun harus melahirkan pribadi yang kokoh dalam keyakinan, luas dalam wawasan, terbuka dalam dialog, dan matang dalam menyikapi perbedaan.
Pertanyaan penting berikutnya adalah: untuk apa ilmu dikembangkan?
FAI UMTAS memilih untuk menempatkan kemanfaatan bagi umat dan bangsa sebagai bagian penting dari visinya. Artinya, keberhasilan akademik tidak hanya dilihat dari banyaknya lulusan atau publikasi, tetapi juga dari sejauh mana ilmu memberikan dampak bagi masyarakat.
Gagasan Kuntowijoyo tentang Ilmu Sosial Profetik memberikan inspirasi mengenai tiga orientasi penting ilmu, yaitu humanisasi, liberasi, dan transendensi. Ilmu harus memanusiakan manusia, membebaskan dari berbagai bentuk ketidakadilan, serta tetap memiliki keterhubungan dengan nilai ketuhanan.
Perspektif tersebut sejalan dengan arah FAI UMTAS yang menempatkan riset dan pengabdian masyarakat sebagai bagian penting dari pengembangan fakultas.
Karena itu, riset dosen dan mahasiswa semestinya tidak hanya berakhir di rak perpustakaan atau jurnal ilmiah. Penelitian harus sedapat mungkin membaca persoalan nyata yang dihadapi masyarakat dan menghasilkan pengetahuan atau solusi yang dapat dimanfaatkan.
Begitu pula pengabdian kepada masyarakat harus berbasis kebutuhan dan data, bukan sekadar kegiatan seremonial. Inilah yang dimaksud dengan menjadikan ilmu sebagai jalan kemanfaatan.
AIK sebagai Ruh, Bukan Sekadar Identitas
Sebagai bagian dari Universitas Muhammadiyah, FAI UMTAS memiliki tanggung jawab untuk menjadikan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) sebagai ruh dalam seluruh aktivitas akademik.
Dokumen FAI UMTAS menempatkan nilai-nilai AIK sebagai landasan Catur Dharma. Nilai tersebut diharapkan tidak hanya hadir dalam mata kuliah tertentu, tetapi terinternalisasi dalam pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan kehidupan akademik.
AIK dengan demikian bukan sekadar identitas kelembagaan. Ia harus tercermin dalam cara berpikir, cara bekerja, cara memimpin, cara melakukan penelitian, dan cara mahasiswa mengabdikan ilmunya.
Kita ingin membangun lulusan yang memiliki kompetensi sekaligus integritas; memiliki kecakapan profesional sekaligus akhlak; mampu bersaing secara global sekaligus memiliki kepedulian terhadap persoalan umat.
FAI UMTAS memiliki empat program studi: Pendidikan Agama Islam, Manajemen Pendidikan Islam, Manajemen Haji dan Umroh, serta Manajemen Bisnis Syariah. Masing-masing memiliki karakter dan kompetensi lulusan yang spesifik.
Namun, keempatnya memiliki satu titik temu: menghadirkan sumber daya manusia yang profesional, kompeten, berintegritas, dan berlandaskan nilai Islam.
PAI diarahkan menghasilkan pendidik agama Islam yang mampu mengintegrasikan Islam dengan sains dan teknologi. MPI diarahkan menghasilkan pengelola dan pemimpin lembaga pendidikan Islam yang profesional dan inovatif. MHU mempersiapkan tenaga profesional layanan haji dan umroh yang amanah dan kompeten, sedangkan MBS diarahkan menghasilkan praktisi dan wirausahawan bisnis syariah yang inovatif dan berintegritas.
Arah tersebut menunjukkan bahwa FAI UMTAS ingin mempersiapkan lulusan untuk menghadapi dunia yang terus berubah.
Tantangannya tentu tidak ringan. Visi yang baik harus diterjemahkan menjadi kurikulum yang relevan, pembelajaran yang inovatif, riset yang produktif, pengabdian yang berdampak, tata kelola yang profesional, serta kemitraan yang luas. Lima misi FAI UMTAS telah memberikan arah pada aspek-aspek tersebut.
Sebagai fakultas yang sedang membangun fondasi, FAI UMTAS memiliki kesempatan untuk menanamkan budaya akademik sejak awal.
Kita tidak sedang sekadar membangun gedung, program studi, atau struktur organisasi. Kita sedang membangun tradisi keilmuan.
Tradisi yang diharapkan tumbuh adalah tradisi membaca, meneliti, berdialog, berinovasi, berkolaborasi, dan mengabdi. Tradisi yang menjadikan Islam sebagai sumber nilai sekaligus membuka ruang dialog dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
Pada akhirnya, keberadaan FAI UMTAS harus dapat dirasakan manfaatnya. Manfaat itu hadir melalui lulusan yang berkualitas, penelitian yang relevan, pengabdian yang berdampak, kerja sama yang produktif, serta kontribusi nyata bagi perkembangan masyarakat.
Amin Abdullah memberikan kerangka integrasi keilmuan, Zakiyuddin Baidhawy memperkuat dimensi metodologis dan nilai kemanusiaan dalam studi Islam, sedangkan Kuntowijoyo memberikan orientasi agar ilmu diarahkan pada kemaslahatan dan transformasi sosial. Ketiganya menjadi inspirasi yang saling melengkapi bagi arah pengembangan FAI UMTAS.
Maka, membangun FAI UMTAS sesungguhnya adalah membangun sebuah ikhtiar: menghadirkan pendidikan Islam yang tidak terjebak pada dikotomi ilmu, tidak tercerabut dari nilai agama, dan tidak berhenti pada teori.
FAI UMTAS ingin menempatkan ilmu sebagai jalan untuk memahami kehidupan, nilai Islam sebagai kompas dalam mengambil keputusan, dan kemanfaatan sebagai tujuan akhir. Sebab pada akhirnya, ilmu yang unggul adalah ilmu yang mampu menerangi; ilmu yang terintegrasi adalah ilmu yang mampu menjembatani; dan ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mampu menghadirkan kemaslahatan bagi umat dan bangsa.

